88 Tanggapan untuk "Tanya Jawab"

  1. Bagai mana cara yang tepat, untuk menjual saham yg mines?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf pak, maksud pertanyaan bapak: menjual saham minus selama beberapa hari (cut loss) atau menjual saham minus yang sudah disimpan sampai berbulan-bulan?

      Kalau maksud bapak melakukan cut loss hanya untuk saham yang disimpan beberapa hari, maka cara yang "paling tepat" adalah menentukan titik support kuatnya. Misal: support kuat terdekat 1.500 (jika jebol di support kuat), maka titik cutloss-nya ada di 1.500...

      Kalau maksud bapak menjual saham yang disimpan berbulan-bulan (nyantol lama), maka lebih baik jual saham jika kerugian sekitar 40-50% dan kalau perusahaan prospeknya sudah sangat2 jelek. Kalau sudah rugi terlalu banyak, hingga menghabiskan dana Anda sebaiknya biarkan saja. Toh, saham Anda nggak dijual nggak apa2. Oleh karena itu, saya selalu katakan bahwa cut loss itu sangat penting dala trading supaya saham nggak nyangkut.

      Tapi sekali lagi cara paling tepat itu relatif sekali ya Pak... Karena setiap saham polanya beda-beda, sehingga menjual saham yang minus analisisnya juga subjektif

      Delete
    2. bagaimana penentuan titik support dan resistance ? apakah penentuan titik ini berlaku untuk semua sektor atau hanya beberapa saja?

      Delete
    3. 1. support res bisa ditentukan dg menarik garis atas/ bawah yang terdekat dari harga saham. bisa juga langsung menarik garis yang agak jauh, tapi titik support dan res nya paling sering dilalui..

      2. Menentukan titik support dan resisten berlaku untuk semua sektor. Biasanya support resisten lebih sering digunakan untuk saham2 spesifik, atau prediksi IHSG, kalau menentukan support dan resisten untuk sektor (misalnya sektor FINANCE saja) jarang.

      Delete
  2. mau tanya, bagaimana pandangan anda terhadap SCMA ? sedang dalam downtrend karena bad news, tp secara fundamental dan teknikal bagaimana analisanya ? terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. SCMA saya agak pesimis dengan teknikalnya, apalagi kalau jebol ke 2.600... Saya pernah rekomendasi SCMA pakai buy on support dan naik sampai 3.200, tapi kelihatannya momentum itu sudah habis...

      Untuk SCMA, saya saran jangan masuk dulu..

      Delete
  3. Gimana Pak tanda-tanda suatu saham akan ditarik keatas saat jam bursa berlangsung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara melihatnya yaitu dengan mengamati % kenaikannya pada jam2 awal antara 09.00 - 09.15. Saham2 yang di awal2 sesi sudah naik sekitar 2% biasanya akan diangkat, terutama saham2 lapis tiga. DSFI saham lapis 3, pernah diawal sesi sudah naik 3%, ternyata 30 menit kemudian naik sampai 8% lebih. Ditambah lagi, Jika di awal2 sesi, sudah banyak sekali order bid ketimbang offer, itu bisa jadi harga saham akan diangkat

      Untuk saham LQ45 lebih enak lagi karena kita sudah bisa lihat tanda2nya pada sesi pre-opening (08:45 - 08:55). Kalau pada sesi tsb harga sahamnya banyak antrian bid dan ternyata di sesi tersebut katakanlah harga sudah melonjak sampai 2%, maka itu adalah tanda2 saham akan diangkat saat jam bursa.

      Tapi perlu diingat, semua itu bukanlah rumus. Kita tidak tahu pasti sampai jam berapa harga saham akan diangkat terus. Bisa saja saham2 yang ada tanda akan naik di satu haru perdagangan, ternyata waktu closing harganya malah turun. Dan sebaliknya, bisa saja harga saham yang di awal perdagangan turun, ternyata di waktu closing malah naik.

      Delete
  4. Nanya lagi Pak Heze Saham, saham apa saja saat ini yg. menurut Bapak cocok untk. ditahan selama 1 tahun (invest).Maaf Pak newbie, terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk sekarang Saya lebih memilih WKST dan JSMR... Dasarnya adalah pembangunan infrastruktur yang berjalan lebih baik. Dan banyak proyek2 WSKT yang saat ini sedang aktif.. WSKT harga sahamnya sideways, ada potensi menuju 1.800. Dari sisi laporan keuangan, keduanya punya fundamental yang bagus

      #Disclaimer On

      Delete
    2. Terimakasih sekali Bapak Heze Saham atas jawabannya.

      Delete
  5. Maaf Bapak semoga tdk.bosan, mau nanya lagi : saham-saham bluechip yang manakah yg. hampir dipastikan terbebas dari aksi penggorengan, ato saham apa sajakah yang selama ini selalu murni mekanisme pasar asli, tidak ada campur tangan kekuatan modal badman yg. mampu mengatur arah gerakan pasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saham2 blue chip seperti GGRM, UNVR, BBRI, BBCA tidak akan bisa dipermainkan bandar seperti saham2 lapis 3, katakanlah DSFI, PRAS, TAXI yang sangat mudah digoreng karena sangat tidak likuid. Yang bisa naik 18% dalam beberapa menit kemudian besok turun 15%... Sedangkan saham blue chip kenapa susah digoreng? Karena kapitalisasi pasarnya besar.

      Tapi perlu Anda ketahui, bahwa pasar modal itu digerakkan oleh berbagai orang yang punya kepentingan. pergerakan harga saham dibentuk karena kekuatan supply dan demand, sehingga sesedikit apapun itu, setiap saham pasti ada yang "menggerakkan". Dalam arti, katakanlah ada institusi atau perusahaan sekuritas yang membeli saham tertentu dalam jumlah yang sngat besar, sehingga sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga saham tertentu.

      Delete
  6. Dimana Bapak kita bisa melihat data kapitalisasi pasar setiap saham blue chip, dan mulai kisaran berapa kapitalisasi pasar dari sebuah saham itu diperkirakan tidak bakalan mampu dipermainkan bandar, bahkan bandar kelas kakap sekalipun. Terima kasih Bapak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada ukuran pasti sampai kisarn berapa kapitalisasi pasar yang tidak akan mampu dipermainkan... Biasanya, untuk melihat mudah / tidak digoreng saham tersebut, bisa nampak dari grafik dan volumenya..

      Kalau ingin lihat kapitalisasi pasar khsusus daftar blue chip, tidak ada.. daftar saham blue chip yang baku seperti LQ45 tidak ada, karena saham blue chip atau tidak bisa jadi penilaiannya subjektif..

      Tapi kalau Anda ingin lihat kapitalisasi pasar LQ45 (ada beberapa LQ45 yang juga blue chip, spt UNVR, BBRI) bisa lihat di situs Britama

      http://www.britama.com/index.php/2015/07/daftar-saham-indeks-lq-45-periode-agustus-2015-januari-2016/

      Delete
    2. Selamat siang Bapak, terima kasih jawabannya sangat membantu. Kemudian saat kita melihat grafik Bapak, apakah kita bisa nyimpulkan langsung saat itu atau harus ngamati lebih dulu, lalu berapa lama sebaiknya ngamati? Selain itu juga pingin tau cara membedakan antara volumenya institusi sekuritas yg. sedang membeli dlm. jmlh. sangat besar untuk keperluan bisnis wajar jauh dari niatan menggoreng dibandingkan dengan volume besar yg. memang niatnya utk. menggiring dan menggoreng.

      Delete
    3. 1. tentu harus mengamati dahul. bahasa kerennya: analisis. Terutama kalau Anda mau trading 3 bulan, butuh analisis yang lebih jeli.

      2. Berapa lama, itu tergantung Anda. Trading harian pasti membutuhkan waktu analisis yang lbh cepat ketimbang trading bulanan. Untuk trading harian, terkadang tidak membutuhkan waktu lama untuk analisis, karena sekali lihat grafik ketika semua indikator menunjukkan sinyal buy, maka kita bisa langsung menyimpulkan...

      3. Insitusi sekuritas pasti membeli dalam jumlah besar. Namanya aja institusi. Hehehe.. Tidak mungkin beli 10 lot spt investor ritel. Sehingga sulit membedakan yang mana yang mau nggoreng dan tidk. Kalau ada institusi sekuritas yang berniat menggoreng, biasanya akan muncul di berita ekonomi, karena setiap kegiatan di Bursa pasti diawasi olwh BEI. contoh: kasus menggoreng saham SIAP

      Delete
  7. Saya liat grafik saham KARL, kenapa harganya jatuh, apakah bisa naik lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf Pak Iskandar, kode saham KARL tidak ada di BEI.. mungkin yang ANda maksud kode saham KARK atau KARW?

      Delete
    2. Iya maaf, maksud saya KARW.

      Delete
    3. Menurut pandangan saya, KARW secara fundamental tidak tergolong perusahaan yang bagus, dan secara likuiditas sahamnya, volume tergolong tipis..

