Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Mana yang Boleh: Averaging Up atau Averaging Down?

Melakukan tindakan averaging up dan averaging down ketika membeli saham biasanya dipengaruhi oleh psikologis trading seseorang. Kedua tindakan tersebut, sangat mencerminkan kondisi perasaan seorang trader saat melakukan averaging up maupun averaging down. Kalau Anda belum memahami istilah averaging up dan averaging down, silahkan baca pos: Averaging Down dan Averaging Up Saham.

Tanya Anda: "Apa maksudnya psikologis?"

Saya mulai satu-persatu.  Saya mulai dengan averaging down terlebih dahulu. Seperti di pos yang saya jelaskan, averaging down berarti membeli saham (lagi) pada harga yang lebih rendah karena memang saham yang Anda miliki harganya sedang turun. Kenyataannya, di pasar saham banyak sekali trader yang melakukan ini (saya pun juga pernah). 

Awalnya saya berpikir bahwa averaging down adalah tindakan yang tepat. Kenapa? Karena saya berpikir melakukan averaging berarti saya dapat saham di harga rata2 yang lebih murah, sehingga lebih mudah untuk menjual. Namun, perlahan saya sadar, bahwa melakukan averaging down berarti itu adalah tindakan penakut. Lho, kok bisa?

Sesungguhnya, ketika melakukan averaging down Anda sedang berada dalam kondisi takut dan panik, kalau-kalau harga sahamnya turun terus. Sehingga, lebih baik melakukan averaging down agar kalau harga sahamnya naik sedikit, sudah bisa jual untung karena kita bisa dapat di harga rata2 yang lebih rendah. 

Membeli saham di harga yang lebih murah saat harga sahamnya anjlok banyak artinya Anda berharap dan terus berharap supaya harga saham akan berbalik naik. Tindakan ini tentu tidak bijak. Kenapa? Karena tindakan ini hampir sama dengan gambling dan  kenyataanya banyak trader yang melakukan hal tersebut dan sahamnya malah 'nyantol' nggak bisa jual lagi. Baca pos: Penyebab Saham 'Nyantol': Trader Nggak Mau Cut Loss.

Yang jadi permasalahan: Anda tidak tahu kapan harga akan balik naik ke harga semula. Ketika Anda melakukan averaging down, dan ternyata harganya nggak balik naik, maka kepemilikan Anda semakin bertambah dan Anda tidak bisa menjual alias 'nyantol'. Andaikan Anda membeli saham BUMI dengan harga Rp8.000 per lembar ketika BUMI masih blue chip tahun 2008, dan ketika BUMI turun sampai RP7.800, Anda beli lagi sahamnya di harga Rp7.700. Ternyata sahamnya turun terus sampai hari ini pos diupdate (13 Februari 2016), harga sahamnya tinggal Rp50. Maka, sesungguhnya Anda sudah melakukan kesalahan besar. 

Sehingga, bahasa kasarnya, averaging down adalah tindakan 'pengecut'. Trader melakukan averaging down karena trader tidak berani melakukan cut loss, yang berakibat, pada banyak kasus, sahamnya nyantol. 

Bagaimana dengan averaging up sendiri?

Averaging up adalah tindakan yang justru disarankan ketika Anda trading, bukan averaging down. Kebalikannya, kalau averaging down tadi saya bilang pengecut, maka averaging up saya bilang adalah tindakan percaya diri. 

Anda disarankan membeli saham dengan harga average, kalau harganya naik (averaging up), karena hal tersebut menunjukkan keyakinan, bukan keraguan. Kenapa? Karena logikanya, camkan hal yang satu ini, di pasar modal:

"Saham2 yang mampu memberikan profit adalah saham2 yang harganya bullish, bukan saham2 yang harganya anjlok." Dan terbukti, selama saya trading, saham2 yang mampu memberikan profit untuk saya memang adalah saham2 yang bullish, bukan saham2 yang anjlok. 

So, harusnya Anda menambah kepemilikan saham Anda saat harganya lagi naik, bukan saat harganya sedang turun. 

Atas dasar inilah Anda disarankan untuk melakukan averaging up, bukan averaging down. 

4 komentar:

  1. Informasi yang jarang didapat dari blog lain gan.... :-D

    ReplyDelete
  2. Bung Heze, bagaimana jika kita average down saham yang kita yakini suatu saat (entah itu cepat atau lambat) saham tersebut pasti akan naik lagi. Misalnya nih dalam kasus WSBP, banyak retail yang nyangkut di saham ini semenjak IPO (termasuk saya), sehingga melakukan average down pada saham ini, karena memiliki keyakinan perusahaan akan menghasilkan kinerja yang baik di masa yang akan datang. Apakah hal tersbeut dibenarkan atau bagaimana Pak ? terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Averaging down secara umum tidak disarankan untuk trader..

      Tapi dalam sedikit kasus kalau anda benar2 memiliki keyakinan akan fundamental perusahaan, anda bisa melakukan averaging down...

      Sebagai contoh Lo Kheng Hong melakukan averaging down pada saham PTRO beberapa kali ketika harganya turun. Karena sejatinya saham PTRO Lo Kheng Hong ketika dibeli di kisaran tahun 2013-2014 sekitar harga 1.100-an, harganya dalam beberapa tahun turun ke 300.

      karena beliau punya keyakinan fundamental, beliau melakukan av. down.

      Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa averaging down umumnya memang tidak saya sarankan, dan jangan sampai tindakan ini menjadi kebiasaan. Lakukan averaging down kalau anda benar2 yakin..

      Lo Kheng Hong melakukan averaging down selain karena yakin dengan fundamental PTRO, Lo Kheng Hong memiliki dana super besar, sehingga bisa menambah jumlah saham sebanyak mungkin saat harganya turun berapapun..

      Nah, kalau anda mau averaging down perhatikan juga modal anda. Jangan sampai bablas melakukan averaging down dengan modal terbatas hanya karena ingin mendapat saham di harga rendah

      Delete

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.