Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Mengapa Indikator Teknikal Sering Menipu?

Pernahkah Anda merasa tertipu dengan indikator teknikal? Atau bahkan sering? Misalnya, saham INDS harganya sudah turun banyak. Keesokan harinya INDS naik kencang, dan beberapa indikator teknikal menunjukkan golden cross semua. Anda membeli saham tersebut karena semua indikator yang Anda gunakan menunjukkan sinyal rebound.

Setelah Anda beli saham INDS, tiba2 keesokan harinya IHSG sedang dilanda banyak berita buruk, sehingga menyebabkan sebagian besar harga saham termasuk INDS yang Anda pegang. Indikator2 teknikal INDS yang semula terlihat golden cross tiba2 bergerak turun, menjadi death cross lagiii.

Pernahkah Anda mengalaminya? Mengapa seolah-olah kita selalu tertipu oleh indikator teknikal?

Sebelum menjawab pertanyaan2 tersebut, ada baiknya Anda mengetahui tentang indikator teknikal. Indikator teknikal tergolong dalam analisis teknikal modern yang banyak sekali digunakan oleh broker, analis, dan investor2 ritel lainnya. Kita pernah membahasnya disini: Analisis Teknikal Klasik Vs Teknikal Modern. 

Indikator sering terkesan menipu karena INDIKATOR MENGIKUTI PERGERAKAN HARGA SAHAM, BUKAN HARGA SAHAM YANG MENGIKUTI INDIKATOR. 

"Lho, apa maksudnya Bung Heze?" Tanya Anda

Indikator teknikal bisa membentuk golden cross atau death cross semua bersumber dari harga candlestick (OHLC) yang terbentuk pada saat itu. Ketika harga saham turun terus (candlestick open lebih tinggi daripada closing), maka garis indikator akan selalu membentuk death cross (Coba Anda cek kalau tidak percaya). Sebaliknya, ketika harga saham terus naik (harga closing lebih tinggi dari harga open), maka indikator akan cenderung membentuk golden cross atau setidak-tidaknya indikator akan menunjukkan pola naik

Ketika harga saham berada dalam tren yang turun, dan kemudian harga saham tiba2 naik kencang pada hari itu entah disertai volume tinggi atau tidak, maka indikator akan mengikuti pergerakan harga tersebut, dengan membentuk sinyal golden cross. Ketika harga saham besok ternyata malah ditutup melemah, maka indikator juga akan mengikuti pergerakan harga tersebut. Indikator yang semula rebound, tiba2 turun lagi (death cross). Saya pribadi pernah mengalami di beberapa saham seperti ASRI, ELSA.  

Inilah satu2nya alasan mengapa Anda dan saya sering tertipu oleh indikator. Indikator mengikuti harga saham, bukan sebaliknya. Berarti, yang harus Anda ikuti adalah harga saham, bukan indikator. Nah lho?

"Berarti indikator itu nggak berguna donk?" Protes Anda.

Anda jangan salah paham dengan indikator. Indikator tetap berguna terutama untuk: Pertama, menentukan tren. Kedua, sebagai momentum.  Jadi, indikator itu tetap dapat Anda terapkan dalam trading, tapi................... Ada tapinya nih...

Anda jangan pernah menggunakan indikator sendirian. Jangan menggunakan indikator sebagai patokan utama untuk keputusan beli dan jual saham Anda. Apa yang saya katakan harus Anda terapkan: Anda harus mengikuti harga saham. Artinya, Anda harus mempelajari support dan resisten, tren harga saham yang berlangsung saat itu, serta candlestick yang terbentuk pada saat itu. Semua ini dinamakan dengan analisis teknikal klasik. 

Baik garis support dan resisten, tren harga saham, maupun body candlestick yang terbentuk itu adalah perilaku pasar, yang sangat identik dengan prinsip dasar analisis teknikal. Baca juga: Prinsip-prinsip Dasar Analisis Teknikal

Indikator teknikal modern dan analisis teknikal klasik sebenarnya adalah sebuah perpaduan yang digunakan dalam sistem trading. So, kalau Anda mau trading Anda harus memperdalam banyak ilmu analisis teknikal. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.