Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Saham Undervalue: Mencari Saham Undervalue Terkini

Cara mencari saham undervalue / murah secara fundamental sudah pernah kita bahas di pos sebelumnya: Cara Mengetahui Saham yang Undervalue (Valuasi Saham). Di pos ini, kita akan bahas bersama lebih banyak dan lebih dalam contoh mencari saham undervalue terkini. 

Jadi kita tetap sama menggunakan analisa Price Earning Ratio (PER), tapi kita akan analisa lebih dalam mengenai valuasi saham undervalue ini. Sekarang kita akan coba menganalisa satu sektor properti untuk sub sektor konstruksi bangunan. Baca juga: Cara Mencari Sektor dan Sub Sektor Saham.

Saya akan menggunakan contoh laporan keuangan kuartal I / 2019. Berikut adalah PER-nya:

Saham Undervalue
PER kita hitung dengan membagi harga saham dengan EPS yang sudah disetahunkan, karena datanya tadi kita pakai kuartal I, maka EPSnya harus disetahunkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurta, jadi angka EPS kita bagi 3 lalu dikali 12.

Kenapa pakai data kuartal I? Saya sudah bahas tulisannya disini:  Cara Mengetahui Saham yang Undervalue (Valuasi Saham).

ANALISA SAHAM UNDERVALUE 

Pada tabel diatas, kita sudah bisa melihat saham2 mana di satu sektor yang harganya sudah undervalue pada saat itu (terkini). Pada tabel diatas, terlihat bahwa rata-rata PER industri adalah sebesar 28 kali. 

Sedangkan PER saham yang berada dibawah rata-rata industrinya adalah saham2: TOTL (7 kali), NRCA (8 kali), SKRN (10 kali), WSKT (10 kali), WEGE (11 kali), ADHI, PTPP & WIKA (19 kali), IDPR (24 kali). 

Disini kita bisa melihat bahwa ada 9 saham yang valuasinya masih berada dibawah rata2 industri, dan 2 saham sudah diatas rata2 industri alias overvalue.

Pertanyaan selanjutnya: "Kalau disuruh memilih berdasarkan valuasi saham undervalue, saham mana yang akan anda beli?"

Untuk menganalisa saham2 yang undvervalue, pertama, anda bisa pilih 3-4 saham yang PER-nya paling rendah (kalau daftar saham di sektor tersebut ada banyak, tapi kalau di sub sektor cuma ada 4-6 saham saja, anda bisa pilih 1-2 saham yang PER-nya paling kecil). 

Berdasarkan analisa diatas, ada 4 saham PER-nya paling rendah yaitu: TOTL, NRCA, SKRN, WSKT.. Sedangkan saham2 lain seperti ADHI, PTPP, WIKA, IDPR sebenarnya PER-nya sudah tergolong tinggi juga, karena 

Oke jadi anda sudah punya 4 pilihan saham yang PER-nya paling rendah: TOTL, NRCA, SKRN, WSKT. Mana yang mau anda pilih?

Kalau anda bingung mau memilih yang mana dari antara beberapa yang paling undervalue, anda bisa pilih dengan dua cara:

1. Pilih saham yang paling populer

Saham yang paling populer bisa anda lihat dari kinerjanya, likuiditas sahamnya. Dari saham2 TOTL, NRCA, SKRN, WSKT, WSKT adalah saham yang memiliki kinerja paling baik, dan likuiditas sahamnya juga paling bagus diantara ketiga saham lain (anda bisa cek sendiri laporan keuangan dan pergerakan sahamnya / grafik). 

Demikian juga, kalau di satu sektor lain (saat anda menganalisa), anda menemukan ada 3-4 saham undervalue dan ternyata satu / dua diantara saham2 yang undervalue adalah saham blue chip, maka saham-saham blue chip ini bisa menjadi pilihan / prioritas anda. 

2. Pilih saham yang EPS -nya paling besar 

Anda bisa memilih saham2 yang EPS-nya paling besar. Jadi kalau ada beberapa saham yang PER-nya paling kecil dan anda bingung harus memilih yang mana untuk dibeli, pilihlah saham2 yang punya EPS paling besar, karena EPS yang besar umumnya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan saham2 yang EPS-nya kecil atau bahkan sangat kecil. 

Dari keempat saham diatas, TOTL (78,92) dan WSKT (211,08) punya EPS yang paling tinggi. Tetapi mempertimbangkan likuiditas dan pertumbuhan labanya (anda bisa cek di LK-nya masing2) dan likuiditas, maka WSKT menurut saya, masih lebih baik dibandingkan TOTL. 

Jadi kesimpulannya, berdasarkan analisa saham undervalue yang sudah kita analisa diatas maka: Pilihan saham undervalue yang paling baik, tetap ada pada WSKT. 

Itulah cara dan analisa simpel tentang mencari saham2 yang undervalue saat ini. Nilai PER saham bisa berubah-ubah terus, karena salah satu komponen PER adalah harga saham, di mana harga saham berfluktuatif. 

Kalau anda mau menghitung PER, masukkan data terkini (harga closing terakhir), dan laporan keuangan perusahaan terakhir (kalau kuartal berarti disetahunkan dulu), supaya anda bisa  mendapatkan hasil valuasi saham yang lebih akurat untuk dianalisa. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.