      Di pasar modal, saham2 seperti demikian seringkali harganya anjlok, selain karena tidak dilirik investor, dari sisi psikologi investor lebih menyukai saham2 blue chip

      Delete
  8. Salam kenal Pak, Saya mau tanya, dulu tahun 1995 bapak Saya sempat membeli saham salah satu bank syariah di Indonesia, sampai saat ini bank tersebut masih ada. Saham nya ada sekitar 1500 lembar. Yang mau saya tanyakan, apa yg sebaiknya dilakukan ya Pak? Sejak tahun 1995 sampai sekarang bapak Saya tidak pernah dapat dividen. Apa sebaiknya saham tersebut dijual? Setau sy skrg saham sudah scriptless ya Pak? Kalo saham bapak saya tsb mau di convert ke scriptless caranya bagaimana? Atau diredeem ke bank yg bersangkutan (tapi setau sy saham tidak bisa di redeem ya Pak?) mohon pencerahannya ya Pak, karna bapak saya bingung ini saham mau diapain? Apa ada nilainya apa tidak? Soalnya dulu waktu beli memang difasilitasi perusahaan tempat dia bekerja dulu (sekarang perusahaannya sudah tidak ada)

    ReplyDelete
  9. salam kenal juga. Bisa Bu. Saham dengan warkat Anda bisa dikonversikan menjadi scriptless dengan cara menghubungi Biro Administrasi Efek (BAE) di kantor sekuritas...

    Namun perlu Anda ketahui, jika ingin menjadikan saham scriptfull --> scriptless Anda harus membuka akun rekening efek terlebih dahulu

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. O iya satu lagi saya lupa menjawab.. Saham warkat Anda bisa dikonversi jadi scriptless kalau perusahaan bank tersebut masih go public, kalau sudah tidak go public kemungkinan besar tidak bisa dikonversi, jadi sudah tidak ada nilainya lagi (tidak bisa dijual).

      Setiap prusahaan public harusnya punya biro administrasi efek.

      Delete
  10. Selamat siang pak. Saya Tine Vebri mahasiswa semester akhir yg sedang menempuh skripsi,kebetulan skripsi saya tentang saham lebih tepatnya stock split. Saya ingin menanyakan bahwa ada salah satu buku yaitu Fahmi (2012) menyatakan bahwa alasan manajer perusahaan melakukan stock split salah satunya Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen. Maksud dari kalimat itu apa ya pak kira-kira, peningkatan laba dan dividen yg seperti apa bagi perusahaan jika melakukan pemecahan saham. Mohon sekali bantuannya pak,karena kalimat inilah saya tidak bisa melanjutkan ke bab bab selanjutnya karena belum bisa menjelaskan secara rinci kepada dosen pembimbing dan dosen penguji saya. Mohon sekali jawabannya.
    Jika berkenan saya tunggu di email saya (tinevebri61@gmail.com) jika tidak bisa tidak apa apa,jawaban bapak saya tunggu disini. Terimakasih banyak dan selamat pagi.

    ReplyDelete
  11. Selamat siang pak. Saya Tine Vebri mahasiswa semester akhir yg sedang menempuh skripsi,kebetulan skripsi saya tentang saham lebih tepatnya stock split. Saya ingin menanyakan bahwa ada salah satu buku yaitu Fahmi (2012) menyatakan bahwa alasan manajer perusahaan melakukan stock split salah satunya Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen. Maksud dari kalimat itu apa ya pak kira-kira, peningkatan laba dan dividen yg seperti apa bagi perusahaan jika melakukan pemecahan saham. Mohon sekali bantuannya pak,karena kalimat inilah saya tidak bisa melanjutkan ke bab bab selanjutnya karena belum bisa menjelaskan secara rinci kepada dosen pembimbing dan dosen penguji saya. Mohon sekali jawabannya.
    Jika berkenan saya tunggu di email saya (tinevebri61@gmail.com) jika tidak bisa tidak apa apa,jawaban bapak saya tunggu disini. Terimakasih banyak dan selamat pagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Tine Vebri,

      Kebetulan juga skripsi saya dahulu membahas tentang corporate action, hanya saja saya bukan membahas stock split. Tapi landasan teorinya sama saja: Signalling theory. Kalimat Fahmi (2012): "Alasan manajer perusahaan melakukan stock split salah satunya Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen", jawabannya ada kaitannya dnegan SIGNALLING THEORY

      kata Informasi bisa diartikan sebagai sinyal kepada investor (signaling theory)

      Artinya begini: manajemen menyatakan stock split dapat meningkatkan fundamental (laba dan dividen) karena perusahaan ingin memberikan sinyal (informasi) pada investor bahwa:

      1. Hanya perusahaan yang punya kinerja bagus saja yang mampu melakukan stock split. Stock split butuh biaya yang besar, antara lain biaya adminsitrasi penerbitan saham, sehingga perusahaan yang kinerjanya jelek tidak akan mampu melakukan stock split.

      2. Dg stock split kinerja fundamental perusahaan memang benar2 bagus, yang tercermin dari kenaikan harga saham yang pesat. (perusahaan yang berfundamental bagus, seperti BBCA, BBRI lihatlah harga sahamnya yang terus naik) dan kenaikan harga saham itu masih akan terus naik dimasa mendatang. Kenaikan harga saham akibat bagusnya fundamental perusahaan dijadikan sebagai "ajang pamer" pada investor dengan stcok split, yang seolah2 manajemen ingin mengatakan: "Kita akan melakukan stock split karena harga saham kita sudah mahal investor2 ku (mahal means kinerjanya bagus, jadi sahamnya naik terus).. Kita stock split, karena laba naik terus sehingga harga saham juga naik."

      Jadi Stock split adalah indikasi keyakinan manajemen bahwa prospek perusahaan masa mendatang akan lebih baik. Kalau prospek perusahaan lebih baik, artinya? Tentu saja, akan terjadi PENINGKATAN DIVIDEN DAN LABA. Peningkatan dividen dan laba akan memberikan investor2 untuk berinvetasi (kesempatan investasi) pada perusahaan yang melakukan stock split tersebut.

      Begitulah penjelasan saya

      Delete
  12. Terimakasih sebelumnya atas respon yg cepat dan jawaban yg sangat membantu saya.
    Begini...dulu dosen penguji saya juga menanyakan hal seperti ini pak...
    pada dasarnya stock split itu kan hanya mengurangi nilai nominal saham dan menambah jumlah lembaran saham. Otomatis dgn adanya stock split kan membuat investor tertarik untuk membeli saham tsb, jika investor sudah membeli saham tsb maka peningkatan dividen dan laba yg seperti apa menurut perusahaan? Apakah setiap penjualan saham itu akan menghasilkan laba dan dividen pak? Bukankah dari penjualan saham tsb perusahaan hanya dapat "dana pinjaman" saja...bukan mendapatkan laba dan dividen. Mohon maaf sebelumnya pak atas pertanyaan yg mungkin membingungkan bapak,btw saya sendiri juga sangat bingung. Terimaksih semoga berkenan untuk menjawab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Saya kurang sepaham dengan pertanyaan dosen Anda diatas: jika investor sudah membeli saham tsb maka peningkatan dividen dan laba yg seperti apa menurut perusahaan?

      2. Apakah setiap penjualan menghasilkan laba dan dividen?

      Tidak.

      Transaksi jual beli saham (trading) dan investasi seluruhnya dilakukan di pasar reguler, yang hanya melibatkan para trader dan investor saja, tidak ada campur tangan emiten. Jadi, tidak ada hubungannya jika Anda beli saham kemudian laba emiten meningkat...

      Justru laba dan dividen perusahaan yang meningkat, yang bisa mempengaruhi harga saham...

      Delete
    2. besarnya laba perusahaan ditentukan dari kinerja emiten, bukan dari jual beli saham investor.
      Laba naik, ada potensi dividen juga naik, tapi dividen juga tergantung kebijakan pada RUPS...

      Delete
    3. Terimakasih sekali bapak atas jawabannya dan saya rasa saya juga setuju dengan hal tersebut. 
      Jika saya boleh tanya satu lagi pak,saya ingin bertanya begini pak...
      Penelitian saya kan tentang analisis harga saham dan likuditas perdagangan saham sebelum dan sesudah stock split pak. Harga saham disini maksud penelitian saya ialah tingkat permintaan dan penawaran dimana perusahaan yg melakukan stock split dipastikan memang harga nominal saham rendah dan harga saham meningkat. Hasil penelitian saya menunjukkan jika harga nominal saham saya memang turun setelah adanya stock split,lalu bagaimana cara menentukan harga saham saya meningkat atau tidak bapak? Padahal yg saya teliti yg saya gunakan disini kan hanya data closing price saja dimana hanya menunjukkan penurunan harga nominal saja,lalu bagaimana saya bisa menunjukkan jika harga saham saya naik atau turun? Maksudnya apakah ada perhitungan yg lain atau bagaimana. Padahal hipotesis saya ada peningkatan harga saham setelah stock split, bukan penurunan harga nominal saham. Saya bingung pak...apakah jika hasil penelitian menunjukkan harga nominal saham rendah dipastikan harga saham nya meningkat? Tolong kesediaan waktu untuk menjelaskan pak. Terimakasih banyak. Selamat malam.

