Return on Equity (ROE) adalah salah satu rasio keuangan yang sering digunakan oleh investor saham untuk menilai kondisi kesehatan dan kemampuan perusahaan dalam memperoleh profitabilitas / laba bersih.
ROE seringkali menjadi patokan investor dalam menilai kondisi perusahaan. Perusahaan dengan ROE yang tinggi, tentu akan lebih menarik minat investor untuk menginvestasikan modalnya di perusahaan tersebut.
Sebaliknya, ROE yang kecil juga membuat investor berpikir kembali untuk menginvestasikan modalnya. Rumus Return on Equity (ROE) adalah laba bersih / ekuitas pemegang saham. Berikut rumus ROE:
ROE adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal yang diinvestasikan (ekuitas). Semakin besar ROE, artinya perusahaan dapat memaksimalkan ekuitas yang dimiliki untuk menghasilkan profit.
Perlu anda ketahui, ROE juga menunjukkan seberapa besar potensi tingkat pengembalian (return) yang bisa diperoleh. Karena salah satu pengurang komponen ekuitas adalah DIVIDEN. Dividen dibayarkan dari laba ditahan.
Maka semakin besar ROE, artinya investor memiliki potensi untuk mendapatkan dividen yang lebih besar (tingkat pengembalian investasi berupa dividen). Semakin besar ROE, perusahaan juga memiliki kemampuan membagikan dividen lebih banyak pada para pemegang saham.
CONTOH SOAL RETURN ON EQUITY
Untuk mencari ROE, anda membutuhkan data laba bersih dan ekuitas total. Anda bisa mendapatkan angka-angka tersebut di laporan laba rugi perusahaan untuk laba bersih, dan laporan perubahan ekuitas atau laporan posisi keuangan (Neraca) untuk angka ekuitas total.
Di pos ini, kita akan membahas contoh soal Return on Equity. Kita akan menghitung analisa rasio ROE perusahaan selama 4 tahun kebelakang. Kita akan menggunakan contoh rill laporan keuangan perusahaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Berikut tren dan perhitungan rasio ROE BBCA selama 4 tahun:
| Contoh Soal ROE |
Perhatikan Return on Equity (ROE) BBCA selama 4 tahun. Selama 4 tahun berturut-turut rasio ROE BBCA selalu mengalami penurunan, dengan rasio 17.75%, 17.04%, 16.41% dan 14.70%.
Penurunan rasio ROE mengindikasikan bahwa terjadi penurunan kemampuan BBCA dalam menghasilkan laba bersih dari ekuitas / modal yang diinvestasikan. Kita bisa lihat pada tahun 2020 terjadi penurunan laba bersih, di satu sisi ekuitas mengalami peningkatan dari Rp174.143.156 menjadi Rp184.714.709.
Demikian juga pada tahun-tahun sebelumnya, laba bersih dan ekuitas sama-sama meningkat tetapi ROE-nya turun. Artinya, ekuitas yang dimiliki perusahaan seharusnya bisa didayagunakan lebih maksimal lagi untuk mendapatkan laba bersih yang besar.
Namun dengan penurunan ROE secara tren, maka dapat dikatakan BBCA mengalami penurunan kemampuan dalam menghasilkan profitabilitas.
Penurunan kemampuan dalam menghasilkan profitabilitas bisa disebabkan karena berbagai hal. Pertama, karena memang terjadi penurunan kinerja fundamental. Kedua, penurunan profitabilitas karena memang kondisi ekonomi yang sedang kurang bagus.
Sebagai contoh, di tahun 2020 Indonesia dan dunia menghadapi wabah virus Corona, sehingga hal ini memberikan dampak yang besar terhadap mayoritas sektor bisnis usaha, termasuk sektor perbankan. Sehingga, bisa anda lihat profitabilitas BBCA ikut turun di tahun 2020 tersebut.
ROE YANG BAGUS
Secara umum, ROE yang bagus adalah ROE dengan rasio di kisaran 15%. Jadi jika perusahaan memiliki rata-rata ROE sekitar 15% atau bahkan diatas itu, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut mampu untuk memberikan imbal hasil yang tinggi pada pemegang saham dan mencetak profitabilitas yang tinggi.
Pada ROE BBCA diatas, bisa kita lihat bahwa BBCA selalu memiliki ROE mendekati atau diatas 15%. Artinya, walaupun ROE BBCA mengalami penurunan setiap tahun, tetapi ROE BBCA masih berada dalam "batas" yang aman.
Dengan kata lain, ROE BBCA masih bisa dikatakan baik dan mampu memberikan imbal hasil lebih kepada pemegang saham, karena rata-rata ROE BBCA masih berada di kisaran 15%.
MEMBANDINGKAN ROE DENGAN SEKTOR SEJENIS
Untuk melihat lebih dalam tentang analisa ROE, anda harus melihat dan membandingkan juga dengan sektor sejenis. Katakanlah rata-rata ROE (Average ROE) di sektor perbankan sebesar 12%.
Dan ROE BBCA di tahun 2020 sebesar 14,76%. Maka dapat dikatakan ROE BBCA bagus karena ROE BBCA berada diatas rata-rata sektor industrinya. Berarti BBCA masih mampu menghasilkan profitabilitas dan imbal hasil yang tinggi kepada pemegang saham dibandingkan mayoritas perusahaan di sektor industri perbankan.
Sebaliknya kalau rata-rata ROE di sektor perbankan katakanlah 18%. Namun ROE BBCA di tahun 2020 sebesar 14,76%, berarti BBCA memang mengalami penurunan profitabilitas dan kinerja.
ROE dapat digunakan sebagai salah satu ukuran analisa fundamental buat investasi. Jika perusahaan memiliki ROE diatas 15% dan diatas rata2 sektor industrinya, maka dari segi profitabilitas perusahaan tersebut layak dijadikan tempat untuk investasi jangka panjang.
Jadi untuk anda yang ingin melihat hasil ROE lebih banyak, selain menganalisa tren ROE selama 4-5 tahun kebelakang, anda juga perlu melakukan analisa perbandingan ROE dengan perusahaan di sektor sejenis.
Itulah contoh soal ROE dan jawabannya. Anda bisa gunakan contoh interpretasi dan analisa ROE ini untuk menganalisa perusahaan-perusahaan lainnya. Semoga bermanfaat untuk anda.

0 komentar:
Post a Comment
Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.