Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Emosi Trader: Pengalaman Saya Kena Force Sell

Pada postingan: "Pak, Saya Ingin Trading di Pasar Saham" sudah saya jelaskan mengenai pentingnya emosi trader saham. Sekarang saya ingin membagi pengalaman saya kepada Anda, karena saya juga trader saham (walaupun ada saham2 yang saya simpan untuk jangka panjang). Mengapa saya berani menulis tentang emosi investor dan sekaligus menyatakan itu penting? Karena saya pernah mengalami sendiri. Ya, saya pernah kena force sell. Untuk memahami force sell dan mekanisme force sell, silahkan buka postingan: Istilah Force Sell di Pasar Modal.

Nah pengalaman saya, saya kena force sell pada saat saham yang saya hold harganya masih turun terus. Ini yang menyedihkan. 

Saya sebenarnya sudah menemukan cara saya sendiri menggunakan analisis teknikal untuk trading saham yang bisa dapat cuan. Tapi saya pernah punya pengalaman terkena force sell. Saya pernah membeli saham Aneka Tambang (ANTM), di harga 1230. Setelah beberapa lama, harganya ternyata turun lagi ke 1.125. 

Karena harganya turun lagi, saya langsung lepas kontrol, karena lihat harganya turun terus. Saya tidak cut loss, dan membeli ANTM lagi dalam jumlah agak banyak di harga 1.095. Harapan saya, saya bisa dapat average price yang lebih murah, sehingga ketika naik, saya lebih mudah dapat cuan ketika jual.

Ternyata harga sahamnya kok malah turun terus.... Saya sudah mulai nyesel soalnya nggak pasang cut loss. Saya seharusnya melakukan cut loss di harga 1.150. Saya sudah amati waktu itu, ANTM nggak kuat nahan supportnya di 1.150. Saya sudah mau pasang cut loss di harga 1.150, tetapi saya kurang bisa mengendalikan emosi. Saya terlalu banyak berharap dapat harga yang lebih rendah dengan beli ANTM lagi di harga yang lebih murah.

Karena sudah lepas kontrol, saya nggak sadar, dana yang saya gunakan untuk beli ANTM lagi di harga 1.095 itu ternyata adalah dana pinjaman dari kantor sekuritas. Sebenarnya nggak masalah pinjam, asal harus bisa dikembalikan dengan cara menjual saham kita kurang dari 1 minggu. Saya sudah tahu kalau ANTM ini mungkin nggak akan bisa cuan dalam seminggu. Harganya memang ternyata turun terus. Total saya punya ANTM sekitar 40 lot.

Setelah saya nggak mantau ANTM agak lama, kemudian setelah saya pantau lagi, ternyata saham ANTM saya tinggal 19 lot. "Lho kok bisa, padahal saya nggak pernah jual saham saya, kok bisa jual-jual sendiri"? pikir saya. Saya bingung dan panik, karena setengah saham ANTM saya terjual rugi di harga 925. Padahal saya dapat di harga 1.095 dan 1.230, yang kalau di rata-rata, aya masih dapat harga rata-rata di 1.162,5.

Saya coba cek email saya, karena kalau ada saham yang di buy maupun di sell, dari kantor sekuritas selalu memberi email, berupa keterangan saham yang dibeli, beserta lot dan amount-nya. Pas saya cek email saya, nggak taunya saya buka ada email dari kantor sekuritas kemarin yang menyatakan bahwa saya harus segera menjual saham saya atau menambah dana sebesar saham yang saya beli sampai batas jam 2 siang, karena dana tersebut ternyata adalah pinjaman dari kantor sekuritas (sebesar 1.095 X 19 lot X 100 lembar X fee beli o,17%).  

Kemudian, saya cek email lagi, ada email baru lagi yang menyatakan bahwa saham saya sudah di force sell. Saya telat buka email, sehingga saya kena force sell dalam keadaan rugi. Tapi, itu semua salah saya. Saya membeli saham tanpa memperhatikan sisa dana saya.

Perasaan saya waktu itu campur aduk. Sempat berpikir untuk berhenti trading saham. Saya bahkan beberapa minggu tidak memantau lagi pergerakan harga saham karena saya shock. Saya shock dan rasanya masih nggak percaya kalau saya kena force sell. Karena ini baru kejadian pertama. Tapi kerugian yang saya alami, bukanlah alasan untuk menyerah. Walaupun shock dan semat berpikir berhenti trading, perlahan saya melakukan refleksi.   