      Delete
    4. Artinya penelitian Anda menguji:

      APakah terdapat perbedaan harga saham sebelum dan sesudah stock split? Dan hipotesis Anda menyatakan TERDAPAT PERBEDAAN, dan perbedaan itu ditunjukkan dengan kenaikan harga saham setelah stock split... Lalu, bagaimana cara mengujinya? Caranya yaitu dengan:

      1. Abnormal return (AR)
      2. Trading Volume Activity (TVA).

      Silahkan ANda tanya mbah google,, ada banyak sekali penelitian aksi korporasi menggunakan AR, dan TVA.. Kalau saya jelaskan disini, bisa sangat panjang...

      Intinya TVA dan AR Anda mengambil 5 hari sebelum stoc split (T-5), saat stock split (T0) dan setelah stock split (T+5), lalu Anda uji pakai alat statistik, apakah pada hari rentang perioda stock split ada perbedaan antara sebelum dan sesudah..

      Catatan: Perioda waktu tidak harus 5 hari sebelum dan sesudah, bisa 10 hari, bisa 30 hari... Kalau penelitian saya menggunakan perioda waktu 5 hari... Namun, perioda waktu jangan terlalu panjang.. Untuk menentukan perioda waktu AR dan TVA, ANda bisa lihat penelitian terdahulu atau tanya dosen pembimbing Anda..

      Delete
    5. hasil uji penelitian Anda nanti BELUM TENTU terdapat peningkatan harga saham antara sebelum dan sesudah stock split.. Bisa saja malah turun atau bisa saja malah nggak ada perbedaan.. Kalau ternyata terdapat peningkatan (ditunjukkan dengan hasil uji statistik yang signifikan positif), artinya hipotesis ANda benar.. Implikasi penelitiannya seperti yang sudah saya utarakan panjang lebar mengenai signaliing theory..

      Kalau ternyata tidak teruji?

      Ya berarti investor memang tidak merespon pengumuman stock split.. Mungkin ada hal2 lain. Kalau memang tidak teruji implikasinya bisa jadi: pengumumuman stock split tidak dianggap investor dapat meningkatkan kinerja perusahaan, karena investor menilai bahwa kinerja perusahaan nggak ditentukan dari SS, tapi dari kinerja perusahaan itu sendiri.

      Delete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Terimakasih atas jawabannya pak.
    begini memang hipotesis saya : adakah perbedaan dan harga saham akan meningkat setelah stock split.
    Memang terdapat perbedaan pak sebelum dan sesudah.
    Berarti untuk menentukan apakah harga saham mengalami kenaikan atau tidak dengan menggunakan TVA?
    Apakah harga nominal saham tersebut tepatnya closing price nya dikalikan dengan jumlah saham beredar? Baru bisa diketahui hasil dari peningkatan atau penurunan harga saham?
    Kebetulan untuk proksi ukuran likuditas saham saya menggunakan TVA. Apakah cukup dengan menggunakan hasil uji dari likuiditas saham (TVA) yg menyatakan jika terdapat perbedaan sebelum dan sesudah stock split dan likuiditas meningkat. Dengan meningkatnya likuiditas tersebut APAKAH otomatis harga saham saya juga naik tanpa menggunakan perhitungan lagi? Atau memang tidak bisa sehingga saya harus menghitung sendiri kenaikan/penurunan harga saham tersebut menggunakan TVA?
    demikian. Terimakasih dan semoga berkenan menjawab pak. Selamat pagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Respon perbedaan bisa ada 2: direspon positif (saham naik) atau negatif (saham turun)..

      1. Untuk menentukan apakah harga saham mengalami kenaikan atau tidak Menggunakan: Abnormal return. TVA digunakan untuk melihat kenaikan/ penurunan volume/ melihat semakin likuid atau tidak. TVA tidak digunakan untuk melihat harga saham naik dan tidak sebelum dan setelah..

      2. Kalau penelitian Anda cuma ingin lihat likuiditas, TVA saja sudah cukup Tapi pada umumnya, uji corporate action selalu menggunakan AR dan TVA.. karena uji corporate action pada akhirnya akan menyimpulkan 2 hal:

      1. Melihat likuiditas perdagangan --> TVA
      2. Melihat apakah ada kenaikan / penurunan harga saham signifikan --? AR

      3. Meningkatnya likuiditas tidak serta merta otomatis berarti harga saham pasti naik. Mengapa? Karena likuiditas adalah terkait volume, jumlah trader yang antri di bid-offer. Sedangkan harga saham ya harga yang terbentuk akibat permintaan dan penawaran pasar. Bisa saja volume naik, harga malah turun. Bisa saja volume turun harga malah naik, bisa saja volume naik tapi harga malah nggak berubah .. Berarti kalau mau lihat lagi kenaikan dan penurunan, Anda harus hitung sendiri menggunakan abnormal return (AR)

      Delete
    2. Sebelumnya terimakasih pak atas jawban kemarin tentang informasi laba dan dividen,dosen saya menerima jawaban tsb dgn baik.
      Sehubungan dgn hal diatas...begini pak...
      apakah perhitungan harga saham itu hanya bisa digunakan dgn mnggunakan Abnormal Return saja? Atau kah ada yg lainnya...
      saya membaca sebuah buku yg menyatakan : pengukuran tingkat harga pasar saham dapat dilakukan dgn membandingkan harga saham sebelum stock split dgn hasil perbandingan antara nilai nominal saham sebelum stock split dgn nominal saham sesudah stock split atau yg disebut sbg harga pasar saham relatif. Apakah harga saham relatif itu dapat digunakan untuk mencari harga saham sebuah perusahaan pak?
      Kemudian, jika untuk perhitungan abnormal return saya mengalami kesulitan seperti ini...
      Saya mendapatkan data harian abnormal return itu di website BEI ataukah di web lainnya?
      Karena untuk mendapatkan data saham harian itu yg saya ketahui hanya di yahoo finance dan di situ yg tercantum kan hanya daftar harga saham penutupan saja pak. Lalu untuk data abnormal return kira2 dimana ya pak?
      Saya cari cari di internet tentang penelitian harga saham (abnormal return) masih mengalami kesulitan karena disamping saya bingung mencari data tsb saya jg masih bingung tentang kegunaan abnormal return itu sendiri.
      Mohon maaf sebelumnya jika saya banyak bertanya pak,jujur saya bingung harus bertanya ke siapa lagi krn dosen2 pembimbing saya tidak menguasai tentang invetasi. Semoga berkenan menjawab pak dan terimakasih.

      Delete
    3. 1. Setau saya, untuk mengukur naik tidaknya harga saham pada aksi korporasi hanya dilakukan menggunakan AR...

      2. Apakah harga saham relatif itu dapat digunakan untuk mencari harga saham sebuah perusahaan? Jawaban: Ya

      3. AR datanya harus Anda olah sendiri, yaitu dari data harga saham perusahaan yang bisa Anda dapatkan di Yahoo Finance menggunakan closing price...

      Setelah menemukan Average AR, itulah yang Anda masukkan kedalam uji statistik

      Jika Tine Vebri ingin tahu ttg AR, bisa lihat penelitian pasar modal saya:
      https://jurkubank.files.wordpress.com/2015/03/18314335344_tarsisius-renald-suganda.pdf

      Penelitian yang membahas AR sebenarnya sangat banyak.. Tidak harus dari stock split, bisa dari dividen, right issue yang penting Anda menemukan rumus AR dan cara menghitungnya

      Delete
    4. Terimakasih pak untuk jawabannya.
      Begini pak ini data saya kan sangat banyak...apakah aplikasi excel dapat digunakan untuk menentukan Average AR pak??
      Kemudian....jika menghitung manual apakah prosesnya seperti ini:
      1. Menentukan Normal Return (Mean Adjust Model)
      2. Menghitung Abnormal Return
      yaitu dgn actual return - normal return?
      3. Kemudian baru Average AR
      yaitu Abnormal return : N
      dari ketiga proses tsb apakah ada cara cepatnya ya bapak? Mungkin bapak pernah tau.
      Mohon sekali bantuannya pak. Ini data harian saham nya sudah ada semua lalu bingung untuk mengitung Average AR nya bapak. Terimakasih banyak pak.

      Delete
    5. Pak sama mau tanya juga...
      untuk perhitungan yg likudiitas dgn TVA itu...Hari pada saat pengumuman stock split itu apa perlu diolah juga datanya? Soalnya dosen saya dulu bilang jika data hari 0 pada saat pengumuman jika tidak penting tidak usah dimasukkan. Bagaiamana menurut bapak? Apakah data hari 0 itu digunakan sbg patokan untuk membandingkan sebelum dan sesudah stock split? Terimakasih

      Delete
    6. 1. Aplikasi Excel bisa digunakan untuk menghitung... Kalau tidak pakai Excel, mau pakai apa lagi? Hehehe.

      2. Betul,proses menghitung AR adalah seperti itu. Cara cepatnya tidak ada, karena Urutan2 menghitung AR rumusnya memang seperti demikian.

