Dalam menganalisa valuasi saham, khususnya ketika kita bicara tentang Price to Book Value (PBV), maka ada istilah PBV band. PBV secara sederhana adalah harga saham / book value per share. Anda bisa baca analisanya lagi disini: Analisis Fundamental Saham: Price to Book Value.
Simpelnya, PBV digunakan untuk menilai mahal murahnya suatu saham secara valuasi. Semakin tinggi angka PBV, maka semakin mahal harga saham. Semakin rendah, maka semakin murah.
Pada umumnya, PBV dikatakan murah apabila nilainya dibawah 1. Misalnya PBV sebesar 0,7 kali. Maka harga saham tersebut dikatakan sedang murah. Ibarat barang dengan harga normal Rp100.000, tetapi anda hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp70.000 untuk membelinya.
Namun tidak semua saham di Bursa memiliki valuasi PBV dibawah 1 kali. Justru mayoritas saham di Bursa, memiliki valuasi PBV diatas 1 kali, bahkan 2-3 kali lebih.
Apakah PBV diatas 1 kali itu bisa dikatakan mahal dan tidak layak untuk dibeli? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa lebih mudah menganalisanya menggunakan PBV Band.
PBV BAND
PBV Band adalah indikator analisa yang digunakan untuk mengukur seberapa mahal murahnya harga saham dengan PBV, menggunakan level garis standar deviasi.
Ada 5 level garis pada PBV Band yaitu:
| PBV band |
- PBV band +2 standard deviation = Valuasi saham sangat mahal (overvalued)
- PBV band +1 standard deviation = Valuasi saham mahal (overvalued)
- Mean PBV standard deviation = Valuasi saham berada di harga wajar
- PBV band -1 standard deviation = Valuasi saham murah (undervalued)
- PBV band +1 standard deviation = valuasi saham sangat murah (undervalued)
Berikut adalah contoh tampilan garis PBV Band pada saham ASII:
| Valuasi PBV band ASII (grafik 3 tahun) |
Cara baca PBV band sangat mudah. Anda hanya perlu melihat PBV saham saat ini (current PBV) berada atau mendekati di garis standar deviasi yang mana.
Kalau pada contoh saham ASII diatas, PBV ASII sebesar 1,31 kali berada paling dekat dengan -1 standard deviation-nya (1,27 kali). Interpretasinya adalah: Valuasi PBV ASII sudah berada diatas garis -1 standard deviation-nya.
Kesimpulannya, valuasi ASII selama 3 tahun dapat dikatakan MAHAL alias OVERVALUED. Namun saham ASII belum bisa dikatakan sangat mahal, karena untuk dikatakan sangat mahal maka PBV saham tersebut biasanya harus mendekati -2 standard deviation atau bahkan menembus -2.
Jadi kalau anda mencari saham yang sedang murah secara valuasi, tentu saja ASII bukan pilihan yang tepat, karena secara analisa PBV band, ASII berada diatas rata-rata valuasi PBV band wajarnya (dalam contoh grafik sebesar 1,10 kali).
Namun perlu anda ingat, kalau PBV band suatu saham mahal, belum tentu harga sahamnya tidak bisa naik lagi. Dalam jangka pendek-menengah adanya fluktuatif, fase koreksi, fase rebound itu sangat mungkin.
Analisa PBV band mungkin kurang cocok untuk teknikalis jangka pendek, dan lebih cocok untuk fundamentalist yang mengincar saham murah berdasarkan analisa valuasi.
Kita lihat contoh lain PBV band saham BBCA berikut ini:
| Valuasi PBV band BBCA |
PBV BBCA saat ini adalah 3,58 kali, tepat berada di garis -2 standard deviation-nya (garis merah). Kesimpulannya, valuasi saham BBCA saat ini SANGAT SANGAT MURAH alias UNDERVALUED.
Hal ini karena PBV BBCA saat ini sudah berada pada garis PBV standard deviation-nya yang paling rendah selama 3 tahun. Jadi dapat dikatakan harganya sedang murah.
Sama seperti ASII tadi, jika PBV band BBCA sudah super undervalued, bukan berarti harga sahamnya tidak bisa turun lagi. Ada banyak kasus di mana saham yang sudah murah, harganya justru bisa turun lagi dibawah -2 standar deviasinya.
Namun dengan adanya PBV band, anda bisa mendapatkan lebih banyak gambaran mengenai mana saham yang sudah murah secara valuasi, bukan hanya menerka-nerka berdasarkan angka bulat PBV-nya.
Jika ada saham yang PBV band nya sudah murah dan fundamentalnya bagus, itu adalah kesempatan anda untuk koleksi sahamnya di harga saat ini.
Jadi untuk menginterpretasikan valuasi suatu saham murah atau mahal, kita tidak bisa hanya menyimpulkan dari angka PBV-nya saja.
"Oh PBV BBCA 3,5 kali. Jelas mahal donk. Aku tunggu 1x PBV baru masuk".
Nope. Tidak seperti itu. Itulah gunanya PBV band.
PBV Band yang Akurat: Time Frame Berapa Tahun?
Kalau anda menggunakan time frame PBV band 1 tahun, 3 tahun (lihat lagi grafik ASII diatas untuk yang 3 tahunan) dan 5 tahun hasilnya bisa berbeda. Kita lihat kembali contoh ASII:
| ASII 1 tahun |
| ASII 5 tahun |
Pada time frame 1 tahun, terlihat PBV band ASII sudah sangat mahal karena menembus -2 standard deviation. Sedangkan pada time frame 3 tahun, masih sedikit menembus -1 standar deviasi. Tetapi kalau kita perpanjang jadi 5 tahun, ASII masih dekat sama mean standard deviasi-nya.
Jadi, mana time frame PBV band yang paling akurat? Kalau saya pribadi, lebih suka menggunakan time frame 3-5 tahun, umumnya lebih sering pakai 3 tahun.
Hal ini karena sesuai dengan analisa laporan keuangan, di mana kalau kita ingin menganalisa kinerja perusahaan biasanya kita melihat tren kinerja perusahaan selama 3-5 tahun kebelakang. Ini juga meminimalkan risiko fluktuatifnya grafik yang terlalu noise.
Yap, jadi PBV band yang sering saya gunakan biasanya 3 tahun. Kalau 5 tahun kadang terlalu panjang. Jadi kalau saya ingin lihat grafik 5 tahun, saya juga pasti menganalisa 3 tahun terlebih dahulu.
CARA MENAMPILKAN PBV BAND
Anda bisa menemukan menu PBV band salah satunya pada aplikasi stockbit. Caranya, cari kode saham yang ingin anda analisa. Kemudian masuk menu Key Stats --> pilih Current Price to Book Value. Setelah muncul grafik PBV, anda bisa pilih Save --> PBV Standard Deviation Band.
| PBV Band Stockbit |

0 komentar:
Post a Comment
Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.