Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Solvabilitas



Rasio Solvabilitas digunakan untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Kalau pada pembahasan sebelumnya: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas, digunakan menunjukkan tingkat ke-likuid-an perusahaan (hanya melihat kewajiban jangka pendek). 

Apa perlunya rasio solvabilitas? Solvabilitas dapat menunjukkan sejauh mana aset atau modal perusahaan dalam menutup kewajiban. Kalau perusahaan tidak memiliki kecukupan aset atau modal untuk memenuhi kewajibannya (kewajiban besar sekali, sedangkan modal atau aset sangat kecil), maka perusahaan ini adalah perusahaan yang tidak solvabel. 

Itu artinya, perusahaan terlalu banyak utang tetapi perusahaan tidak memiliki modal dan aset yang cukup untuk meng-cover kewajibannya. Jadi, dalam analisis fundamental, kalau Anda menemukan perusahaan yang tidak solvabel, maka Anda jangan investasi di perusahaan tersebut. Perusahaan bisa terkena risiko gagal bayar. 

Jenis2 rasio solvabilitas:

1. Rasio Utang terhadap Ekuitas / Debt to Equity Ratio (DER).

DER adalah rasio solvabilitas yang paling sering digunakan dalam analisis fundamental. DER menunjukkan sejauh mana perusahaan mengcover kewajiban menggunakan modal (ekuitas) total yang dimiliki perusahaan. Atau bisa juga: Sejauh mana perbandingan kewajiban perusahaan dibandingkan dengan modal sendiri (ekuitas). Rumus DER adalah sebagai berikut.


Menghitung DER cukup mudah, tinggal bagi saja kewajiban total perusahaan dengan aset totalnya. Disini saya akan ambil satu perusahaan, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Lihat laporan keuangan AALI dibawah.


Total Assets AALI dibagi dengan Liabilities selama 3 tahun berturut-turut akan menghasilkan DER 2010: 0.18 , DER 2011: 0.21 , DER 2012: 0.33. Artinya, utang AALI sangatlah kecil jika dibandingkan dengan ekuitasnya. Bahkan utang AALI hampir 0, sehingga dari sisi kesehatan solvabilitas, AALI dapat dikatakan sangat baik dan layak investasi. DER yang baik harusnya perusahaan memiliki kewajiban yang lebih kecil dibandingkan ekuitas. 

DER menunjukkan struktur modal perusahaan, apakah perusahaan cenderung lebih banyak menggunakan utang atau modal sendiri? Semakin besar DER, semakin besar pula utang perusahaan. Semakin besar DER, juga bisa menunjukkan utang perusahaan stagnan, tetapi modal perusahaan turun. Sebagai fundamentalist, kalau Anda menemukan DER yang besar karena utang besar, perlu diwaspadai.

Berarti kalau DER perusahaan besar, emitennya jelek donk Bung Heze?

Belum tentu. Kalau misalnya DER perusahaan besar karena utangnya gede, apakah berarti perusahaan ini nggak layak investasi? Well, nggak juga. Kalau utang gede, Anda harus tracing (melalui Catatan Atas Laporan Keuangan), penggunaan utang tersebut untuk apa saja. Kalau penggunaan utang tersebut untuk ekspansi perusahaan, maka utang gede nggak ada salahnya. 

Emiten2 yang baru melantai di Bursa saham, bisa saja memiliki utang yang besar. Hal itu dikarenakan emiten2 tersebut sedang berada dalam tahap ekspansi, sehingga membutuhkan utang dalam struktur permodalannya. Tapi, kalau Anda menemukan emiten dengan utang terlalu besar, dan kinerjanya lagi anjlok, ya ini alamat, Anda jangan investasi di perusahaan tersebut, karena risiko pailit semakin besar.

Kalau DER adalah salah satu analisis fundamental, lalu apakah DER memiliki pengaruh terhadap harga saham Bung Heze? Tanya Anda.

Tentu saja berpengaruh. Nggak percaya?  Kita ambil laporan keuangan emiten PT Bumi Resources (BUMI). Silahkan lihat perbandingan kewajiban dan ekuitas BUMI dibawah.



BUMI memiliki peningkatan utang yang cukup besar terutama pada tahun 2012 dan 2013. Pada 2012, peningkatan utang sebesar 19,91% dan pada tahun 2013 sebesar 33,17%. Masalahnya, ekuitas BUMI ini ternyata negatif (minus), yang berasal dari retained earnings yang negatif. Hal tersebut menyebabkan DER BUMI menjadi negatif pula. DER selalu naik, bahkan pada tahun 2012, DER nya sampai 17,75 kali. Hal ini menunjukkan BUMI memiliki utang yang sangat besar dalam struktur modalnya. Perhatikan DER BUMI dibawah ini. 


Kalau Anda googling tentang BUMI, BUMI memiliki masalah besar dengan struktur modalnya, dan penggunaan utang yang besar ini menjadi ancaman bagi kelansungan usaha BUMI, sehingga utang BUMI yang besar ini menjadi sorotan. Inilah salah satu alasan mengapa harga saham BUMI turun terus, sampai level gocap. Ini artinya, utang terlalu besar sangatlah tidak baik untuk kelangsungan hidup perusahaan.

Sekali lagi, utang yang gede bukanlah persoalan, selama perusahaan menggunakan utang untuk ekspansi, dan jangan lupa selama kinerja perusahaan tetap OK. Namun, DER yang mencapai 17,75 kali seperti BUMI, menunjukkan bahwa perusahaan tidak sehat (terlalu banyak utang). 

2. Rasio Utang terhadap Aset / Debt to Total Aset Ratio (DTA)

Rasio solvabilitas yang nggak kalah pentingnya, adalah DTA. Rasio ini sangat penting karena menggambarkan seberapa kemampuan aset total perusahaan dalam mengcover kewajiban totalnya. Dengan kata lain, rasio ini menunjukkan perbandingan Utang Total: Aset Total. Berikut rumusnya.


Cara menghitungnya cukup mudah, tinggal Anda bagi aset total dengan kewajiban total. Secara logika, rasio DTA yang baik adalah ketika perusahaan memiliki aset yang lebih besar dibandingkan utang. Aset penting dalam kaitannya dengan utang, karena semakin besar aset perusahaan, semakin mudah perusahaan melunasi kewajiban2-nya. Kewajiban perusahaan, dilunasi melalui aset2nya, salah satunya melalui kas dan setara kas.  

Baca juga rasio2 keuangan lainnya: 
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Aktivitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Pasar

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.