      3. T0 (hari pengumuman) justru merupakan hari yang paling penting. Kalau saya kurang setuju: "data hari 0 pada saat pengumuman jika tidak penting tidak usah dimasukkan". Mengapa T0 paling penting? Karena T) adalah hari pengumuman. Saya tanya pada Tine Vebri: Misalkan tanggal 10 Juni adalah tanggal pengumuman kelulusan Anda. Tanggal mana yang paling penting: tanggal 10 Juni, tanggal 7 Juni, atau tanggal 14 Juni? Tentu saja yang paling penting adalah tanggal 10 Juni. Itulah mengapa T0 perlu dimasukkan. Bagaimana mungkin T0 tidak dimasukkan padahal T0 adalah tanggal pengumuman itu sendiri. Hasil uji yang bagus justru kalau reaksinya ada pada T0, karena reaksi yang bagus harusnya ada pada saat tanggal pengumuman itu sendiri. Kalau reaksi ada setelah tanggal pengumuman, berarti "efek lanjutannya" masih ada... Jadi, ketika Anda masukkan di uji statistik, T0 tetap disertakan. Ini saran saya, nggak tahu lagi dosen pembimbing Anda.

      Nah, terkait T0 tadi, kembali ke ilustrasi pengumuman lulus tadi. Tanggal 10 Juni tiba2 Anda dinyatakan lulus. Anda teriak senang, menangis bahagia. Teriak dan bahagia Anda, Anda ekspresikan tanggal 10 Juni waktu tanggal pengumuman atau tanggal 11 Juni? Kalau Anda dinyatakan lulus tanggal 10 Juni, tapi baru teriak bahagia tanggal 11 juni tentu saja agak terlambat bukan?

      Delete
  15. Terimakasih pak atas jawabannya hehehe
    Pak misal perusahaan X harga saham nya sebagai berikut:
    H-5 = 570
    H-4 = 580
    H-3 = 580
    H-2 = 550
    H-1 = 560
    H0 = 320
    H+1 = 320
    H+2 = 316
    H+3 = 317
    H+4 = 300
    H+5 = 290

    Caranya kan seperti ini ya pak:
    1. Normal return = 570+580+580+550+560+316+315+317+300+290
    = 4378/10 (total hari) = 437,8
    2. Abnormal return =
    (Pt-Pt-1): Pt-1 = ???
    Untuk Pt dan Pt-1 ini yang dihitung untuk hari ke berapa ya pak?
    Apakah setiap hari dari H-5 sampai H+5 masing2 harus dihitung satu per satu seperti ini? Jika iya, untuk H-5=570 itu kan nnt dikurangi harga hari sebelumnya namun datanya kan tidak ada ya pak itu bagaimana?
    3. Untuk average AR = AR : jumlah sample
    maksud dari jumlah sample ini :
    a. Apakah total sample perusahaan saya yaitu 40 sample??
    b. Apakah jumlah hari dikali total sample yaitu 10 hari x 40 perusahaan= 400
    c. Atau apakah jumlah hari untuk setiap perusahaan yaitu 10 hari pak???
    Semoga berkenan untuk membantu. Terimakasih banyak pak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Iya betul caranya seperti itu.

      2. Perhitungan dihitung satu per satu... Untuk H-5, berarti Anda harus cari data H-6 untuk perhitungan T-5.. Saya lupa beritahu.. Jadi pada uji ini, data perhitungan ANda yang akan cukup memakan waktu. Tetapi implikasi penelitian Anda tidak seberapa susah kalau topik Anda corporate action

      3. Jawabannya B... Namun yang benar bukan hari X perusahaan, tetapi tahun penelitan X perusahaan, Misalnya penelitian Anda tahun 2012-2015, berarti 4 tahun x 40 perusahaan = 160. 160 itu adalah sampel / data / N, bukan perusahaan. perusahaannya tetap 40. Kemudian, AAR dihitung untuk setiap per hari.. Jadi ada AAR t-1 sendiri, AAR t-2 sendiri... Misalnya: Tahun 2009-2012 AAR t-1 sendiri, kemudian tahun 2009-2012 AAR t-2 sendiri dan seterusnya..

      Delete
  16. Terimakasih pak atas jawabannya...
    Pak saya ingin bertanya lagi,
    Jadi untuk tahun 2012-2015 itu setiap perusahaan memiliki AAR t-5 sampai t+5 masing2 ya pak??
    Ini saya sudah melakukan perhitungan. Tetapi,saya menemukan jika keseluruhan data saya itu memiliki ARR setiap perusahaan yg hampir sama dari t-5 sampai t+5 padahal setelah saya amati closing price sebelum stock split dan sesudah stock split itu berbeda lo pak,mnurut bapak bagaimana dg hal sperti ini? Perhitungan excell saya jg sudah saya cek semua.
    Kemudian, jika nantinya saya ingin hasil penelitian yg menyatakan bahwa HARGA SAHAM perusahaan saya Meningkat setelah stock split, apakah nilai abnormal return dalam perhitungan spss itu LEBIH BESAR setelah stock split drpd nilai sebelum SS ??? ataukah sebaliknya?
    Kemudian yg terakhir, nilai AAR yg menunjukkan tanda negatif itu artinya apa ya pak ???
    Semoga bapak berkenan untuk meluangkan waktu menjawab pertanyaan saya lagi. Terimakasih pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Tidak. t-5 sampai t+5 untuk semua tahun digabung.. Jadi, Anda perlu mencari perusahaan2 yang melakukan pemgumuman SS selama perioda 2012-2015, kemudian dari situ Anda cari AARnya selama 4 tahun trsebut.

      2. Jika Anda menemukan kasus AAR hampir sama dan closing berbeda itu wajar. Yang penting Anda sudah menurut sesuai perhitungan Anda. Dan yang terpenting adalah uji statistiknya nanti.

      3. Harga saham meningkat signifikan menurut statistik--> ada AR positif. Positif misalnya terdapat AR sebesar 0.7 , 0.8 dll. Perlu Anda ketahui kalau Anda menggunakan AR, maka Anda harus menyimpulkan per hari: t-5 sendiri, t-4 sendiri sampai pada t+5. Jadi tidak bisa Anda gabung sebelum dan sesudah secara langsung seperti TVA. Karena kalau Anda menguji AR, Anda harus menguji return, artinya Anda harus menguji per hari. Artinya: bisa saja t-4 terdapat abnormal return +, tapi t+2 terdapat abnormal return -. Atau t-4 terdapat AR+, tapi T+1 - T+5 malah nggak ada reaksi sama sekali. Itu implikasinya bisa berbeda... Jadi harus Anda uji terlebih dahulu.

      Ini yang perlu Anda garis bawahi: Pokoknya kalau ANda menguji AR: Suatu uji dikatakan SIGNIFIKAN apabila ada MINIMAL satu hari saja terdapat AR, tidak peduli terdapat AR pada t-5, t-4 atau AR nya ada pada t+4 atau ARnya di T+0.. Pokoknya kalau ada AR di perioda pengamatan, maka sudah dikatakan signifikan dan terbukti. Hanya implikasinya yang mungkin akan berbeda.

      4. AAR negatif artinya pasar merespon jelek pengumuman stock split. Artinya: SInyal negatif (signalling theory). AR negatif menunjukkan harga saham justru malah turun pada saat / sebelum / sesudah pengumuman, karena pasar menganggap bahwa: Stock split hanyalah motif perusahaan untuk menutupi kinerjanya yang buruk dengan cara melakukan SS. Atau, bisa saja investor lebih suka perusahaan tidak melakukan SS, dan lebih suka agar emiten menggunakan dananya untuk mengembangkan kinerjanya

      Delete
    2. Terimakasih bapak untuk jawabannya.
      Setelah saya amati semua perhitungan saya:
      1. Perhitungan saya yaitu masing2 setiap perusahaan (40perusahaan) saya hitung masing2 setiap harinya antara lain nilai dari CAR, Ractual, AR dan ARR (dgn nilai N 160).
      Apakah artinya ini perhitungan saya salah pak untuk ARR nya pdahal seperti yg bapak sampaikan diatas jika nilai ARR itu digabung menjadi 1 selama 4 tahun jdi cuman ada t-5 sampai t+5 sebanyak satu kali saja, pdahal perhitungan saya setiap perusahaan saya cari juga nilai ARR nya...brati salah dong pak?hehehe dan semua nilai ARR nya itu menunjukkan negatif pak perhitungan saya:(
      Kemudian jika memang harus digabung pak untuk mencari HASIL ARR, nilai AR yg menjadi pembilang itu didapat darimana pak ? Saya kok masih bingung mencari keseluruhan AR gabungan yg bapak maksud...
      Dan yg terakhir, ternyata nilai AR masing2 setiap perusahaan saya dr mulai t-5 sampai t+5 semua perusahaan hasilnya ternyata negatif pak,ataukah mungkin ada yg salah dgn rumus saya,mohon dgn sangat bapak berkenan untuk membantu nge cek...berikut salah satunya:
      Perusahaan ALMI :
      t-5 = 570
      T-4 = 580
      T-3 = 580
      T-2 = 550
      T-1 = 560
      T0 = 320
      T+1= 316
      T+2= 315
      T+3 = 317
      T+4 = 300
      T+5 = 290
      Kemudian perhitungannya:
      1. CAR = jumlah semua hari : 10 = 437,8
      2. Ractual t+1 = (316-560):560 = -0,43571
      3. AR t+1 = Ractual- CAR = -0.43571 - 437,8 = -438,236
      4. N = 160
      ARR t+1 = AR : N = -438,236 : 160 = -2,73897.
      Ternyata nilai AR dan ARR setiap perusahaan (sebanyak 40) menunjukkan jika semua nilainya negatif pak, saya kok curiga ada kesalahan dgn memasukkan rumus ini ditambah dgn jawaban bapak diatas jika ARR selama 4 tahun itu digabung yg membuat kecurigaan saya semakin kuat jika ada kesalahan. Mohon sekali bantuannya bapak....saya tidak tau lagi harus bertanya dgn siapa krn dosen investasi saya dulu juga sangat sulit untuk dimintai bantuan. Terimakasih banyak pak.

