Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Cara Sederhana Menganalisa Harga Saham

Dalam analisis teknikal saham, seorang trader tidak harus melulu berbicara tentang indikator yang digunakan. Namun ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu memahami analisa HARGA SAHAM. 

Pergerakan harga saham tercermin dari candlestick, yaitu Open, Low, High dan Close atau yang biasa disingkat dengan OHLC. Sebelum anda berbicara analisis teknikal, anda harus lebih memahami terlebih dahulu tentang analisa harga saham.

Analisis harga saham sangat berguna untuk melihat kecenderungan tren saham, baik untuk jangka pendek, menengah bahkan jangka panjang. Di pos ini, saya akan memaparkan salah satu cara sederhana untuk menganalisis harga saham menggunakan Open, Low, High dan Close.  

Dengan kata lain, analisis OHLC bisa digunakan untuk melihat titik support dan resisten  suatu saham. Terutama kalau anda menghubungkan titik-titik low dan high pada candle dalam satu garis, maka akan terbentuk suatu garis support-resisten. Sebagai contoh, perhatikan analisis garis support dibawah ini. 

(Klik gambar untuk memperbesar)

Perhatikan, ketika harga low pada beberapa candlestick ditarik pada satu garis, maka akan menghasilkan beberapa harga low yang segaris (lihat tanda lingkaran). Harga low ini bisa berfungsi untuk menentukan titik2 penting untuk dasar buy saham dan titik cut loss. 

Sebagai contoh, ketika harga saham mulai turun dan menyentuh harga low yang sudah ditarik garis, maka harga saham akan cenderung rebound. Jadi, ketika harga saham mulai rebound setelah menyentuh titik support dari garis low, anda bisa buy.

Sebaliknya, kalau ternyata harga saham jatuh dari harga supportnya, maka itu bisa jadi pertanda titik cut loss-nya. Perhatikan lagi contoh lainnya: 


Pada saham diatas, ketika titik-titik low suatu saham dihubungkan dalam satu garis sejajar, maka kita bisa menggunakan titik2 ini sebagai garis support. Perhatikan, ketika harga saham turun dan mulai menyentuh garis low (support), harga saham akan rebound lagi.

Disinilah anda bisa membeli saham kalau harga saham turun dan bertahan di garis supportnya. Dan kalau harga saham jatuh dari support, anda bisa cut loss. Lalu bagaimana dengan penerapan harga high untuk resisten? Perhatikan grafik dibawah:   


Hampir sama dengan penentuan garis support, tapi bedanya anda menarik dari harga high ke harga high lainnya dalam satu garis sejajar. Harga high to high yang sejajar ini bisa menjadi dasar untuk take profit. Perhatikan ketika harga saham menyentuh harga high, harga saham cenderung akan koreksi lagi. 

Dalam beberapa kasus, ketika harga saham tembus / breakout dari harga high to high-nya, harga saham bisa melanjutkan kenaikannya lebih lanjut (uptrend lanjutan).. 

Itulah cara sederhana menganalisa harga saham menggunakan OHLC. Anda mungkin bertanya-tanya: "Kenapa kok tarik garis support-resistennya nggak menggunakan harga close atau harga opening? Kenapa pakai harga low dan harga high?" 

Good question. Sebenarnya nggak ada cara yang salah, anda mau tarik support resistennya pakai harga open atau close boleh-boleh saja. Tapi saya pribadi lebih suka tarik garisnya menggunakan low ke low atau high ke high. Mengapa? 

Harga low dan high lebih mewakili dibandingkan menggunakan harga open dan close. Saya berikan ilustrasinya. Jika dalam satu candlestick terbentuk harga sebagai berikut: 

O = 500
H = 560
L = 480
C = 515

Harga open adalah 500 dan harga close adalah 515. Tapi sebenarnya dalam satu candlestick harga yang tersentuh bukan hanya rentang 500 dan 515 saja, tapi harga 480 dan harga 560 juga tersentuh pada hari itu. 

[Penerapan analisa saham yang lebih praktikal dan langsung masuk pada strategi untuk memilih saham-saham yang berpotensi naik, bisa anda dapatkan strategi analisis teknikalnya disini: Buku Saham].

Jadi, itulah kenapa saya katakan bahwa harga low dan high ini lebih mewakili untuk melihat batas2 support dan resisten tertentu. Melihat harga low dan high juga bisa digunakan untuk menentukan tren saham. 

Prinsipnya: Kalau harga low dan high yang terbentuk semakin lama semakin tinggi, itu artinya harga saham dapat dikatakan cenderung bullish. Sebaliknya jika harga low dan high yang terbentuk semakin lama semakin rendah, maka tren dapat dikatakan cenderung bearish.

Tapi bukan berarti harga open dan close tidak berguna sama sekali untuk analisis teknikal. Harga open dan close bisa digunakan untuk menganalisis psikologis pasar. 

Misalnya, setelah saham berada dalam tren turun, dan terdapat candlestick yang harga closenya sangat jauh diatas harga open, maka hal ini bisa menandakan bahwa harga saham akan naik setelahnya karena harga saham mulai mengalami kenaikan yang besar setelah mengalami tren turun.  

Itu adalah salah satu contoh sederhana menganalisis harga saham. Namun, kalau saya jabarkan cara2 analisis harga saham termasuk praktikknya, tentu akan sangat banyak, variatif dan bisa menghasilkan sinyal yang bagus. 

Saya membahas banyak strateginya pada materi tersendiri. Anda bisa mendapatkan materinya disini: Ebook Saham Pemula - Master.  

O iya, harga saham sangat berkaitan juga dengan volume. Jadi, mana yang lebih penting untuk anda analisa dahulu? Harga saham? Atau volume? Baca pos saya disini: Harga Saham dan Volume, Mana yang Lebih Penting?

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.