Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Saham Garuda Food: Kenapa Harganya Turun Terus?

Saham PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) merupakan salah satu banyak saham yang ketika akan melantai (listing) di pasar saham mendapatkan reaksi positif dari para investor, trader, analis saham.   

Kita tahu bahwa produk2 GOOD sangat terkenal di pasaran. Mudah kita temukan di supermarket, minimarket bahkan toko2 kelontong sekalipun. 


Beberapa produk Garudafood yang cukup terkenal
Pada saat akan IPO, banyak yang mengatakan GOOD adalah the next Mayora, the next Indofood. GOOD layak investasi, GOOD prospeknya bagus dan lain2. 

Tapi untuk saham2 yang baru listing di Bursa, saya tidak pernah bosan mengatakan pada anda: Jangan terlalu optimis, meskipun saham tersebut mungkin memiliki produk yang dikenal, atau bahkan digembar-gemborkan calon investor dan trader saham. 

Faktanya, ternyata saham GOOD ini harganya justru turun terus setelah IPO dari harga 3.000 dan sampai saat pos ini ditulis, GOOD berada di harga 1.600-an. Anda bisa lihat tren saham GOOD selama kurang lebih 9 bulan:



Kita barangkali juga ingat bagaimana dulu saham Waksita Beton Precast (WSBP) sangat ramai dibicarakan sebelum IPO, dan bahkan menjelang IPO sempat kelebihan permintaan (oversubscribed) sampai empat kali lipat. Namun, anda bisa lihat sendiri bagaimana tren WSBP sekarang.  

Walaupun saham ini menurut saya masih bagus buat trading (karena juga likuid), tapi coba anda bayangkan kalau anda nyimpan saham ini mulai harga IPO di harga 580-600, dan saat ini harganya turun sampai 360-an, maka saham anda nyangkut bertahun-tahun. 

Tentu saja hal ini tidak bijaksana kalau anda hanya membeli saham IPO hanya dengan mengandalkan 'kata Si A prospek', 'kata Si B bakal naik terus'.

Oke, kembali lagi ke saham GOOD. Jadi setelah saya amati fundamental maupun faktor2 lain, ada beberapa penyebab saham GOOD ini harganya turun terus, padahal produknya juga cukup dikenal:

1. Kinerja fundamental

GOOD ternyata mengalami penurunan kinerja fundamental setelah IPO, di mana ketika laporan keuangan rilis, laba bersih GOOD mengalami penurunan.




Pada kuartal I, laba bersih GOOD mengalami penurunan dari Rp160 miliat menjadi Rp130 miliar. Penurunan laba bersih ini terlihat besar di kenaikan beban penjualan dari Rp307 miliar menjadi Rp390 miliar. 

Demikian juga, di kuartal II laba bersih GOOD masih mengalami penurunan sebesar kurang lebih 5% (PDF-nya masih belum ada di IDX), di mana kuartal II laba GOOD sekitar Rp218 miliar, mengalami penurunan dibandingkan kuartal II tahun lalu sebesar Rp230 miliar. 

Jadi meskipun GOOD masih mencetak kenaikan laba dan penjualan bersih, namun laba bersihnya turun. Nah, penurunan laba bersih ini dapat mempengaruhi saham GOOD. 

Karena penurunan laba bersih ini bisa sangat mempengaruhi kepercayaan investor. Mayoritas investor di Indonesia masih berpatok pada bottom line alias laba bersih dalam mengambil keputusan investasi. 

Anda bisa perhatikan saham2 yang naik terus dalam jangka panjang, umumnya memiliki laporan laba yang konsisten meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga, penurunan laba ini dapat mempengaruhi sahamnya.

2. Pabrik Garudafood kebakaran 

Pabrik GOOD di daerah Pati, Jawa Tengah sempat mengalami musibah kebakaran. Hal ini tentu juga akan berpengaruh ke fundamental perusahaan, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi sahamnya.   

Kita semua tentu berharap agar GOOD bisa kembali bangkit dan ber-ekspansi, mengingat GOOD ini produknya adalah produk2 lokal yang sangat ramah untuk dikonsumsi. 