      Delete
    3. 1. T-5 s/d t+5 digabung menjadi 1 untuk setiap tahun karena kalau Anda pisah, hasil penelitian Anda tidak bisa mewakili skripsi Anda. Padahal penelitian Anda harus bisa menyimpulkan secara global reaksi investor, kalau penelitian Anda dipisah, apa bedanya Anda meneliti tahun 2012-2015, dengan meneliti tahun 2013 saja?..

      2. saya kurang paham nilai pembilang AR yang Anda maksud. Bisa tolong diperjelas lagi?

      3. Untuk apa menghitung ARit menggunakan CAR? PErhitungan CAR Anda juga salah, tidak perlu Anda bagi 10 CAR adalah cummulative AR, jadi hanya dijumlahkan saja.. Untuk lebih jlasnya silahkan lihat rumusnya lagi disini:

      https://jurkubank.files.wordpress.com/2015/03/18314335344_tarsisius-renald-suganda.pdf

      kalau nilainya ttap negatif berarti ya memang reaksinya negatif... apakah sudah Anda uji statistik? Kalau nilainya negatif tetapi secara statistik tidak signifikan, artinya sama saja tidak ada reaksi..

      Delete
    4. Assalamualaikum bapak sebelumnya minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.
      Maaf jika baru bisa balas skrg, begini pak saya sudah melakukan semua perhitungan.
      Hasil perhitungan saya menunjukkan AR sesudah pengumuman stock split memang terjadi peningkatan namun masih bertanda negatif artinya stock split direspon negatif ya pak?
      Kemudian di pembahsan bab 5 saya mengalami kesulitan untuk memaparkan tentang faktor2 yg menyebabkan harga saham perusahan turun setelah stock split, kira2 selain faktor kandungan informasi yg lemah, kepemilikan investor, adanya peristiwa mikro makro, karakteristik perusahaan...selain itu apalagi ya pak yg menyebabkan harga saham perusahaan turun??
      Sebelumnya saya ingin bertanya, jika abnormal return saya negatif sesudah SS apakah itu artinya harga saham perusahaan dapat dikatakan turun ya pak?
      Terimakasih semoga berkenan menjawab. Selamat sore

      Delete
    5. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal aidzin wal faizin.

      1. Peningkatan bertanda negatif = penurunan harga saham. Yang jadi pertanyaan saya pertama: Harga saham perusahaan turun, tetapi secara statistik apakah penurunannya signifikan / tidak? Kalau ternyata tidak signifikan secara statistik (meskipun turun), artinya stock split TIDAK DIREAKSI INVESTOR. Tapi kalau signifikan secara statistik, artinya stock split DIRESPON NEGATIF/ BAD SIGNAL.

      Kalau trnyata nggak signifikan secara statistik, berarti implikasinya di bab 5, Anda tidak bisa mengatakan bahwa terjadi kandungan informasi negatif.

      2. faktor2 yg menyebabkan harga saham perusahan turun setelah stock split semua harus bersumber dari teori induk Anda: Teori sinyal. Jadi kalau memang direspon negatif signifikan, maka implikasinya di bab 5, yaitu seperti yang saya paparkan sebelumnya:

      Terdapat kandungan informasi negatif. Artinya: pasar menganggap bahwa: Stock split hanyalah motif perusahaan untuk menutupi kinerjanya yang buruk dengan cara melakukan SS. Atau, bisa saja investor lebih suka perusahaan tidak melakukan SS, dan lebih suka agar emiten menggunakan dananya untuk mengembangkan kinerjanya

      Saya justru lebih menyarankan Anda untuk mmemberi pembahasan sesuai dengan teori induk Anda. Jadi pembahasannya nggak ngelantur kemana2.. Sebenarnya bisa2 saja Anda menjelaskan selain teori sinyal, misalnya: harga saham kebanyakan turun tahun 2015 (thn penelitian ANda). IHSG saja sudah turun 10% lebih selama tahun 2015, karena perekonomian lesu, perekonomian China melemah, Yunani krisis. Sehingga menekan harga2 saham turun terus..

      Tetapi kalau Anda menjelaskan seperti itu, jadinya nggak nyambung dengan teori sinyal yang sudah anda paparkan di bab landasan teori. Semua tergantung lagi ke dosen pembimbing Anda, apakah dosen Anda ingin di bab 5 Anda menjelaskan faktor2 lainnya, atau tidak.

      Lagian, saya ingin bertanya kembali: memangnya kepemilikan investor, karakteristik perusahaan dapat mempengaruhi stock split? Teorinya dari mana?

      3. jika abnormal return negatif sesudah SS harga saham dikatakan turun hanya apabila secara statistik hasilnya signifikan. Kalau tdk signifikan, artinya tidak ada perubahan (tidak naik, tidak turun).

      Delete
  17. 1.Dari hasil uji statistik menunjukkan jika hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai sig2tailed yaitu 0000 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah stock split. Lalu untuk menunjukkan penurunan secara signifikan atau tidak bagaimana pak? Nilai mean untuk AR sebelum -0,00425 dan mean sesudah -0,00235.
    2. Mengacu kepada pertanyaan bapak poin kedua, teori nya memang belum saya temukan alur perjalananan teori sinyal hingga sampai ke titik tersebut, namun saya berpendapat bahwa untuk kepemilikan investor : jika sebenarnya SS itu hanya menurunkan nilai nominal saja sedangkan saldo modal dan laba ditahan tetap sama, dan SS tidak memiliki nilai ekonomis karena saham tersebut hanya dipecah menjadi beberapa saja akan tetapi nilainya kan tetap hanya jumlah saham nya yang lebih banyak untuk itu investor kurang tertarik untuk memiliki karena menganggap kurang menguntungkan sehingga harga saham turun. Kemudian untuk karakteritik perushaan, dimana semisal karakteristik perusahaan itu masuk ke perusahaan minyak ya pak, kan ini harga minyak kan cenderung turun ini menyebabkan investor kurang tertarik untuk melakukan transaksi saham di perusahaan tsb akibatnya penurunan harga saham. Terimaksih

    ReplyDelete
  18. 1. Untuk menguji AR tidak menggunakan paired sample t test, tetapi pakai one sample t test. Karena AR uji statistiknya per hari mulai t-5 sampai t+5, jadi setiap t akan punya hasil signifikansi sendiri2. Jadi, untuk AR bukan dihitung rata2nya lalu diuji pakai paired. Kecuali kalau TVA baru pakai paired.

    Jika probabilitas > 0,05 --> H0 diterima
    Jika probabilitas < 0,05 --> H0 ditolak

    Untuk lebih jelasnya kalau ingin lihat contoh tabel dari hasil uji statistik AR< bisa lihat disini halaman 339.
    https://jurkubank.files.wordpress.com/2015/03/18314335344_tarsisius-renald-suganda.pdf

    2. Nah, ini yang mau saya garis bawahi, Anda mengatakan: tidak memiliki nilai ekonomis. tidak memiliki nilai ekonomis artinya sama dengan tidak memiliki kandungan informasi. Kalau tidak memiliki kandungan informasi artinya harusnya tidak ada reaksi, sehingga harga saham tidak naik dan tidak turun (secara statistik tdk signifikan). Berarti untuk alasan kepemilikan investor tidak bisa Anda masukkan di pembahasan bab 5, kecuali jika hasil penelitiannya tidak ada reaksi, maka implikasinya bisa jadi benar, salah satunya ya seperti yang Anda katakan .

    Minyak cenderung turun untuk penelitian tahun Anda ya... Karena 2016 ini saham2 pertambangan banyak yang rebound. Kalau boleh tahu sampel perusahaannya apa saja yang Anda dapat?

    Penjelasan Anda: harga minyak cenderung turun ini menyebabkan investor kurang tertarik untuk melakukan transaksi saham perusahaan tsb akibatnya penurunan harga saham. BOleh2 saja alasan tersebut, dan memang sebelum harga minyak pelan2 rebound, saham2 pertambangan sebelumnya anjlok. Dan sebenarnya penjelasan Anda bisa dikaitkan dengan teori sinyal: Investor menganggap SS hanya salah satu cara perusahaan untuk menutupi prospek perusahaan pertambangan yang buruk, karena investor tahu bahwa kenyataannya harga minyak justru terus turun dan perusahaan menutup2inya dnegan aksi korporasi SS. Investor sadar bahwa penurunan harga minyak akan "memperjelek: laporan keu perusahaan2 minyak. Jadi, harga sahamnya jadi turun.

