Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Strategi Investasi Saham BP Jamsostek (BPJS)

El Heze

Pernahkah anda terpikir, darimana perusahaan-perusahaan jasa seperti perusahaan asuransi, perusahaan jamsostek (BPJS) bisa bertahan dalam jangka panjang dan memutar modalnya? Ya, salah satunya melalui INVESTASI SAHAM. Perusahaan asuransi, jamsostek juga mengelola dana buat investasi.


Tentu saja untuk sekelas perusahaan, mereka mampu melakukan investasi saham. Di dalam perusahaan, juga pasti terdapat orang-orang ahli yang bertugas untuk meracik portofolio investasi supaya modal yang "diputar" di investasi saham ini bisa membuahkan profit jangka menengah hingga panjang. 

Saya sebenarnya sudah cukup lama memperhatikan strategi investasi salah satu perusahaan layanan pemerintah yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek. 

Berbagai berita, sumber-sumber saya pelajari mengenai bagaimana cara BP Jamsostek mengelola modal dalam investasi saham. Karena saya beberapa kali melihat komposisi portofolio BP Jamsostek, saya jadi tertarik untuk mempelajari dan merangkum strategi-strategi investasi yang diterapkan. 

Setelah saya rangkum, dalam meracik portofolio investasi saham, BP Jamsostek memiliki strategi-strategi investasi sebagai berikut: 

1. Beli saham yang lagi lesu tapi banyak diminati (prospek)

BPJS membeli saham yang sektornya lagi lesu, tapi sektor bisnisnya banyak diminati, sehingga ketika kondisi ekonomi sudah pulih, atau sektor usahanya yang pulih, saham-saham ini pasti akan naik lagi. 

Beberapa portofolio BPJS antara lain PT Astra Agro Lestari (AALI), PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP). Keduanya adalah perusahaan di sektor sawit, di mana sektor sawit sedang lesu karena terkena imbas ekonomi yang lesu, tetapi prospek sektor ini cukup cerah. 

Minyak kelapa sawit sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga ketika ekonomi membaik, sektor sawit ini punya potensi besar untuk pulih. Di masa pandemi, BP Jamsostek juga memiliki portofolio saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). 

GIAA adalah perusahaan di sektor penerbangan, di mana sektor penerbangan adalah sektor yang pasti akan dibutuhkan masyarakat, dan kembali ramai lagi ketika kondisi pandemi sudah berakhir atau minimal saat new normal, industri penerbangan akan membaik.  

2. Averaging down 

Saham-saham yang memiliki kinerja baik, sektornya prospek namun masih lesu, akan dilakukan AVERAGING DOWN ketika harga sahamnya turun. Jadi dalam investasi, tidak banyak melakukan cut loss hanya karena saham lagi turun. 

BP Jamsostek melakukan averaging down pada saham-saham sektor sawit, yaitu AALI dan LSIP. Kalau anda perhatikan tren AALI dan LSIP dalam 1-2 bulan belakangan ini, memang harga sudah turun, tetapi masih belum ada kekuatan untuk memulai tren bullish yang baru. 

3. Diversifikasi investasi 

BPJS tidak hanya investasi di satu saham, namun melakukan diversifikasi. Diversifikasi disini bukan hanya diversifikasi saham, tetapi juga diversifikasi sektor. Dengan diversifikasi sektor dan saham, hal ini juga akan meminimalkan risiko investasi.

4. Beli saham yang fundamentalnya baik / minimal market leader 

Kalau kita perhatikan saham-saham yang dibeli BPJS, BPJS selalu membeli saham yang fundamentalnya bagus, beli market leadernya langsung (Di sektor sawit AALI dan LSIP adalah market leader. Di sektor penerbangan, GIAA termasuk market leadernya). 

Atau minimal BPJS investasi pada saham yang perusahaannya sudah dikenal di masyarakat. Jadi portofolionya diisi oleh saham perusahaan yang jelas, baik secara brand image maupun kinerja dan sektornya.  

BP Jamsostek sebenarnya juga memiliki diversifikasi pada saham-saham yang likuiditas-nya agak rendah. Namun untuk saham-saham yang likuiditasnya agak rendah, akan diprioritaskan untuk dijual terlebih dahulu. 

Ada tiga saham yang sempat dijual oleh BP Jamsostek untuk meracik kembali portofolio-nya, yaitu saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). 

Saham yang likuiditasnya lebih rendah akan diprioritaskan untuk dijual dan diganti dengan portofolio saham lain yang lebih bagus, supaya bisa diversifikasi risiko. 

5. Anti cut loss 

Satu strategi investasi unik BP Jamsostek adalah ANTI CUT LOSS. BPJS tidak boleh melakukan cut loss. Strategi investasi yang diterapkan adalah dengan mengurangi porsi saham, yaitu menjual saham ketika sudah ada yang untung.

Dan saham-saham yang diprioritaskan untuk dijual merupakan saham-saham yang likuiditasnya rendah terlebih dahulu (Seperti yang kita bahas pada poin sebelumnya). 

Setelah mengurangi porsi saham, BPJS baru akan menambah jumlah saham jika diperlukan, dan membeli saham-saham yang sektornya bagus. Strategi averaging down akan diterapkan apabila harga saham turun. 

STRATEGI INVESTASI BPJS: PELAJARAN PENTING UNTUK INVESTOR 

Strategi investasi ini bisa anda adopsi buat para investor saham. Sebagai investor, pasti modal kita tidak sekuat perusahaan BJPS. BPJS pasti bisa lakukan averaging down berkali-kali. Kalau anda investor ritel dengan modal terbatas, averaging down yang anda terapkan pasti jauh lebih terbatas. Tetapi ada beberapa strategi investasi penting yang bisa kita terapkan:

1. Beli saham yang jelas 

Kunci keberhasilan investasi saham, adalah membeli saham yang jelas: Saham yang fundamental baik, saham yang sektornya diminati, saham yang sektornya prospek.

Salah satu penyebab investor saham mengalami kerugian adalah karena membeli saham hanya karena ikut-ikutan, beli saham karena lagi banyak dibicarakan, padahal secara fundamental masih rugi. Kita pernah bahas juga salah satu contohnya disini: Analisis Jangka Panjang Saham BEKS.

2. Tidak terburu cut loss hanya karena saham turun  

Investor berbeda dengan trader. Investor orientasinya adalah jangka panjang. Jadi kalau saham yang anda beli turun, anda tidak disarankan untuk langsung cut loss. Pentingnya membeli saham yang kinerjanya baik atau sektornya bagus, adalah untuk meminimalkan risiko saham jatuh terus.

Karena ketika anda membeli saham yang fundamental dan sektornya lagi lesu tapi diminati, cepat atau lama harga saham akan lebih mudah balik. Strategi averaging (sesuai kemampuan) juga perlu diterapkan untuk investor, supaya anda bisa mendapatkan saham di harga yang bagus ketika lagi turun / koreksi. 

Sebagai bahan referensi belajar analisa fundamental, anda juga bisa perdalam materi-materi analisa fundamental buat investasi jangka panjang disini: Belajar Analisis Fundamental Saham + Bedah Analisa Laporan Keuangan.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.