Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

September 13, 2016

Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER) adalah rasio yang selalu menjadi patokan investor untuk menentukan harga wajar saham perusahaan. Wajar disini bisa diartikan: Harganya terlalu tinggi, atau masih murah. Kalau Anda ingin menyimpulkan apakah harga saham PPRO Rp1.000 per lembar saham tergolong mahal atau tidak, Anda harus menggunakan alat bantu rasio, yaitu PER. Jadi, tidak bisa Anda menyimpulkan harga suatu saham murah atau tidak, hanya dari harga sahamnya secara kasat mata.

Secara defisini, PER berarti perbandingan harga saham dengan laba bersih per saham, yang digunakan untuk menghitung harga wajar (murah / tidaknya) harga saham suatu emiten. Rumus PER adalah sebagai berikut.


EPS adalah perbandingan antara laba bersih dibagi dengan jumlah saham beredar. Untuk memahami EPS lebih dalam, silahkan baca pos: Makna dan Fungsi Rasio Earning Per Share (EPS). 

Cara membaca PER: Semakin tinggi nilai PER, berarti harga saham perusahaan tersebut semakin mahal. Dan sebaliknya, semakin rendah nilai PER, berarti harga saham perusahaan tersebut semakin murah. Kalau PER perusahaan rendah sekali (dibandingkan industri sejenis) dan memiliki prospek pertumbuhan yang baik, ada kemungkinan besar, harga saham perusahaan dimasa mendatang akan naik tinggi. Karena logikanya secara valuasi, harga saham masih murah (dari perhitungan PER), dan didukung dengan prospek bisnis yang bagus. Semakin besar PER, ada kemungkinan harga saham perusahaan dimasa mendatang akan semakin sulit untuk naik lebih tinggi. 

Di paragraf pertama tadi saya menuliskan: "Anda tidak bisa menyimpulkan harga suatu saham murah atau mahal, hanya dari harga sahamnya secara kasat mata". Inilah kegunaan PER. Harga saham PT A adalah Rp2.000, sedangkan harga saham PT B adalah Rp1.000. Memang, secara kasat mata harga saham PT A lebih mahal, tapi secara harga wajar / valuasi belum tentu harga saham PT A lebih mahal. 

Katakanlah EPS PT A dalam setahun sebesar Rp100 per saham, sedangkan EPS PT B sebesar Rp40 per saham. Berarti, PER PT A adalah sebesar 20 kali (2.000/100). Sedangkan PER PT B sebesar 25 kali (1.000/40). Ternyata PER PT A lebih murah dibandingkan PT B. Berarti secara valuasi, harga saham PT A LEBIH MURAH, meskipun harga sahamnya lebih mahal. Jadi, ketika Anda melihat harga saham yang rendah (misalnya cuman Rp600), belum tentu PER-nya rendah. Demikian juga sebaliknya, 

Apakah nilai PER tinggi  berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi dan sebaliknya, kalau PER rendah berarti harga sahamnya pasti akan naik dalam jangka panjang? Baca tulisan saya terus sampai habis.  

Nah, sekarang kita masuk ke contoh konkrit. Pada tahun 2012 diketahui harga saham BBRI adalah Rp6.950 (harga saham akhir tahun 2012). Sedangkan EPS BBRI adalah Rp757 per saham. Maka cara menghitung PER adalah Rp6.950 / Rp757 = 9,18 kali. Apa makna PER 9,18 kali? Apakah PER BBRI termasuk murah atau mahal?

Untuk menentukan PER suatu saham tergolong murah atau mahal (wajar atau tidak), Anda harus membandingkan dengan sektor industri sejenis. PER bisa dikatakan rendah apabila PER berada dibawah PER industri, dan sebaliknya. Pada contoh diatas PER BBRI adalah 9,18 kali. Dan PER industri perbankan adalah 8,73 kali. Artinya PER BBRI berada diatas PER industri. Hal tersebut artinya, harga saham BBRI termasuk mahal. Harga saham mahal dari perhitungan PER bukan berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi. 

Pada tahun 2012 akhir harga saham BBRI masih di harga Rp6.950. Dan tahun 2016 ini, harga sahamnya sudah mencapai Rp12.000! Hal tersebut mengindikasikan bahwa PER yang lebih besar dibandingkan rata2 industri, bukan berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi naik-turunnya harga saham.