    Akan lebih baik kalau sedikit bekerja keras lagi untuk mencari laporan keuangan perusahaan2 minyak (khsusus sampel penelitian Anda), khsusunya untuk tahun penelitian Anda. Lalu, Anda lihat tren laba bersih perusahaan2 minyak, apakah memang secara tren labanya turun. Dari situ, Anda bisa buat grafik trennya di laporan bab 5 Anda, sehingga dapat memperkuat bukti dari hasil penelitian.

    ReplyDelete
  19. selamat malam pak... bagaimana kita menentukan periode estimasi selama 121 hari pada saham harian? dalam 1 tahun...
    dimulai dari bulan berapa pak -111 hari sebelum dan 10 sesudah.... pada bulan berapa kita menentukan t0-nya pak... apakah menentukannya menggunakan rumus atau dimulai dari bulan 1,,, saya kurang paham dengan hal ini pak? terimakasih

    ReplyDelete
  20. Menentukan perioda estimasi tergantung dari penelitian aksi korporasi Anda. Misalnya pengumuman dividen hari pengumuman atau T0nya adalah 5 Agustus. Maka Anda tarik 121 hari kebelakang untuk menentukan perioda estimasi sejak T0 tersebut.

    ReplyDelete
  21. Selamat sore bapak saya ingin bertanya.
    Pada dasarnya stock split itu akan menyebabkan harga saham perusahaan akan meningkat ya pak, ada buku yg menjelaskan bahwa harga saham akan kembali turun jika perusahaan tidak mengumumkan adanya kenaikan laba. Yang saya tanyakan adalah untuk mengetahui perusahaan tidak mengumumkan adanya kenaikan laba itu dimana ya pak, siapa tau bapak tau salah satu perusahaan yg tidak mengumumkan kenaikan laba itu perusahaan apa ya pak...saya mencari di web mana2 gak ketemu pak sedangkan dosen saya meminta untuk membuktikan data perusahaan yg tidak mengumumkan kenaikan laba...mohon bantuannya pak terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat sore,

      Biasanya SS cenderung membuat harga saham meningkat di awal2 perdagangan. Tetapi, untuk membuktikan hasil yang akurat memang harus dilakukan uji statistik (one sample t test).

      Saya kurang paham dengan pernyataan Anda: "harga saham akan kembali turun jika perusahaan tidak mengumumkan adanya kenaikan laba." Apakah yang Anda maksud: Perusahaan2 yang mengumumkan penurunan laba dibandingkan perioda sebelumnya? Atau mungkin yang Anda maksud: perusahaan2 yang tidak menyampaikan laporan keuangan tepat waktu?

      Kalau yang Anda maksud perusahaan2 yang mengumumkan penurunan laba dibandingkan perioda sebelumnya maka Anda harus melihat sendiri dari laporan keuangan di web IDX. Masalahnya, kalaupun Anda menemukan (dan pasti ada banyak) dan Anda ingin membuktikan apakah harga saham akan turun saat perusahaan mengumumkan penurunan laba jawabannya: Belum tentu. Para trader dan investor tidak hanya melihat laba dalam trading / investasi. Karena di pasar modal ada banyak sekali faktor yang bisa mempengaruhi harga saham, bukan hanya laba yang diumumkan secara kuartal atau tahunan.

      SAngat mungkin harga saham perusahaan turun kalau laba perusahaan turun, tetapi TIDAK SELALU.

      Demikian juga kalau Anda disuruh membuktikan sebaliknya: Saat perusahaan mengumumkan kenaikan laba, belum tentu laba perusahaan akan serta merta naik. Ada harga saham emiten yang naik saat laba naik tetapi ada juga yang tidak terpengaruh. Demikian juga saat laba turun.

      Delete
  22. Baik pak terimakasih.
    Pertanyaan yg saya maksud begini pak, dimana saya menemukan perusahaan stock split yg tidak mengumumkan adanya kenaikan laba (setelah SS)? Jika di IDX, pilihan menu yg sebelah mana atau saya harus melihat masing2 laporan tahunan sampel perusahaan saya pak?
    Saya bertanya seperti ini karena saya mengalami kendala di bab 5 pembahasan saya, dimana variabel harga saham (abnormal return) hasilnya menunjukkan penurunan sesudah stock split. Kemudian di bab 5 saya paparkan alasan2 apa saja yg menyebabkan penurunan, salah satunya saya menyebutkan karena perusahaan tidak mengumumkan adanya kenaikan laba setelah bebrapa bulan melakukan stock split, saya mengambil alasan demikian karena banyak buku yang menyebutkan jika harga saham perusahaan akan kembali turun tidak berselang lama ketika perusahaan tidak mengumumkan kenaikan laba kepada investor secara tepat waktu. Begitu pak makanya saya mengambil alasan tersebut, jika menurut pandangan bapak bagaimana? Apakah itu bisa dijadikan alsan penurunan harga saham perusahaan pak?. Terimakasih dan selamat malam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda harus melihat masing2 laporan tahunan per sampel perusahaan, karena di IDX tidak terdapat pengumuman spesifik spt itu.

      Untuk dapat laporan keuangan IDX, silahkan baca pos:
      http://www.sahamgain.com/2016/07/cara-mendapatkan-laporan-keuangan.html

      Nah itu pemaparan yang kurang mendukung, karena kalau Anda bilang seperti itu maka juga harus dibuktikan dengan data. Nggak ada salahnya, tapi coba lihat dulu apakah LK emiten2 sampel Anda memang menunjukkan penurunan laba. Cara melihat apakah laba emiten memang turun tidak, Anda harus membuat grafik trennya dan tampilkan di pembahasan...

      silahkan dicoba dahulu, kalau sudah ketemu hasilnya silahkan datang kembali ke blog ini..

      Yang saya masih kurang paham adalah kata2 ini: "perusahaan tidak mengumumkan kenaikan laba kepada investor secara tepat waktu". Itu artinya bisa dobel. Pertama: perusahaan tidak mengumumkan kenaikan laba artinya perusahaan mengumumkan penurunan laba. Kedua, tidak secara tepat waktu artinya perusahaan tidak menyampaikan LK (kewajiban) ke Bursa sampai deadline yang diberikan.

      Mungkin yang dimaksud adalah perusahaan mengumumkan penurunan laba (tidak perlu pakai "secara tepat waktu").

      Delete
  23. Setelah saya amati ternyata perusahaan sampel saya mengumumkan kenaikan laba pak. Jadi untuk bab V tentang hal tsb saya hilangkan.
    Kemudian saya ganti dgn harga nominal saham sesudah ss dianggap terlalu rendah sehingga hal ini menjadi salah satu penyebab harga saham menurun. Karena ada salah satu buku yg menyatakan jika harga nominal saham baru setelah ss terlalu rendah menyebabkan investor akan berfikir jika sebenarnya keadaan perusahaan tsb kurang baik sehingga mencoba memberikan sinyal palsu kepada investor. Kemudian yg saya tanyakan adalah menurut bapak harga nominal saham dianggap terlalu rendah itu berkisar berapa pak? Atau untuk menghitung harga nominal wajar seperti apa? Sehingga dpt dikatakan jika harga nominal saham tsb wajar dan tidak terlalu rendah meskipun mengalami penurunan. Karena saya harus memaparkan salah satu bukti dari sampel saya yg mengalami keadaan harga nominal yg terlalu rendah. Terimakasih dan mohon bantuannya. Selamat siang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Vebri,

      Perusahaan melakukan SS dikarenakan harga sahamnya terlalu tinggi. Seharusnya dengan SS, maka harga saham jadi lebih mudah dijangkau investor2 ritel, sehingga menjadi lebih likuid. Jadi menurut saya alasan tersebut kurang tepat.

      Harga nominal terlalu rendah itu sangat subjektif. Tidak ada patokan khusus untuk itu. Jadi, Anda perlu mengihtung harga wajarnya dengan rumus Price Earning Ratio (PER). Rumusnya: Harga saham / EPS.

      PER dikatakan rendah, jika PER perusahaan lebih rendah dibandingkan industri sejenis, Untuk PER, saya belum sempat menuliskan pos khusus, silahkan googling tentang PER.

      Delete
    2. Yang ingin saya tanyakan: Apakah Anda sudah cek kenaikan laba perusahaan sebelum dan setelah SS naiknya signifikan atau tidak? Anda cek melalui t-test.

