Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Analisis Fundamental Saham: Price to Book Value (PBV)

Ada banyak cara untuk mengetahui mahal atau murahnya (wajar tidaknya) harga saham suatu perusahaan. Dua cara yang sering investor adalah menggunakan Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV). Mengenai PER sudah pernah saya bahas disini. Baca: Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER).

Ada satu analisis lagi selain PER yang bisasa digunakan untuk melihat mahal murahnya harga saham, yaitu PBV. Sesuai artinya, PBV berati perbandingan antara harga saham (price) dengan nilai book per saham (book value per share). Baca juga: Analisis Fundamental Saham: Cara Menghitung Price Earning Ratio. Berikut rumus PBV: 



Baca juga: Cara Menghitung Book Value per Share. Perhitungan harga saham yang dipakai adalah harga saham saat harga penutupan pada perioda tertentu. Misalnya, anda ingin menghitung PBV perusahaan untuk akhir tahun, maka ada baiknya gunakan harga saham pada penutupan akhir tahun, dan kemudian anda bandingkan dengan laporan keungan perusahaan akhir tahun juga. 

Untuk cara menghitung PBV, silahkan anda perhatikan tabel dibawah ini. Saya menggunakan laporan keunngan PT Indofood Tbk (INDF) tahun 2015.  




Dari perhitungan diatas, didapatkan perhitungan PBV INDF tahun 2015 adalah sebesar 1,05 kali. PBV sebesar 1,05 kali artinya harga saham Indofood dihargai sebesar 1,05 kali. Yang jadi pertanyaan selanjutnya: Apakah PBV tersebut sudah bisa dikatakan murah atau kemahalan?

Well, untuk menjawab pertanyaan tersebut anda harus membandingkannya dengan rata-rata sektor sejenis. PBV sebesar 1,05 kali pada umumnya murah. Tetapi, apabila rata-rata perusahaan di sektor sejenis memiliki PBV jauh dibawah 1,05, artinya PBV Indofood tidak bisa dikatakan murah. 

Walaupun demikian, PBV bukanlah satu-satunya ukuran yang mendasari investor untuk membeli sahamnya. Ada banyak sekali pertimbangan yang harus anda lakukan ketika berinvestasi saham, misalnya kinerja keuangan secara menyeluruh.  

Mana yang lebih akurat, PER atau PBV?

Seperti yang sudah saya jelaskan sebekumnya, PBV dan PER memiliki kegunaan yang sama: Melihat mahal atau murahnya harga saham perusahaan. Tetapi, saya pribadi lebih sering dan lebih suka menggunakan PER. Mengapa? Karena perhitungan PER memasukkan unsur laba bersih.

Sedangkan PBV "hanya" memasukkan unsur ekuitas per saham. Memprediksi perubahan harga saham menggunakan laba bersih kebanyakan lebih akurat daripada memprediksi menggunakan ekuitas. Hal ini dikarenakan laba bersih menggambarkan kondisi kinerja dan pencapaian perusahaan secara riil. 

Sedangkan komponen unsur ekuitas belum tentu merupakan hasil dari kinerja perusahaan. Tetapi ekuitas perusahaan bisa didapatkan dari right issue, saham treasuri dan lain-lain yang bukan dari kinerja perusahaan. Walaupun demikian, laba bersih sekalipun juga bisa disebabkan bukan dari kinerja operasional, tetapi pendapatan non operasional seperti penjualan aset.

Saya sering menemukan laporan keuangan perusahaan yang labanya naik sampai ratusan persen. Akan tetapi kenaikan laba justru bukan disebabkan karena pendapatan bersihnya yang meningkat, tetapi perusahaan memiliki penjualan aset yang nilainya jumbo pada perioda berjalan.

So, mana yang lebih akurat, PBV atau PER hanya anda yang memiliki penilaian subjektif berdasarkan pengalaman dan tipikal anda.     

2 komentar:

  1. harga per lembar saham Rp 5175 di dapat darimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 5.175 adalah harga saham akhir tahun.. datanya bisa didapatkan dari yahoo finance untuk melihat historis harga saham

      Delete

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.