Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Analisa Saham: Saham Blue Chip Perbankan

El Heze
Saham blue chip perbankan yang kita kenal dengan big four bank yaitu saham BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI merupakan saham-saham blue chip primadona di Bursa Efek. Selain memiliki kinerja yang bagus di sektornya, saham2 blue chip bank juga sangat likuid. 



Sektor perbankan merupakan salah satu sektor di pasar saham kita yang produknya selalu dibutuhkan oleh masyarakat banyak. Misalnya, kita bisa jumpai dengan mudah ATM di sekitar kita. Masyarakat juga menggunakan layanan e-banking. Perusahaan skala menengah hingga skala besar juga membutuhkan pendanaan melalui bank.

Itulah kenapa saham2 perbankan biasanya harganya selalu likuid, mudah naik. Kalau saham2 bank turun, pasti banyak yang borong lagi sahamnya, sehingga harganya balik naik.

Saham2 blue chip bank ini juga memiliki kapitalisasi pasar yang besar, sehingga memiliki pengaruh besar terhadap IHSG dan likuiditasnya tinggi. 

Tapi..... Bagaimana kalau ternyata saham-saham perbankan harganya turun terus, tidak seperti yang kita harapkan? Bagaimana kalau saham-saham bank ternyata tidak bergerak seperti biasanya? Harga sahamnya turun terus, dan tidak terjadi rebound yang signifikan? 

Saham Bank BRI
Seperti contoh grafik saham BBRI diatas. Anda bisa lihat bagaimana saham BBRI ini harganya terus turun bahkan membentuk lower low yang baru. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah saham2 blue chip, apalagi kalau produknya dibutuhkan masyarakat banyak harusnya sahamnya bisa naik?  

Di pasar saham kita akan menghadapi hal-hal seperti ini. Ini bukanlah hal yang baru. Sebagai trader, kita harus menerima realita bahwa saham-saham yang bagus pun harganya bisa turun. 

Saham-saham bagus biasanya turun ketika: Pertama, pasar saham (IHSG) sedang lesu / strong bearish. Kedua, terdapat sentimen2 negatif di sektor saham yang bersangkutan. 

Sebagai contoh, saham-saham perbankan pernah mengalami penurunan harga yang tajam selama beberapa periode waktu tertentu karena meningkatnya risiko kredit macet pada perusahaan2 perbankan, akibat dampak Virus Corona di tahun 2020. 

Sebagaimana kita tahu, Virus Corona memberikan dampak besar pada jalannya perekonomian di Indonesia, sehingga hal ini akan mempengaruhi kemampuan perusahaan2 untuk memenuhi kewajibannya kepada bank.  

Hal ini membuat saham-saham blue chip perbankan harganya terus jatuh, dijual asing. Ketika ada sentimen negatif atau IHSG anjlok, saham-saham blue chip perbankan yang biasanya menjadi incaran trader dan investor pun tidak luput dari penurunan tajam. 

Pelajaran apa yang bisa kita ambil bersama untuk trading? 

Kalau anda mau memilih saham, pilihlah saham berdasarkan analisa, bukan hanya membeli (trading) saham karena sahamnya punya nama besar (brand), atau karena sahamnya terkenal. Jangan beli saham hanya karena sahamnya adalah saham blue chip.

Sebagai trader, anda juga harus peka melihat kondisi pasar saham, melihat kondisi emiten2 di sektor tertentu. Kalau memang ada sektor yang sedang tertekan, saham2nya tidak bergerak seperti biasanya, ada baiknya anda hindari dulu untuk trading sementara waktu. 

Dengan analisa-analisa yang lebih matang, anda bisa mengambil keputusan trading yang lebih baik, mengalihkan modal anda ke saham2 lain yang masih naik / rebound, sehingga anda bisa lebih fleksibel dalam trading. 

Berikut beberapa poin penting yang perlu anda pelajari dan poin2 ini juga bisa menjadi refleksi kita bersama agar kita bisa mengambil keputusan trading yang lebih baik:  

1. Jangan mencintai satu saham

Dari analisa saham blue chip perbankan yang ternyata juga pernah mengalami penurunan tren yang cukup tajam, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam trading: Jangan pernah mencintai satu saham. Hal ini karena tidak ada saham yang kebal koreksi. 

Selalu lakukan analisa untuk melihat saham2 apa yang bagus dan saham2 apa yang harus anda hindari sementara waktu. Pelajari juga: Panduan Simpel & Efektif Memilih Saham Bagus. 

2. Analisa saham & menjadi trader fleksibel 

Di pasar saham, ada cukup banyak saham yang bisa anda pilih untuk trading. Maka dari itu, jadilah trader saham yang fleksibel. Kalau ada saham yang biasanya menjadi andalan anda untuk trading, tapi saat itu harganya sedang turun / lesu, hindari dulu. Pilihlah saham2 lain yang bagus untuk trading. 

3. Setiap saham ada momennya 

Tidak ada saham yang harganya naik terus. Setiap saham biasanya ada momennya. Ketika harga saham sudah naik, pasti ada saatnya saham akan turun. Saat saham sudah booming, maka saham akan koreksi. 

Jadi jangan beranggapan bahwa saham2 blue chip bank harganya akan selalu naik. Demikian juga dengan saham2 blue chip lainnya seperti consumer goods. Ada saatnya saham2 tersebut naik dan memberikan profit. Ada saatnya saham2 tersebut turun / stagnan entah karena kondisi market lesu atau karena memang valuasinya sudah sangat mahal. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.