      Delete
  24. Pak saya juga ingin bertanya satu lagi. Salah satu penyebab harga saham turun adalah kandunga informasi SS itu sendiri masih lemah. Apakah hal ini bisa dijadikan alasan penyebab harga saham perusahaan turun. Karena saya sering menemukan ada buku yg membahas kandungan informasi lemah dari SS tp tidak dijelaskan lebih rinci. Menurut buku Riyanto informasi ss dianggap tidak mempunyai kandungan informasi yg cukup untuk mempengaruhi preferensi investor dalam membuat keputusan investasi ha ini karena investor bersikap antisipatif terhadap pengumuman ss yg dipublikasikan. Jika saya boleh tanya maksud dari pernyataan tsb apa ya pak? Atau bapak memiliki pendapat sendiri tentang kandungan informasi lemah itu seperti apa?.
    Kemudian apakah kandungan informasi lemah itu bisa juga disebut sebagai efisiensi pasar bentuk lemah pak? Saya kok tidak yakin dgn hal tsb. Terimakasih banyak pak sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kandungan informasi yang kuat itu bisa jadi ada 2: Kuat ke arah yang positif atau kuat kearah negatif.
      Kalau kuat ke arah positif, menyebabkan harga saham naik dan sebaliknya. Di penelitian Anda hasilnya adalah harga saham turun, itu berarti kandungan informasinya kuat, tapi ke arah negatif.

      Kandungan informasi lemah berarti tidak ada respon dari investor. Kalau tidak ada respon, artinya harga saham tidak naik dan tidak turun (secara statistik). Kandungan informasi lemah berarti: Investor menganggap bahwa informasi SS tidak memiliki pengaruh apapun , sehinga investor mengabaikannya. Hal itu tampak dari harga saham yang tidak naik dan tidak turun baik sebelum, saat dan sesudah pengumuman.

      Hasil penelitian Anda tidak bisa dibilang bawha kandungan informasi SS lemah, tapi ke arah kuat (negatif).

      Saya rasa tidak hubungan antara kandungan informasi lemah dengan pasar efisien bentuk lemah.

      Delete
  25. Selamat siang pak Heze, perkenalkan saya Bona, masih pemula di pasar modal. Saya mau tanya, apakah bapak ada tips bagaimana caranya screening/memilih saham yang potensial akan mengalami kenaikan dari ratusan saham yang ada di bursa? Lalu bagaimana untuk menemukan saham yang sudah oversold? Jika sudah menemukan saham yang tepat, apakah dari entry point itu kita bisa menentukan time frame untuk trading sahamnya? karena saya merasa lebih cocok sebagai swing trader. Mengenai bandarmology, apakah pak Heze ada tips untuk mengetahui akumulasi dan distribusi yang dilakukan oleh bandar?. Terima kasih banyak dan mohon bimbingannya pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Bona,

      1. Tips screening saham: Anda harus trial and error untuk menemukan sendiri saham2 pilihan Anda. Kalau saya, caranya adalah dg mengamati terus bid-offer saham2 likuid terutama LQ45. Dengan demikian saya bisa "hafalkan" daerah support resistennya. Kalaupun bkn LQ45, saya pilih saham yang harganya rendah tapi likuid. Cth: BKSL. Mengapa? Karena saham2 yang harganya rendah (biasanya ukuran saya dibawah 1.000) pergerakan harganya cepat.

      2. entry point untuk menentukan time frame trading saham: Bisa. Tipikal saya juga trading cepat (swing). Saya juga banyak membahas disini: http://www.sahamgain.com/p/ebook-pasar-modal.html

      3. tips untuk mengetahui akumulasi dan distribusi yang dilakukan oleh bandar yaitu dengan melihat buy dan sell yang dilakukan asing dan lokal (net buy dan net sell saham).

      Delete
    2. Artinya kita harus punya watchlist saham ya? Supaya kita mengenal pergerakannya?
      Untuk bandarmologi bung Heze hanya sesimpel itu? Tidak menggunakan excel? Kalau saat live trading, bagaimana caranya tau kalau saat itu ada bandar masuk?

      Delete
    3. Warren buffet punya kuote terkenal:

      "Risiko dapat berkurang banyak dengan berkonsentarsi hanya pada beberapa saham"

      Artinya, watch list saham (saya mengartikan Saham Pilihan) itu sangat penting supaya Anda tidak terjebak beli saham, yang tidak Anda kenal pola teknikalnya, atau beli cuman karena ikut2-an, atau beli saham gorengan.

      Bandarmologi tidak simpel, karena butuh kejelian Anda untuk "menebak" apakah saham tersebut akan digoreng atau tidak. Saya tidak pakai excel untuk mendeteksi bandar. Anda bisa melihat net buy pada suatu saham (yang tidak likuid). Kalau ada saham yang adem ayem, tiba2 net buy besar sekali, kemungkinan saham tersebut akan digoreng.

      Atau, bisa lihat melalui grafik. Contoh: bbrp bulan lalu, BUMI jadi saham tidur. Tiba2 volume membesar (harga belum naik). Artinya, bandar sedang akumulasi. esoknya, BUMI kena AR kanan.

      Delete
    4. Bung Heze, bagaimana caranya ya mengelola psikologis kita setelah cutloss suatu saham tapi setelahnya malah terbang tinggi? Lalu bagaimana strategi masuk di saham downtrend? Jadi mengidentifikasi indikasi kalau saham itu mau rebound

      Delete
    5. Pak Bona, cara mengelola psikologis seperti ini ini memang tidak mudah, harus saya akui. Tapi, kalau Anda sudah terbiasa disiplin menerapkan trading plan (disiplin cut loss), Anda akan merasakan manfaat cut loss sedini mungkin daripada menahan saham2 yang nyangkut terus.

      Saran saya, kalau memang Anda cut loss, modal Anda hendaknya Anda pindahkan ke saham2 rebound lapis 1 (seperti saham LQ45), ketika saham2 itu terbukti naik, biasanya piskologis kita bisa lebih tenang. Cara lainnya,kita harus meng-iklhaskan saham yang sudah di cut loss. Setidaknya jika Anda sudah berpegang pada trading plan, berarti ANda sudah bisa disiplin.

      Untuk strategi masuk saham downtrend, tidak saya paparkan secara gamblang di web ini. Saya memaparkannya di Ebook trading dan belajar saham. Bisa lihat disini: http://www.sahamgain.com/p/ebook-pasar-modal.html . Di ebook juga saya paparkan cara menyusun trading plan.

      Sekedar info: Strategi membeli saham downtrend yang saya paparkan adalah membeli saham downtrend yang akan rebound, bukan saham downtrend yang masih downtrend. Karena prinsip analisis teknikal adalah: belilah saham yang rebound, bukan saham turun atau saham murah.

      Delete
  26. Selamat siang pak Heze, saya saat ini telah berkecimpung di dunia saham hampir 2 tahun. semua ilmu yang saya dapatkan semuanya otodidak karena memang di Banyuwangi sendiri (tempat tinggal saya) masih sangat sedikit trader saham yang saya ketahui. Permasalahan saya saat ini adalah kurang disiplin, saya telah membuat rule trading sendiri. banyak buku yang saya beli semuanya berkutat tentang analisa teknikal, dan psikologi trading.
    Saya ingin saran anda terkait dengan entry satu saham dengan alokasi dana tertentu.
    contohnya begini "total portofolio sebesar 100 jt, dimana si trader hanya akan membeli 5 saham dari total portofolio. dia membagi rata alokasi dana pada masing-masing saham. artinya setiap saham yang akan dia beli maksimal dananya adalah 20 jt".

    kelemahan dari metode terebut adalah ketika satu saham mengalami kenaikan paling besar, maka implikasinya tidak terlalu terasa. saya ingin minta saran kepada anda bagaimana membuat alokasi dana (besarannya) untuk setiap saham agar ketika profit memiliki implikasi yang ooptimal dan ketika rugi, memberikan implikasi minial terhadap portofolio. sehingga portofolionya bertumbuh.

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Muhammad Syafi'i

      Idealnya, alokasi modal enaknya dipukul rata saja. tapii....

      Kualitas setiap saham kan bisa berbeda-beda. Trading plan itu tidak kaku, artinya setiap orang harusnya punya penilaian subjektif terhadap kualitas saham berdasarkan hasil screening saham (saham2 pilihan) mereka..

      Misalnya: Upin Ipin berencana membeli 5 saham dengan modal 100 juta. Saham2 tersebut akan diisi oleh saham2 andalannya saham lapis 1 LQ45 (yang sering memberikan Upin Ipin profit besar). 2 saham sisanya diisi dengan saham lapis 2 dan 3 yang kurang likuid.

      Maka, Upin Ipin harusnya mengalokasikan modal lebih banyak untuk saham lapis 1 dibanding 2 dan 3. Alokasinya bisa seperti ini:

      Modal: 100 juta
      Saham lapis 1: 30 juta
      Saham lapis 1: 25 Juta
      Saham lapis 1: 25 juta
      Saham lapis 2: 10 juta
      Saham lapis 3: 5 juta
      Sisa modal di porto: 5 juta.

      Kecuali, jika upin ipin punya 5 saham pilihan yang sedang rebound, maka Upin Ipin bisa mengalokasikan modal pukul rata untuk kelima saham tsb (20 juta @1 saham).

      Lagian, kalau Anda ingin membeli saham lapis 3 dengan tujuan untuk "coba2" (untuk belajar), maka tidaklah bijaksana kalau mengalokasikan modal pukul rata 20juta untuk saham lapis 3 dan saham lapis 1.

