Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

2 Penyebab Sering Panik Saat Beli Saham

Apakah anda sering panik setelah membeli saham? Anda merasa tidak tenang & panik, ingin selalu melihat layar pergerakan saham anda. Anda sering terburu menjual saham? Anda tidak tahan kalau harus meninggalkan layar monitor setelah beli saham? Apakah anda sering mengalami hal-hal tersebut?   


Kalau anda sering panik setelah membeli saham, berarti ada yang perlu dievaluasi dari trading anda. Rasa panik dan takut berlebihan juga berbahaya untuk trading anda. 

Rasa panik yang dihadapi trader setelah membeli saham, biasanya disebabkan karena dua hal, yaitu sebagai berikut: 

1. Anda tidak memahami saham yang anda beli

Ibarat anda pergi ke suatu tempat, tapi anda tidak tahu arah, anda tersesat. Dalam kondisi seperti ini, tentu anda akan lebih mudah panik dibandingkan kalau anda sudah mengumpulkan informasi terlebih dahulu mengenai tempat yang anda tuju, sehingga anda bisa lebih tenang dan tidak tersesat.     

Demikian juga dengan trading saham. Tersesat dalam trading bisa membuat trader lebih cepat panik. Apa yang membuat trader bisa tersesat arah dalam trading? Ada beberapa penyebab: 
  • Trader asal beli saham tanpa analisa 
  • Trader ikut-ikutan beli saham berdasarkan analisis trader lain 
  • Trader beli saham hanya karena terlihat menarik dan sedang banyak dibicarakan
  • Trader ikut membeli saham pom-pom yang arahnya tidak jelas 
  • Trader beli saham hanya karena sahamnya lagi ramai 
Karena trader ingin dapat untung cepat di saham tanpa harus menganalisa, ternyata setelah saham dibeli dan tidak sesuai dengan harapan dan sahamnya turun terus, akhirnya trader panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

Hal ini sering dialami oleh kebanyakan trader. Saya pribadi dulu juga pernah mencoba cara trading dengan ikut-ikutan beli saham dari kata "para pakar" tanpa pikir panjang terlebih dahulu. 

Pada saat saham yang saya beli mulai turun dan tidak sesuai harapan, saya mulai panik dan cari-cari informasi tentang saham yang saya beli: Barangkali ada kemungkinan naik. Saya nggak bisa tenang, terus mencari informasi dan prediksi tentang saham tersebut dari para trader lainnya untuk "mencari pembelaan" dan berharap saham nyangkut yang saya beli tanpa analisa tersebut bisa naik lagi. 

Hasilnya saya jadi nggak tenang. Aktivitas lainnya terbengkalai karena melihat saham terus menerus, dan mencari informasi-informasi yang belum tentu benar. 

Namun setelah saya back on track menganalisa saham sendiri, nggak tergantung dengan trader lain, berhenti mencari saham-saham pom pom, saya jauh lebih tenang setelah membeli saham. 

Tersesat dalam trading, bisa menjadi salah satu penyebab trader mudah panik ketika membeli saham. SOLUSINYA, belilah saham berdasarkan analisa yang benar. Kalau anda ingin trading, utamakan analisa teknikal. Kalau anda ingin investasi jangka panjang, utamakan analisa fundamental. 

Sebelum beli saham, anda harus punya informasi dan analisa yang benar, sehingga anda membeli saham yang berkualitas di harga yang bagus. Hal ini membuat psikologis dan pikiran kita menjadi lebih tenang. 

Kalau anda belum paham cara menganalisa saham, sebaiknya anda perdalam dulu dan tidak perlu terburu-buru membeli saham, karena risikonya akan semakin besar. Sebagai referensi tambahan, anda bisa perdalam analisa2 saham untuk trading dan investasi disini: 
Ketidak-tahuan dalam trading akan menimbulkan risiko dan kepanikan yang besar. Ketika anda panik, itu adalah sinyal risiko. Jadi anda harus segera evaluasi trading anda. 

2. Anda menggunakan modal terlalu besar 

Menggunakan modal terlalu besar bisa menjadi penyebab utama anda mudah panik setelah beli saham. Saya pribadi juga pernah mengalami hal seperti ini. Modal sangat berhubungan dengan psikologis seseorang. 

Contoh mudahnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau anda bepergian, dan di dalam tas anda menyimpan uang Rp5 juta cash, tentu anda akan lebih waspada, bahkan anda lebih takut dengan menyimpan uang sebanyak itu. 

Tapi kalau anda hanya menyimpan uang yang sesuai dengan psikologis anda, katakanlah anda hanya simpan Rp50.000 di dalam tas, rasa panik dan khawatir anda tentu nggak akan sebesar kalau anda menyimpan uang Rp5 juta. 

Dalam trading saham pun juga sama. Modal yang terlalu besar (melampaui kemampuan psikologis anda), bisa membuat anda mudah panik ketika membeli saham. 

Karena semakin besar modal yang anda gunakan untuk beli saham, tanggung jawab anda terhadap modal juga semakin tinggi. Semakin besar modal, profit juga semakin banyak. Tapi kalau saham anda turun, floating loss juga semakin besar. 

Apakah anda siap jika saham yang anda beli mengalami fluktuatif? Apakah anda nggak panik cut loss jika anda melihat saham anda masih turun 1-2 poin? 

Maka dari itu, kalau anda sering panik setelah beli saham, cobalah untuk evaluasi modal trading yang anda pakai. Bisa saja modal anda yang gunakan memang terlalu besar dan level psikologis anda belum siap mengelola modal sebesar yang anda gunakan sekarang. 

Coba untuk pakai modal yang lebih kecil sesuai dengan kemampuan anda. Intinya, kalau anda menurunkan jumlah modal trading, dan anda sudah tidak panik setelah beli saham, itu adalah pertanda bahwa modal trading yang anda pakai sudah ideal (Sesuai kemampuan psikologis). 

Jangan memaksakan trading dengan modal besar hanya karena anda ingin dapat profit besar di market. Lebih baik anda trading sesuai kemampuan, tapi psikologis anda bisa tenang. 

Ketika psikologis anda tenang, anda bias berpikir lebih objektif dan rasional, sehingga potensi profit yang anda raih juga lebih besar. Ketika psikologis tenang, anda juga bisa melakukan aktivitas lainnya dengan lebih baik.     

Itulah 2 penyebab utama mengapa trader sering panik saat beli saham. Jika anda mengalami rasa panik setelah beli saham, segera evaluasi trading anda. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.