Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Perusahaan Tbk Abal-abal (Part I)

El Heze
Pada saat jam bursa berlangsung, kalau Anda membuka software online trading dan mengamati  pergerakan harga saham di pasar modal, maka Anda akan melihat ada banyak sekali kode saham perusahaan Tbk, yang bisa di tradingkan maupun diinvestasikan. Jumlahnya bahkan mencapai 500 lebih. Walaupun jumlah perusahaan go public di Indonesia jumlahnya masih jauh kalah banyak dibandingkan beberapa perusahaan2 di ASEAN, seperti Singapura dan Thailand, namun tentu saja tidak mungkin Anda membeli semua sahamnya bukan?

Permasalahannya, walaupun jumlah emiten go public di Indonesia mencapai 500 lebih, namun tidak semua saham-saham di pasar modal itu bergerak semua alias di trading-kan. Banyak pula saham-saham yang sama sekali tidak pernah dilirik oleh investor. Sehingga, saham2 seperti ini tidak bergerak dan pada akhrinya menjadi saham tidur (tidak bergerak dalam jangka waktu yang cukup lama). 

Saham-saham di pasar modal banyak yang arah pergerakan harganya tidak jelas. Banyak saham-saham murah yang murahan, yang harganya cuman Rp120 dan sangat tidak likuid. Tidak bergerak, kemudian kalau ada rumor sedikit, harga sahamnya tiba2 naik 20% dalam sehari, atau turun 20% dalam sehari. Saham2 seperti ini biasanya disebut sebagai saham gorengan / penny stock. Saham2 jenis ini dimainkan oleh spekulan2 dan tidak jarang trader2 yang latah akhirnya terjebak kerugian di saham2 "palsu" seperti itu. Apa Anda pernah juga terjebak?

Berikut adalah beberapa contoh saham2 yang tidak likuid dilihat dari chartnya:



Berikut Anda bisa lihat saham tidur dilihat dari chartnya.. Sama sekali tidak bergerak.


Dan kalau saya akui, sesungguhnya meskipun jumlah saham di pasar modal Indonesia sudah mencapai 500 lebih dan pastinya akan terus bertambah, namun saham2 yang bergerak secara "normal" dan likuid hanya puluhan saja. Kalau Anda ingin tahu saham apa saja, maka saya contohkan adalah saham2 yang tergolong dalam saham LQ45 (diperbaharui 6 bulan sekali). Sesuai namanya, LQ45 berarti terdiri dari 45 saham yang paling likuid di pasar modal. Biasanya saham2 blue chip hampir selalu konsisten masuk LQ45. 

Meskipun LQ45 itu sendiri bukan ditujukan untuk kumpulan saham2 yang memiliki kinerja fundamental yang bagus, karena saham LQ45 hanya dikhususkan untuk saham2 yang LIKUID secara transaksi saja. Walaupun, banyak dari saham2 LQ45 yang kinerja fundamentalnya memang terbukti cemerlang, dikenal oleh masyarakat sehingga berpengaruh terhadap perkembangan harga sahamnya. Contoh: BBRI, BBCA, GGRM, UNVR. Saham2 ini selalu konsisten masuk dalam daftar LQ45, dan saham2 ini selalu memberikan pengaruh yang besar terhadap IHSG.   

Coba lihat grafik INDF. Bandingkan dengan saham2 tadi (candle dan volumenya).



Dan saham2 yang bergerak secara "normal" itu tadi, memang tidak selalu saham LQ45. Saham2 yang diluar LQ45, seperti PPRO (suatu saat mungkin akan masuk LQ45) pergerakan harga sahamnya juga bagus dan kalau saya amati, sistem antrian sehari-hari, bid-offernya selalu banyak peminat. 

Lantas barangkali yang jadi pertanyaan Anda: "Kenapa kok saham2 perusahaan  banyak sekali yang nggak gerak, hanya puluhan saja yang gerak secara "normal"?"

Perlu Anda ketahui, perusahaan-perusahaan yang memutuskan untuk go public yang secara otomatis sahamnya bisa dimiliki oleh masyarakat umum, memiliki banyak tujuan. Ada perusahaan yang benar2 niat go public. Ciri2 perusahaan yang memang benar2 niat go public adalah perusahaan tersebut akan benar-benar berusaha untuk menyenangkan pemegang sahamnya melalui kinerjanya yang cemerlang. Dan salah satu caranya, yaitu dengan membagikan dividen. 