      Kalau saya, biasanya mengalokasikan modal di saham2 yang bagus (LQ45) dengan alokasi 2x lebih besar daripada saham2 lapis 2 / 3.

      Delete
    2. oya pak, mohon bapak jelaskan mengenai swing trading (strategi bapak sekarang). pasalnya saya masih belum ngeh sama strategi ini. apa swing trading itu hanya beli ketika harga berada di area support saja, dan pada saat harga breakout tidak termasuk dalam kategori strategi swing ini.

      Delete
    3. Swing trading adalah TREND FOLLOWING INDIKATOR. Artinya, trader membeli harga saham dengan mengikuti tren yang terjadi. kalau tren naik, trader beli dan hold. Kalau tren mulai jenuh / turun: jual.

      Namanya trend following berarti strategi2 yang digunakan mengacu pada semua yang berhubungan dengan tren dan momentum. Support dan resisten, MA, tren. membeli ketika harga breakout adalah salah satu analisis tren (trend following).

      Menurut saya, swing trading adalah trading dengan jangka waktu beberapa hari - beberapa bulan, bukan trading cepat (scalping).

      Delete
    4. beberapa kali saya mencoba ngikutin tren pak, namun sering rasa was-was akan terjadi profit taking (mungkin karena pengalaman yang masih minim). contoh baru2 ini saya beli adro di 1190, namun saya jual di 1250 karena dekat dengan garis resistennya, ternyata kemudian dia breakout (meski sebelumnya turun lebih dari 5%). dan saat ini ADRO telah membuat support baru lagi. nah untuk mengatasi masalah seperti ini bagaimana pak?

      Delete
    5. Dear,

      Masalah Anda pasti dialami oleh setiap trader, termasuk saya. saya pernah mengalami hal serupa di PPRO.

      Lalu bagaimana solusinya?

      Solusinya, ada baiknya Anda memperpanjang time frame trading Anda. Kalau Anda belum ahli trading dengan rentang agak pendek (beberapa hari), lebih baik time-framenya dipanjangkan, supaya Anda tidak digocek oleh pasar. Apalagi, kalau sudah menemukan barang bagus yang sedang terdiskon, kan nanggung kalau cepet2 di TP.

      Delete
    6. memang soal time frame saya masih belum pasti (mudah berubah), karena terkadang saya bisa hold sampai 2 bulan, namun juga sering seminggu sudah dilepas. dan alhamdulillah untuk cutloss dan TP saya sudah disiplin di area sesuai dg trading plan, tinggal gimana mengikuti trend saja (sabar) yang masih abu-abu hehehe

      Delete
  27. Mau tanya pak Jika anda memiliki sebuah dana untuk investasi dalam saham, anda akan memilih investasi berapa persen dengan acuan kurang dari 20%, diantara 20%-50%, dan diatas 50%?Jelaskan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Heni Lestari,

      Saya kurang menangkap maksud pertanyaan Anda. Bisa mohon diperjelas?

      Delete
  28. Dear pak El Heze,
    Apa bisa di share pak return bapak per tahun selama bermain saham sebagai referensi saja?
    :-)
    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Pak Erwin

      Untuk return tahunan belum akan saya share disini (saya sudah bisa untung konsisten). Mungkin akan saya share di pos tersendiri.

      Delete
  29. Mohon Sarannya pak,
    untuk trading longterm 6-12 bulan saham mana yg patut dikoleksi PGAS, WSBP ato ADRO?
    terimaksih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pribadi lebih prefer WSBP dan ADRO...

      WSBP = peningkatan kinerja Laporan keuangan kuartal III. ADRO = ada sentimen positif kenaikan harga batu bara

      Delete
  30. Assalamualaikum selamat pagi pak. Semoga bapak selalu sehat. Saya ingin memberi kabar jika saya telah lulus ujian skripsi hehee semua tak lepas karena bantuan bapak semua ini, terimakasih.
    Sehubungan dengan hal tersebut saya ingin bertanya berkait dgn revisi sidang saya pak, hehe
    Sebelumnya hasil penelitian saya kan menunjukkan terjadi penurunan harga saham perusahaan sesudah stock split...lalu di pembahasan saya salah satu faktor2 yg menyebabkan penurunan harga saham itu ada FAKTOR2 EKSTERNAL (makro/politik/sosial/bencana alam). Faktor eksternal tsb saya jelaskan antra lain terjadi peristiwa2 sbb: penurunan ekonomi indonesia karena ktisiis hutang amerika dan eropa, adanya 33 pelanggaran hukum di pasar modal, kajian ulang peraturan investasi, pertumbuhan ekonomi mencapai 4,79% terendah 6 thn terakhir, bencana tanah longsor di banjarnegara. Seperti itu pak....kemudian penguji saya merevisi jika masing2 faktor tersebut apa hubungannya dengan penurunan transaksi saham sehingga menyebabkan penurunan harga saham perusahaan...maksudnya bagaimana jalan cerita sehingga masing2 peristiwa itu dpt menyebabkan penurunan harga saham perusahaan...
    dari semua revisi yg dosen2 saya berikan, hanya revisi tsb yg membuat saya kebingungan untuk mendapatkan jawabanya pak...sekiranya bapak bisa membantu saya sebisa bapak dan dr pengalaman bapak di pasar modal...terimakasih mohon bantuanya. Selamat pagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wassalamualaikum Tine Verbri

      Selamat telah lulus ujian skripsi Anda.

      Terus terang faktor2 yang Anda sebutkan tidak ada hubungannya dengan penurunan harga saham pada penelitian Anda. Contoh saya ambil satu: bencana tanah longsor di banjarnegara, sama sekali tidak ada korelasi dengan turunny harga saham perusahaan sampel Anda setelah SS.

      Sebenarnya saya kurang menyarankan Anda untuk memasukkan faktor eksternal, karena itu sudah menyimpang dari teori sinyal yang harusnya Anda kaji lebih dalam.

      Tapi, kalau Anda ingin memaparkan faktor eksternal juga, ada baiknya Anda paparkan kejadian2 penting yang paling berpengaruh terhadap Bursa saham selama thn penelitian Anda (2012-2015). Tahun2 tersebut memang sempat mengguncang IHSG sampai terjerembab cukup parah.

      saya kasih sedikit bocoran:

      2013 --> Ekonomi lesu, penyebabnya impor sangat besar dan eskpor turun sehingga neraca perdagangan defisit

      2015 --> ekonomi lesu, nilai tukar terus melemah, banyak usaha2 yang rugi.

      (utk lebih jelasnya kejadiannya silahkan googling)

      Anda bisa lihat grafik harga saham (grafik IHSG) selama tahun tersebut, trennya terus merosot. Faktor2 eksternal itulah yang bisa Anda jadikan sebagai bahan pertimbangan.



      Delete
  31. Apakah ada hubungan antara faktor ekonomi dengan harga saham di pasar modal ?? terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Pak Dino,

      Salah satu pergerakan harga saham di pasar modal (hampir) pasti dipengaruhi faktor ekonomi. Faktor ekonomi ini pengaruhnya ada 2 ke harga saham, yaitu pengaruh jangka pendek dan jangka panjang.

      Jangka pendek contohnya: ketika pertumbuhan ekonomi merosot / ekonomi sedang lesu, maka harga saham akan turun dan sebaliknya

      Jangka panjang: Tahun 2004-an IHSG masih di level 1.000. Saat ini sudah di 5.200-an. Hal ini menunjukkan fundamental ekonomi yang semakin baik, laba para emiten semakin meningkat, sehingga menumbuhkan kepercayaan pelaku pasar untuk trading dan investasi di pasar saham Indonesia. Dampak jangka panjang memang tidak akan terlihat secara kasat mata.

      Delete
  32. Halo Pak El Heze. saya baru memasuki dunia saham -+ 5 bulan, tetapi hanya mengikuti saran dr teman yang pintar saham u/ beli saham apa.
    bagaimana ya pak caranya spy saya bisa menentukan saham yang bakal boom ditahun ini, dan apa bapak ada saran pemula dibidang saham sprti saya? thx

    ReplyDelete
  33. Dear Eric Anderson,

    Menentukan saham yang bakal 'boom' di tahun ini? Agar anda bisa menentukan saham yang bakal 'boom' anda harus banyak praktik trading. Dengan cara itulah refleks, insting dan kemampuan analisa anda akan meningkat secara perlahan.

    Contohnya saya berani mengatakan saham JSMR bakal naik di tahun 2017 karena selama tahun 2016 ini saya selalu trading dan setiap hari mengamati pasar saham, baca2 berita dan melakukan analisis ini itu. Baca juga: http://www.sahamgain.com/2017/01/prospek-saham-jasa-marga.html.

    Jika anda pemula, anda bisa coba trading di saham2 yang likuid (yang ada grafiknya). Misalnya saham2 LQ45. Hindarilah saham2 gorengan dan saham2 yang baru go public. Baca juga:

    http://www.sahamgain.com/2016/11/pemula-hindari-saham-gorengan.html
    http://www.sahamgain.com/2016/12/hindari-trading-saham-yang-baru-go.html
    http://www.sahamgain.com/p/ebook-pasar-modal.html

    ReplyDelete

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.