Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Saham Bagus, Tapi Harga Mahal?

Pernahkah anda menemukan saham dengan fundamental yang bagus, dan harga sahamnya sedang turun, tetapi ternyata secara valuasi (Price to Book Value), harganya masih mahal? Di sisi lain, secara TREN harganya sudah turun banyak. Di bursa efek, terkadang kita menemukan tipe-tipe saham seperti ini.


Perlu anda ketahui, saham berfundamental bagus berarti adalah saham-saham yang kinerjanya bertumbuh, ROE besar (umumnya diatas 15%), NPM umumnya diatas 17% dan sedang tidak ada masalah dengan kinerja keuangannya. 

Beberapa dari anda ketika membaca postingan ini mungkin sepintas terpikir saham Unilever (UNVR). Yap, UNVR walaupun valuasi mahal, tetapi secara tren harga sahamnya juga sedang turun banyak.

Sayangnya UNVR sejak beberapa tahun terakhir mengalami penurunan kinerja,  sehingga kita tidak bisa katakan UNVR sebagai saham bagus lagi saat ini. 

Oke, lalu apa contoh saham bagus tapi harganya masih mahal? 

Salah satu contohnya adalah (menurut analisa dan versi penulis) adalah saham AVIA (PT Avia Avian Tbk). Pertumbuhan net profit AVIA cukup stabil, dengan ROE 16%, NPM 23% dan DER yang sangat rendah (13,7%). AVIA termasuk saham yang rajin membagikan dividen sejak IPO. 

AVIA merupakan market leader di industri cat, di mana AVIA menguasai pangsa pasar hingga 20% di Indonesia. Kinerja yang bertumbuh stabil, dengan ekspansi yang bagus, membuat saham AVIA ini seharusnya menarik. 


Apalagi dengan harga sahamnya yang sedang turun cukup drastis, membuat saham ini semakin menarik. 

Harga saham AVIA

Sejak harga IPO-nya yang sempat naik ke 950, harga saham AVIA kini sudah turun sampai ke 555. Koreksi saham AVIA yang cukup besar, dengan fundamental bagus adalah kesempatan untuk koleksi harga sahamnya. 

Tetapi kalau kita lihat valuasinya, AVIA cukup mahal, di mana AVIA memiliki PBV sekitar 3,77x. Tentu saja PBV sebesar ini tidak bisa dikatakan murah. Memang, PBV AVIA sudah turun sejak awal IPO yang masih di kisaran 4,1x. 

PBV sebesar 3,77 kali ibaratnya ada barang dengan harga normal sebesar Rp100.000, namun anda harus membayarnya sebesar Rp377.000 alias lebih dari 3 kali lipatnya lebih mahal. 

Jadi, apakah saham dengan fundamental bagus, harga sahamnya secara tren sudah turun banyak, pangsa pasar bagus, utang kecil, ROE besar, namun valuasi masih mahal adalah saham yang layak untuk dikoleksi? 

Kalau tujuan anda mengincar saham-saham yang murah secara valuasi, tentu saja jenis saham seperti tidak cocok, karena walaupun kinerjanya bagus, tetapi PBV nya masih tinggi. 

"Lalu, saham-saham seperti ini cocok untuk investor jenis apa?"  

Saham-saham seperti ini cocok untuk INVESTOR LONG TERM, yang mengincar DIVIDEN. Long term disini bukan 6 bulan - 1 tahun, namun diatas 2 tahun. Sehingga target anda bukan capital gain jangka pendek atau menengah, tetapi untuk mengincar pertumbuhan dividen, return jangka panjang. 

Nah, kalau anda menemukan saham-saham seperti ini, memang tidak cocok untuk beli all in alias beli sekaligus. Saham-saham seperti ini cocoknya untuk program NABUNG SAHAM, di mana anda membeli sahamnya secara bertahap setiap bulan. 

Hal ini karena walaupun harga saham masih mahal secara valuasi, tetapi secara tren harganya sudah turun banyak, ditambah dengan kinerjanya yang bagus plus rajin bagi dividen, sehingga tidak ada salahnya anda mulai KOLEKSI sahamnya, dengan target untuk long term investment. 

Tetapi tetap saja ada risikonya: Valuasi yang masih mahal. Jadi disini anda akan menghadapi dilema: Valuasi mahal, tetapi secara tren jangka panjang harga saham sudah turun banyak.

Maka dari itu, "jalan tengah" yang bisa diambil untuk saham-saham seperti ini adalah dengan cara nabung saham untuk long term, karena kita tidak tahu apakah besok-besok harga sahamnya bakalan turun lebih banyak, atau justru sudah mentok di harga itu-itu saja, karena memang penurunan secara tren sudah signifikan.

Kalaupun harga sahamnya turun lagi, anda masih punya banyak modal untuk averaging, karena sistemnya adalah nabung saham, bukan langsung all in

Jadi dengan membeli saham secara bertahap (nabung saham), anda tinggal menunggu waktu jangka panjang agar saham anda bisa naik dan disitulah anda profit, plus dividennya. Berikut contoh nabung saham berdasarkan lot:

Simulasi menabung saham (berdasarkan lot)

Dalam menabung saham, anda bisa menggunakan dua metode. Pertama, membeli saham setiap bulan dengan jumlah lot yang sama (konstan). Kedua, dengan jumlah lot yang berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan modal anda saat itu. 

Atau, pada metode kedua, anda bisa memutuskan untuk membeli lot lebih sedikit di bulan tertentu apabila anda merasa bahwa harga saham belum banyak sentimen positif. Dan anda bisa menambah porsi lot di bulan-bulan tertentu, ketika anda menilai bahwa valuasi sahamnya sudah turun, atau anda memprediksi kinerja keuangannya akan bagus dalam waktu dekat (menjelang rilis laporan keuangan). 

Dengan memilih saham-saham yang bagus, program nabung saham / investasi anda benar-benar didasarkan atas kinerja fundamental perusahaan, bukan sekedar nabung saham di saham-saham yang turun tidak jelas, atau bahkan di saham yang hanya viral sesaat.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.