Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Saham Undervalue, Waktunya Naik?

Analisa valuasi saham sederhana dapat anda analisis melalui Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Semakin kecil nilai PER dan PBV, maka dapat dikatakan saham tersebut semakin murah secara fundamental alias UNDERVALUE. 


Kalau anda belum paham tentang PER dan PBV, anda bisa pelajari kembali tulisan saya disini: Analisis Fundamental Saham: Price to Book Value (PBV) dan Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER).

Suatu saham dikatakan undervalue apabila PBVnya dikisaran 1 atau bawah 1, dan PER-nya dibawah 10 kali. Tapi kalau anda ingin hasil yang lebih akurat, anda bisa bandingkan dengan sektor sejenis. 

Jadi katakanlah saham MEDC PER-nya adalah 9 kali, sedangkan rata-rata emiten di satu sektor PER-nya 5 kali, maka valuasi MEDC dapat dikatakan masih mahal. Tapi kalau ternyata PER MEDC sebesar 3 kali (rata2 PER di industrinya 5 kali), maka valuasi MEDC dapat dikatakan murah alias undervalue. 

Kembali ke pertanyaan di judul pos ini: Apakah saham-saham yang undervalue sudah waktunya naik?  

Saham yang undervalue seringkali menjadi acuan para investor dan trader jangka menengah untuk memilih saham-saham yang sedang diskon secara fundamental, karena banyak anggapan bahwa saham yang sudah undervalue adalah saham-saham yang sudah waktunya naik... Kita seringkali mendengar pendapat-pendapat yang kurang lebih seperti ini: 

"Saham PTPP bisa dibeli, soalnya sudah undervalue"
"Tunggu saham-saham pada undervalue, baru investasi"
"Saham BBCA masih overvalue, jangan dibeli dulu" 

Dalam praktikknya, memang saham-saham undervalue adalah saham yang punya peluang naik yang lebih besar karena saham2 undervalue adalah saham2 yang memang sudah diskon. 

Kita bisa lihat banyak contohnya. Misalnya tahun 2015 saat IHSG mengalami strong bearish selama kurang lebih 7 bulan, maka saham-saham blue chip sekelas BBRI, TLKM, INDF PER-nya rata-rata sudah dibawah 10 kali. Saat berita2 negatif sudah hilang dari market, tidak ada alasan sahamnya untuk turun lagi, karena secara valuasi sudah murah banget. 

Tetapi anda harus ketahui juga bahwa saham undervalue harganya TIDAK SELALU NAIK dalam waktu dekat. Bahkan saham yang undervalue masih bisa turun lagi dan menjadi lebih murah. 

"Lho kenapa? Kan kalau sudah undervalue berarti sudah murah?" Kata anda. Ada beberapa hal utama yang harus anda pahami mengapa saham undervalue harganya belum tentu langsung naik: 

1. Kondisi pasar saham (IHSG) & global 

Kondisi pasar saham... Ini adalah alasan paling utama mengapa saham-saham yang sudah undervalue, belum tentu waktunya naik. Dengan asumsi anda memegang saham2 yang sangat bagus secara fundamental (Karena saham yang fundamentalnya bagus bisa naik lebih cepat), saham yang sudah undervalue harganya bahkan bisa turun lagi lebih murah. 

Hal ini karena pergerakan harga saham juga sangat tergantung dari kondisi IHSG dan market global saat itu. Kalau banyak saham yang turun dan undervalue, tetapi di satu sisi, IHSG masih lesu, banyak sentimen negatif, maka sangat mungkin saham2 yang sudah undervalue, harganya masih akan turun lagi. 

Dalam kondisi pasar saham yang strong bearish, banyak sekali saham yang PER-nya sudah murah. Saham-saham blue chip HMSP, TLKM, BBNI saat market bearish, PER-nya juga sempat dibawah 10, tetapi sahamnya masih bisa turun lagi, karena pelaku pasar masih panic selling. 

Saya beberapa kali menemukan investor saham yang membeli saham hanya mengacu pada valuasi PER dan PBV: "Saya heran saham A PBV-nya sudah dibawah 1, kok bisa harganya masih turun terus? Padahal saya sudah banyak beli sahamnya." 

Artinya, di dalam analisis fundamental saham, jangan hanya membeli saham hanya karena valuasinya sudah murah. Melihat valuasi saham itu sangat penting. Akan tetapi, anda juga harus menganalisa hal-hal penting lainnya sebelum investasi saham, yaitu: 

-Analisa kondisi market
-Analisa sektor saham 
-Analisa perusahaan (Mungkin ada banyak saham undervalue, tapi anda harus memilih satu atau dua saham saja yang paling menguntungkan). 

Anda bisa pelajari praktik analisa fundamental untuk investasi jangka panjang disini: Ebook Analisis Fundamental Saham Full Praktik. 

2. Kualitas saham

Kualitas saham juga sangat menentukan, apakah saham yang sudah undervalue lebih cepat naik atau tidak. Saham-saham yang kinerjanya bagus, likuiditasnya tinggi, banyak diincar, maka saham2 tersebut umumnya akan lebih mudah naik saat sahamnya sudah undervalue. 

Sedangkan saham2 yang kinerjanya jelek, walaupun sahamnya sudah undervalue, sangat mungkin saham tersebut turun terus, karena saham2 yang jelek, bahkan tidak likuid, pergerakan harganya akan tercermin dari analisa fundamental, sehingga status undervalue "tidak bisa menolong" saham tersebut untuk bergerak uptrend. 

Tidak ada salahnya anda membeli saham yang valuasinya sudah murah. Tetapi sekali lagi, anda harus mencermati kondisi pasar saham. Kalau pasar saham masih turun, di satu sisi, anda ingin membeli saham murah yang kualitasnya bagus, strateginya: Anda bisa membeli bertahap. 

Jangan membeli dengan modal besar hanya karena valuasinya murah, padahal masih ada banyak faktor lain yang bisa membuat saham-saham turun lagi dalam waktu dekat. 

Saya yakin anda sudah memahami dengan baik inti pos ini, karena apa yang kita bahas disini juga menjadi banyak pertanyaan investor saham pemula. 

Kesimpulannya, saham undervalue adalah saham2 yang punya peluang naik, dan sebagai fundamentalist, ada baiknya anda membeli saham2 yang undervalue. Tetapi bukan berarti saham undervalue nggak bisa turun lebih banyak lagi. 

Selalu perhatikan faktor-faktor dan analisa penting sebelum membeli saham, yaitu lihatlah kondisi market, analisa fundamental dan kualitas saham yang mau anda beli. 

Anda bisa mempelajari referensi tambahan, mengapa saham-saham yang undervalue harganya masih bisa turun terus. Pelajari tulisan saya disini: Kenapa Saham Undervalue, Harganya Turun Terus? (Belum terbit. Coming soon). 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.