Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Indikator-Indikator Penting Analisa Teknikal

Dalam analisa teknikal saham, kita mengenal cukup banyak indikator maupun analisa teknikal klasik. Baca juga: Ciri-ciri Indikator Saham yang Bagus.

Analisa-analisa teknikal yang seringkali anda temukan, memiliki banyak kegunaan, fungsi dan peran yang berbeda-beda. Sebagai trader saham, anda perlu mengetahui kegunaan2 analisa teknikal, sehingga anda bisa mengambil keputusan trading dengan benar. 

Oke, berikut adalah indikator-indikator penting dalam analisa teknikal: 

1. Indikator yang menunjukkan sinyal beli dan sinyal jual 

Indikator ini ditunjukkan dengan adanya area garis overbought dan oversold. Secara singkat, overbought berarti indikator memberikan sinyal bahwa harga saham sudah terlalu tinggi, sehingga harga saham akan koreksi / turun. Artinya ini adalah sinyal bahwa anda harus segera menjual saham yang anda miliki.  

Sebaliknnya, oversold berarti indikator memberikan sinyal bahwa harga saham sudah turun, sehingga harga berpotensi untuk rebound. Indikator overbought dan oversold bisa dilihat dari garis horizontal yang ada pada indikator masing2. Misalnya, overbought berada di area diatas 80, dan oversold berada di area dibawah garis 20. 

Contoh indikator yang menunjukkan sinyal beli dan jual ada indikator momentum seperti Stochastic Oscillator, RSI, Williams %R dan lain2. Seperti dibawah ini: 


Tanda panah yang ada diatas itu merupakan area overbought dan tanda panah dibawah merupakan area oversold. Yup, indikator inilah yang berfungsi  untuk menunjukkan indikator sinyal.  

2. Indikator yang menunjukkan tren (uptrend & downtrend) 

Analisa teknikal grafik tidak bisa lepas dari TREN. Anda harus mengetahui apakah tren suatu saham sedang uptrend (naik), downtrend (turun) atau sideways (datar). 

Kenapa indikator tren itu penting? Tren sangat berfungsi bagi trend follower, yaitu trader yang trading dengan cara mengikuti tren suatu saham. Trader akan membeli kalau tren naik, dan tidak dijual sampai tren suatu saham benar2 menunjukkan penurunan. 

Tren juga bisa menunjukkan apakah suatu saham sedang dalam kondisi bullish maupun bearish. 

Contoh indikator yang bisa menunjukkan tren adalah indikator Moving Average (MA). Dalam MA, ada simple moving average (SMA), exponential moving average (EMA) dan weighted moving average (WMA). Setinggan indikator MA adalah SMA. Saya pribadi biasa menggunakan SMA dalam analisa. Ketiganya hampir sama, hanya beda pada pembobotan garis MA saja. 

Klik gambar untuk memperbesar

Pada contoh grafik diatas, ada MA25 (orange) dan MA50 (biru). Saham ini bisa dikatakan berada dalam tren turun karena saham berada dibawah MA50 dan MA25. Di satu sisi, MA50 bisa menjadi titik resistennya. 

Sedangkan saham bisa dikatakan mulai breakout atau memulai uptrendnya lagi apabila saham menembus MA25. Sehingga level entry buy bisa ditentukan ketika dan MA50 yang ada diatas bisa menjadi acuan titik resisten selanjutnya. 

Buat anda tipikal trader yang menghindari saham-saham yang lagi turun secara tren, maka indikator tren bisa menjadi acuan penting untuk itu.  

Penerapan analisa tren khususnya buat strategi2 swing trading, juga banyak saya bahas praktiknya disini: Panduan Simpel dan Efektif Memilih Saham Bagus. 

3. Indikator yang menunjukkan level cut loss dan profit taking 

Sinyal beli jual bisa dilakukan menggunakan indikator momentum (poin 1). Namun, indikator2 tersebut terkadang belum cukup membantu untuk melihat pada level / harga berapa titik acuan untuk beli dan jual (cut loss maupun profit taking).

Maka dari itu, perlu anda indikator yang bisa memberikan acuan bagi trader untuk melihat titik beli-jual suatu saham, yaitu indikator yang menentukan level cut loss dan profit taking.

Contoh indikator yang menunjukkan level cut loss dan profit taking misalnya indikator Zig Zag. Perhatikan contoh indikator Zig Zag dibawah ini:  


Garis Zig Zag tampak pada garis warna merah, anda bisa lihat bentuknya seperti zig zag yang  berada di dalam grafik saham. Indikator ini bisa memberikan titik entry kapan anda harus beli dan jual. 

Ketika garis zig zag berada di area low (tanda lingkaran), maka itu adalah daerah support yang bisa menjadi acuan beli saham. Jadi jika saham turun di area2 tersebut dan bertahan (tidak jebol), maka anda bisa ambil entry buy. 

Sebaliknya, jika indikator zig zag berada di area high (tanda persegi) yang menjadi acuan turunnya saham setelahnya, maka anda bisa menjual saham ketika harga saham sudah berada / minimal  mendekati area high-nya pada indikator zig zag tersebut. Paham sampai disini? 

Indikator lain yang bisa anda pakai selain zig zag untuk menentukan titik entry ini adalah bollinger bands. 

Indikator2 tersebut bisa dikombinasikan juga dengan indikator momentum. Misalnya jika indikator momentum menunjukkan garis oversold, dan harga saham sudah menyentuh harga low pada indikator zig zag atau bollinger bands, maka anda bisa mulai membeli sahamnya (entry buy).  

TIDAK ADA INDIKATOR YANG SEMPURNA

Perlu anda ingat, dalam analisa teknikal tidak ada yang namanya indikator sempurna. Artinya ketika anda menggunakan indikator sinyal beli dan jual (poin 1) misalnya, maka bisa jadi 

Karena sebenaranya indikator teknikal dalam trading itu sifatnya adalah "alat bantu", bukan analisa utama. Saya juga pernah menuliskannya disini: Kombinasi Indikator Saham yang Ideal.

Untuk mendapatkan hasil trading yang lebih baik, anda harus memadukan / mengkombinasikan indikator trading dengan analisa teknikal klasik, yaitu menentukan support-resisten, candlestick, chart pattern. Satu lagi, anda harus memilih saham yang tepat untuk trading. Baca juga:  Cara Screening Saham Bagus.

Tiga indikator ini penting untuk anda ketahui dan pahami perbedaan fungsinya, supaya anda bisa memaksimalkan penggunaan indikator untuk meraih profit di saham. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.