Jika Anda perhatikan, PER BBRI memang lebih tinggi dari rata2 PER industri, tetapi jaraknya (spread) tidak terlalu jauh (9,18 vs 8,73). Hal ini bisa mengindikasikan bahwa harga saham BBRI masih punya peluang besar untuk naik dalam jangka panjang. Anda juga perlu memperhatikan pertumbuhan usaha dari emiten tersebut. PER murah (rendah) belum tentu harga sahamnya pasti akan naik dalam jangka panjang.  

Ada baiknya pula Anda menggunakan tren untuk melihat arah kecenderungan PER. Jika PER emiten secara tren tiba2 melonjak drastis, bahkan jauh diatas rata2 industri dan diikuti dengan kenaikan harga saham secara pesat dalam kurun waktu yang singkat, maka Anda harus mewaspadai saham tersebut. Ada kemungkinan saham tersebut akan lebih sulit untuk naik lagi.   

Ukuran PER  yang Murah?

Saya tidak tahu darimana teorinya, mengapa banyak yang bilang kalau PER diatas 5 itu mahal. Anda tidak bisa serta merta menyimpulkan seperti itu. Seperti saya katakan, jika Anda ingin menentukan harga wajar saham perusahaan, salah satu caranya adalah dengan membandingkan (dengan sektor industri sejenis), dan melihat prospek usaha kedepan.  

Saya ingat waktu awal tahun 2016, dimana harga saham banyak yang mengalami koreksi karena kondisi ekonomi yang lesu tahun 2015. Saat itu mulai banyak analis yang mulai mencari-cari emiten yang nilai PER-nya rendah. 

Banyak analis yang merekomendasikan beberapa saham dengan nilai PER rendah (ukurannya 5 dan dibawah 5). Saat itu, saham SSIA banyak direkomendasikan menjadi saham yang layak 'hold' dengan nilai PER 5 sekian. Ternyata harga saham SSIA nggak kunjung naik seperti yang diharap-harapkan, meskipun banyak analis bilang kalau PER-nya sudah rendah (dibandingkan juga dengan sektor industri sejenis, properti). Perhatikan grafik SSIA dibawah.



Walaupun PER SSIA 'rendah', ternyata harga sahamnya nggak kunjung naik hingga bulan September 2016. Kemungkinan besar, ada banyak faktor yang membuat harga saham tidak kunjung naik. Beberapa diantaranya karena sahamnya mungkin tidak seberapa likuid, pertumbuhan usahanya tidak sebaik sektor industri sejenis, dan masih banyak faktor lainnya.

Berbeda ceritanya dengan PWON. Pada saat awal tahun saat sebagian besar harga saham terdiskon, saham PWON yang PER-nya hanya sekitar 6 kali (dibawah rata2 industri), harga sahamnya naik kencang. Yang dari harga 450 menjadi harga 690 (high) dalam kurun waktu 8 bulan. 

So, menurut saya pribadi, PER bukanlah rasio yang dapat berdiri sendiri. Artinya begini, Anda nggak bisa serta merta menganggap PER emiten 5 kali dan sudah dibawah rata2 industri berarti  harga sahamnya masih punya peluang besar untuk naik dimasa mendatang. Memang benar. Namun, Anda harus mempertimbangkan faktor2 lain, seperti contohnya pertumbuhan usaha, tingkat ke-likuid-an saham. Sebaliknya, Anda juga tidak bisa serta merta menyimpulkan PER diatas rata2 industri berarti harga saham tersebut kemahalan, kecuali kalau PER emiten perbandingannya sangat sangat jauh diatas rata2 industri, bisa jadi harga saham perusahaan memang sudah kemahalan. Buktinya, PER BBRI tahun 2012 diatas rata2 industri, tetapi harga sahamnya masih naik 2 kali lipat. 

Implikasi lainnya, PER yang terlalu rendah bisa jadi saham tersebut tidak laku. Sebaliknya, PER terlalu tinggi bisa jadi harga saham memang sudah kemahalan. Atau, PER terlalu tinggi, bisa jadi saham tersebut memang banyak peminatnya, sehingga saham tersebut bisa dikatakan likuid.  

Disinilah peran seorang funamentalist. Untuk menganalisis suatu perusahaan, Anda harus memiliki tingkat kepekaan dan analisis yang tajam. Subjektifitas setiap orang bisa berbeda-beda. 

1 komentar:

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.