Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Reverse Stock Split, Berdampak Buruk terhadap Harga Saham

Di pasar saham ada banyak sekali aksi korporasi yang dilakukan perusahaan. Salah satu aksi korporasi yang menimbulkan reaksi pemegang saham adalah reverse stock split. Jika anda belum paham apa itu RSS, baca pos berikut: Reverse Stock Split di Bursa Saham

Sejak awal tahun 2017, beberapa perusahaan Bakrie memutuskan untuk melakukan reverse stock split. Baca juga: UNSP dan ENRG akan Reverse Stock Split. Apa dampaknya? Ternyata, pengumuman reverse stock split berdampak negatif terhadap harga saham perusahaan.

Anda bisa lihat saham2 Bakrie (ELTY, ENRG, UNSP, DEWA) yang langsung anjlok sampai 30% dalam sehari ketika beredar berita mengenai aksi reverse stock split ini. Beberapa saham Bakrie, turun hingga kembali ke gocap. Aksi korporasi ini bukan issue lagi, namun sudah memasuki tahap RUPSLB. 

Kejatuhan harga saham hingga 30% ini sebenarnya lebih merupakan adanya aksi panic selling. Aksi korporasi reverse stock split ini bukan hanya sekali-dua kali saja berdampak negatif terhadap harga saham, namun hampir setiap emiten yang melakukan reverse stock split, harga sahamnya biasanya akan jatuh. 

Anda masih ingat ketika FREN melakukan reverse stock split dengan rasio 20:1? Yangb terjadi setelahnya adalah harga sahamnya anjlok lagi dan bablas kembali ke harga gocap.    

Reverse stock split merupakan aksi korporasi yang tidak disukai pemegang saham karena walaupun aksi korporasi ini bisa meningkatkan harga saham perusahaan, namun dapat mengurangi jumlah saham beredar, sehingga harga saham menjadi lebih tidak likuid. Reverse stock split ini kan meringkas saham jadi lebih sedikit. Sampai disini sudah paham? 

Tapi, mungkin banyak juga pemegang saham yang justru menginginkan harga saham yang murah ketimbang mahal. Tentu anda lebih mudah mendapatkan banyak lot ketika beli saham di harga Rp55 ketimbang beli saham di harga Rp1.000. 

Jadi, ketika perusahaan akan melakukan reverse stock split, dan ketika harganya sudah naik banyak, maka terlalu berisiko jika anda tetap nekad membeli sahamnya. Mungkin anda perlu menunggu momen harga saham rebound yang tepat 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.