Mau tau kenapa saya kena force sell? Jawabannya: karena saya lupa mengendalikan emosi. Ya, emosi saya sebagai seorang trader saham. Saat saya buy saham ANTM, harga saham ANTM mengalami penurunan. Ketika mengalami penurunan, disitulah emosi kurang terkontrol. 

Saya membeli saham ANTM lagi dalam jumlah cukup besar, dengan tujuan mendapat harga average yang lebih murah, sehingga kalau saya sell sahamnya, akan lebih mudah cuan. Saya sudah mendapat harga average yang lebih murah, akan tetapi harga sahamnya tak kunjung naik. Dan saya tau, kalau harga saham ini bakal agak lama naiknya, dan ternyata ASTAGA... Saya lupa!!!

Saya lupa kalau dana yang saya gunakan itu adalah dana pinjaman dari kantor sekuritas. Saya nggak sadar. Saya membeli saham, tapi saya lupa mengecek posisi dana saya, dan dana yang saya pakai ternyata adalah dana pinjaman. Saking pinginnya dapat harga average murah. Saya nggak cek sisa dana saya. Tiba-tiba, setelah lima hari, saya langsung kena force sell. Saya baru sadar ketika cek portofolio saya dan ada saham saya yang di sell padahal  harganya lagi turun dan akhirnya saya rugi.

Apakah salah kantor sekuritas? Apakah kesalahan pasar?

Jawabannya adalah Tidak. Semua adalah kesalahan saya sendiri. Kesalahan "lupa" mengendalikan emosi. Karena saya juga punya pengalaman buruk, mengalami rugi gara-gara tidak bisa mengendalikan emosi.

So, jika Anda adalah seorang trader, seorang teknikalis, mengendalikan emosi itu sangatlah penting. Anda mengerti analisis teknikal, tetapi tidak mampu mengontrol emosi trader, maka sama saja Anda akan rugi.  

5 komentar:

  1. Berarti memang harus disiplin ya, pak? Kalo sdh menentukan harga cut loss ya harus segitu, nggak boleh ngarep2 lagi. benarkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat sekali, Yang utama adalah kedisiplinan. Saya sudah pernah melanggar kedisiplinan saya sendiri dan ternyata ruginya lebhi besar waktu cut loss...

      Tapi, baik cut loss (CL) maupun take profit (TP) adakalanya kita harus jeli dalam menilai kondisi makro. Contoh: akhir Maret - pertengahan April 2015 IHSG kita masih bullish, tapi ternyata sudah ada berita nggak enak bahwa ekonomi akan lesu (didukung dengan bbrp emiten yang menyampaikan penurunan laba pada Q1 2015). IHSG pun perlahan mulai turun, sampai akhir April 2015, IHSG awal kejatuhan IHSG. Saya punya saham waktu itu, yang kalau sedikit lagi sell saya bisa profit lumayan. Tapi, karena pasar mulai gejolak, saham saya pun turun, akhirnya saya segera menjual saham di harga sekian, walaupun saya sudah target TP di harga sekian, tapi saya turunkan lagi targetnya krn saham saya turun akibat makro ekonomi.. Jadi kalau dari kasus saya, saya sebenarnya "melanggar" batasan saya. saya bilang TP di harga 1.300. Tpai malah TP di 1.255

      Hasilnya: saya tetap untung karena saya lakukan batasan mskipun untungnya jadi jauh lebih sedikit, walaupun saya "melanggar" batasan TP saya yang sebenarnya, tapi setidaknya keputusan saya sudah tepat. Karena setelah itu, IHSG benar2 anjlok sampai 24 agustus ke 4.100 dan saham yang sbeelumnya saya pegang itu juga turun drastis tidak bisa naik ke 1.300..

      Jadi, kejelian kita dalam analisis psar juga sgt dbthkan.. Itu juga bagian dri kedisimpinan

      Delete
  2. saya juga mengalami nya, hampir persis seperti yang bapak alamai dan kerugian yang saya alami saat itu lumayan banyak. dan sampai sekarang memang meninggalkan shock yang sangat dalam bagi saya, dan saya berhenti bermain saham sudah hampir setahun ini.

    belakangan ini saya tertarik lg ingin bermain saham lagi tapi saya lagi hunting di sekuritas mana yang bagus main nya dan bagus trader nya untuk memantau saham yang akan saya beli nantinya.

    mohon rekomendasi nya pak. trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bisa menyebut sekuritas mana yang bagus karena semua orang punya preferensi sendiri terhadap tipe sekuritas yang cocok. Namun ada beberapa tips memilih perusahaan sekuritas yang bagus. Baca postingan:

      http://www.sahamgain.com/2016/01/tips-memilih-perusahaan-sekuritas.html

      Delete

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.