3. Jumlah saham beredar

GOOD adalah perusahaan yang memiliki jumlah saham beredar dan kapitalisasi pasar yang tidak terlalu besar. Tentu masih jauh dibandingkan INDF, ICBP bahkan MYOR sekalipun (di satu sub sektornya). Berikut adalah data perbandingan jumlah saham beredar beberapa perusahaan di sektor industri barang konsumsi sub sektor makanan dan minuman: 


Dari data diatas, bisa kita simpulkan bahwa jumlah saham beredar GOOD memang tidak terlalu besar. GOOD masih dibawah MYOR, CLEO, ICBP, ULTJ, INDF. Dalam trading saham, kalau anda amati, saham2 di sub sektor makanan dan minuman yang likuid adalah ICBP, INDF, CLEO, MYOR. 

Jumlah saham beredar yang tidak terlalu banyak ini dapat sangat mempengaruhi minat market untuk mentradingkan suatu saham. Itulah mengapa saham GOOD memiliki volume yang nggak terlalu besar. 

Anda mungkin sering memperhatikan juga perusahaan2 yang bisa mencetak laba bersih terus, tetapi sahamnya tidak terlalu likuid, dan volumenya juga kecil. Hal ini karena salah satunya adalah jumlah saham beredar perusahaan yang tidak terlalu banyak. 

Nah, dalam kasus saham GOOD ini, selain terjadi penurunan fundamental (walaupun tetap mencetak laba), saham beredar dan saham yang diperdagangkan GOOD ini juga tidak terlalu banyak, sehingga selain sahamnya tidak terlalu banyak peminat, sahamnya rentan 'digoreng' (semakin kecil saham beredar, semakin mudah saham tersebut digoreng bandar). 

4. Pelaku pasar mencari saham lain yang lebih pasti 

Kinerja GOOD yang mengalami penurunan laba ini, membuat pelaku pasar masih belum tertarik untuk mengangkat saham GOOD, walaupun produk2 GOOD sudah cukup terkenal di pasaran. 

Di sub sektor makanan dan minuman, pemimpin pasarnya adalah INDF dan ICBP yang merupakan saham blue chip yang bisa mencetak kinerja yang lebih konsisten, baik dari sisi pertumbuhan omzet, laba dan ROE, sehingga saham2 yang likuid di sektor makanan minuman sampai saat ini ya saham itu2 saja.  

Apakah saham GOOD ini sewaktu-waktu bisa naik lagi dan uptrend? 

Tentu saja bisa. Tapi dengan catatan, GOOD harus mampu meningkatkan laba-nya, dan melakukan banyak ekspansi, dan GOOD juga harus memiliki tata kelola perusahaan yang baik, supaya dalam jangka panjang emitennya bisa bertumbuh dengan baik. 

Karena tanpa tata kelola dan manajemen yang baik, perusahaan nggak bisa berjalan dengan baik. Kita bisa lihat contoh kasus saham AISA, di mana produk2nya juga terkenal, tapi karena manajemen yang buruk,  akhirnya AISA sekarang terancam delisting. 

MENCERNA LEBIH DALAM SAHAM-SAHAM IPO

Seperti yang saya katakan di awal2 tulisan ini, saham2 IPO harus anda cerna lebih dalam sebelum anda memutuskan untuk berinvestasi. 

Hal ini karena pertama: Kita belum tahu kinerja saham2 IPO setelah listing di Bursa. Jadi meskipun ada perusahaan2 yang produknya terkenal, tetapi untuk menyimpulkan apakah kinerjanya baik atau tidak, minimal anda harus melihat laporan keuangannya rilis terlebih dahulu minimal 1-2 kuartal. 

Hal ini terbukti pada saham GOOD, di mana walaupun produk2nya dikenal, tetapi setelah listing ternyata GOOD mengalami penurunan laba bersih sampai dua kuartal. 

Kedua, mayoritas saham2 IPO banyak yang digoreng. Anda bisa perhatikan bagaimana pergerakan saham GOOD minimal 3-4 hari setelah IPO. Perhatikan lagi grafik GOOD dibawah ini: 


Perhatikan bagaimana saham GOOD jatuh dari harga 3.000 ke 2.000-an hanya dalam waktu dua hari (tanda persegi). Hal ini menunjukkan adanya permainan bandar di saham2 IPO, seperti yang lazim terjadi pada mayoritas saham2 IPO. Dan saham GOOD setelahnya, harganya terus terjun bebas. 

Itulah beberapa penyebab utama mengapa saham GOOD produknya terkenal, namun sejak IPO harganya turun terus. Menurut analisa saya pribadi, penurunan GOOD yang utama ini disebabkan karena faktor fundamental dan 'permainan bandar' di saham yang baru IPO (di satu sisi jumlah saham beredar GOOD juga tidak terlalu banyak).  

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.