Perusahaan2 yang niat go public tercermin dari laporan keuangannya, dan mereka biasanya menjadi leader di sektor usaha sejenisnya yang terlihat dari kinerjanya. Dan sebenarnya sudah dapat Anda perhatikan dari harga sahamnya juga. Saham2 INDF, ICBP, UNVR, AALI saya rasa mereka adalah perusahaan2 yang memang go public tidak hanya asal go public saja hanya untuk kepentingan pribadi.

Manajemen mereka benar2 ingin agar perusahaannya diperhatikan tidak hanya oleh orang2 dalamnya saja, namun juga oleh investor2 ritel nantinya. Mereka ingin mengungkapkan suatu keterbukaan informasi pada masyarakat. Mereka ingin agar orang2 membaca laporan keuangannya yang bagus, produknya semakin dikenal, laku di pasaran, dan pada akhirnya masyarakat umum pun akan semakin banyak berinvestasi di perusahaan mereka. Intinya, perusahaan Tbk yang memang benar2 niat go public, mereka benar2 ingin terbuka dan menguntungkan investor dari kenaikan harga sahamnya. 

Tetapi, seperti yang saya bilang tadi, perusahaan Tbk yang seperti ini di pasar modal jumlahnya cuman sedikit, hanya puluhan dari 500 lebih emiten Tbk. Lalu kenapa kok perusahaan2 Tbk banyak yang terkesan nggak peduli sama sekali sama pemegang sahamnya?

Coba Anda amati laporan keuangan perusahaan2 yang harga saham2nya nggak karu-karuan. Mereka rata2 kinerjanya amburadul. Utangnya gede, mengalami rugi, kena konflik internal dan sebagainya. Seharusnya, kalau mereka mau go public ya mereka harus punya prospek bagus, kalau tidak kan investor yang rugi. Benar tidak? 

Saya tidak bisa menyimpulkan secara langsung apa alasan2 perusahaan Tbk yang nggak niat go public ini, alias kalau versi saya sendiri, saya menyebutnya sebagai: PERUSAHAAN TBK ABAL-ABAL. Karena untuk melalui proses supaya bisa lolos go public itu sama sekali nggak mudah dan nggak cepat. Tapi yang jelas, kemungkinan besar, tujuan utama mereka memilih untuk go public bukan supaya mereka menguntungkan investor2 ritel seperti Anda. Tapi, dengan go public, maka mereka dapat meningkatkan branded image. Dan untuk gengsi.

Perusahaan yang berstatus PT akan lebih mudah memperoleh kemudahan2 dibandingkan CV, firma, UD. Terlebih lagi, kalau mereka sudah berstatus Tbk. Kemungkinan lain juga, dengan status Tbk, mereka akan lebih mudah meyakinkan para pelanggannya, mungkin para pelanggan dari luar negeri (tujuan eksport produk, bahan baku). 

Dan faktanya, banyak perusahaan2 Tbk yang nggak jelas apa tujuannya kok memilih untuk go public, padahal jelas2 laporan keuangan mereka amburadul dan akan merugikan investor. Harga sahamnya pun tidak likuid sama sekali, yang juga berpotensi merugikan investor. 
Dalam hal ini memang yang dirugikan, terutama INVESTOR RITEL, seperti kita2 ini: masyarakat umum, pelajar, TNI, polri, ibu rumah tangga, guru, full time trader dan lain-lain. Intinya masyarakat umum yang pastinya dananya tidak segede institusi ataupun para spekulan, mereka akan sangat dirugikan. 

Kenapa saya katakan investor ritel ini yang paling kasihan? Karena investor ritel ini banyak sekali yang nggak peka. Mereka trading hanya karena lihat ada saham perusahaan yang naik cepat, dan kelihatannya menguntungkan. Akhirnya mereka nekat masuk tanpa analisis, dan hasilnya: dana mereka amblas... Selain itu, investor ritel tidak punya "kekuatan" untuk menaikkan harga saham tertentu secara signifikan, karena posisi dana mereka sangat terbatas.

Baca Part II pos saya selanjutnya: Jangan Mau Trading di Perusahaan Tbk Abal-abal (Part II- Habis)

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.