Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Trading Saham: Sell On Strength

Sell On Strengh (SOS) merupakan strategi menjual saham pada saat harga saham naik signifikan dalam waktu yang cukup singkat (cepat). SOS juga dapat diartikan menjual saham saat harga saham sudah rally dalam waktu panjang. 

Jadi kata-kata kunci sell on strengh adalah: Menjual saham saat harga naik tinggi dalam waktu singkat. Kedua, menjual saham saat harga sudah rally (melanjutkan kenaikan / uptrend) dalam waktu yang cukup panjang. Bagaimana contoh sell on strength dalam trading saham? Anda bisa perhatikan grafik saham berikut: 


Saham TPIA
SOS diterapkan dengan cara membeli saham dan hold saham tersebut sampai saham tersebut harganya benar-benar naik, menembus resisten2 di dalam chart 6 bulan atau 1 tahun alias rally. Jadi, anda hold dan menjual saham ketika saham tersebut naik sangat tinggi di resisten puncak dalam kurun waktu yang agak agak (biasanya diatas 1 minggu). 

Umumnya, SOS ini diterapkan oleh para swing atau positioning trader. Pelajari juga strategi memilih saham untuk swing trading disini: Praktik dan Strategi Swing Trading Saham.  

Pada grafik diatas bisa anda lihat titik buy bisa ditentukan ketika saham mulai breakout dari support (tanda persegi), dan titik jual bisa anda tentukan ketika harga saham sudah tidak  sebagus saat uptrend (mulai bergerak turun / downtrend, lihat tanda lingkaran). 

Namun untuk menerapkan strategi ini, anda harus bisa memilih saham yang punya kemampuan rally dalam kurun waktu yang lebih lama. Caranya, anda harus menggunakan analisa teknikal untuk membaca saham2 seperti. Strategi2 membaca saham yang punya potensi rally, juga saya bahas disini: Cara Memilih Saham Bagus untuk Trading. 

Memilih saham yang rally untuk menerapkan SOS juga harus anda pertimbangkan kondisi market. Kelemahan strategi SOS adalah, kalau market lagi jelek / downtrend, strategi ini terkadang akan meleset, karena banyak saham yang harganya naik 1-2 hari lalu turun lagi dibawah support2nya. Artinya, saham belum sempat rally sudah turun duluan. 

Strategi SOS yang kedua juga bisa diterapkan dengan jangka waktu yang lebih pendek. Anda membeli saham di hari itu, dan ketika saham naik tinggi dalam tempo yang cepat, anda langsung jual sahamnya. Sebagai contoh, perhatikan grafik berikut: 


Saham ANTM
SOS bisa diterapkan dengan time frame pendek, sekitar 1-2 hari atau bahkan hari trading yang sama. Sebagai contoh saham ANTM diatas. Anda bisa membeli ANTM ketika ANTM rebound (tanda lingkaran di kisaran 860), dan anda bisa jual ketika ANTM naik / rebound cepat. Pada grafik, ANTM rebound di kisaran resisten terdekat 950-980. 

Kondisi / strategi ini cocok diterapkan ketika market lagi mengalami technical rebound. Jadi setelah IHSG turun drastis, dan ada banyak saham yang mulai naik / rebound, anda bisa memanfaatkan sell on strength di resisten2 saham dalam waktu yang lebih singkat. 

Kemudian anda bertanya: "Pak Heze, harga saham harus naik berapa persen agar dapat menerapkan strategi SOS?" 

Untuk SOS dengan time frame lebih panjang, anda bisa menerapkan jual harga saham ketika naik di kisaran 10% atau lebih. Untuk time frame pendek seperti contoh saham ANTM, ketika saham naik minimal 3% dalam waktu sehari atau hari yang sama (intraday), maka anda bisa dikatakan menerapkan strategi SOS. 

Dalam praktiknya, strategi sell on strength tidak selalu bisa diterapkan, karena seperti yang saya tuliskan tadi: Kondisi market adalah salah satu yang mempengaruhi pergerakan saham juga. Tipikal tiap saham juga berbeda. 

Ada saham yang bisa naik cepat, ada saham yang hanya sideways terus. Untuk menerapkan strategi ini, anda juga harus membaca situasi dan kondisi market dan saham. Baca juga: Buy On Weakness Saham: Strategi Trading yang Aman. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.