Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Saham Konstruksi & Semen Masih Turun, Apa Penyebabnya?

El Heze

Belakangan ini, saham-saham di sektor properti mulai bergerak uptrend. Penyebabnya sudah jelas: Mulai membaiknya kinerja di sektor properti. Walaupun kinerja sektor properti harus kita akui belum sepenuhnya pulih, namun sudah ada perbaikan dibandingkan pada saat pandemi lalu. 


Selain itu, kenaikan saham-saham properti juga didukung dengan adanya potensi perlambatan / mulai terbatasnya kenaikan suku bunga. Seperti kita ketahui, hubungan suku bunga selalu berbanding terbalik dengan sektor properti. 

Potensi terjadinya rotasi sektor, juga turut mendukung kenaikan saham-saham properti. Saham properti berkaitan erat dengan saham-saham di sektor konstruksi dan semen. 

Karena properti juga berkaitan dengan pembangunan. Kalau pembangunan pulih, maka permintaan di sektor konstruksi dan juga properti biasanya akan sejalan. 

Semen dibutuhkan untuk pembangunan termasuk properti. Jadi kalau saham-saham properti lagi naik, seharusnya diikuti juga dengan kenaikan saham-saham konstruksi dan semen.

Tetapi fakta yang kita lihat di market sekarang sama sekali berbeda. Kalau kita lihat, saham-saham properti seperti CTRA, PWON, BSDE, SMRA lagi naik banyak. Bahkan saham-saham properti small cap seperti BEST, ASRI, MDLN juga ikut naik banyak.  

Namun tidak demikian dengan saham-saham konstruksi seperti WIKA PTPP ADHI WSKT. Saham-saham sektor semen seperti SMGR INTP yang merupakan market leader di sektor ini juga masih bergerak downtrend. 

Sangat berbanding terbalik dengan saham-saham properti. Lalu, apa penyebab saham-saham konstruksi dan semen masih bergerak turun, sedangkan saham-saham properti sudah mulai naik? 

KEPASTIAN IKN 

Salah satu penyebabnya adalah kepastian IKN. Pasar masih wait and see mengenai kelanjutan pembangunan IKN pada pergantian presiden 2024 nanti. Sentimen IKN adalah salah satu sentimen besar yang bisa menggerakkan saham-saham konstruksi dan semen.

Oleh karena itu, kepastian kelanjutan IKN yang masih simpang siur ini membuat market masih belum tertarik untuk menggerakkan saham-saham di sektor ini.  

SAHAM KONSTRUKSI = UTANG BESAR, BANYAK KASUS 

Saham-saham konstruksi belakangan ini masih bergerak dengan tren turun. Padahal kalau kita lihat saham-saham properti sudah naik duluan. Saham-saham properti mayoritas memiliki kinerja keuangan dan balance sheet yang sehat. 

Hal ini berbanding terbalik dengan saham-saham konstruksi yang memiliki kinerja keuangan kurang baik, terutama dari segi utang yang besar. Selain itu, banyak konstruksi BUMN yang sedang terkena kasus. 

Baru-baru ini Waskita Karya dan Wijaya Karya terkena kasus manipulasi laporan keuangan, salah satunya di mana perusahaan masih mencetak laba bersih, tetapi arus kas-nya terus negatif.  


Sentimen IKN, balance sheet yang tidak sehat, ditambah kasus-kasus yang dialami BUMN konstruksi,  membuat saham-saham konstruksi masih belum dilirik oleh market. 

SAHAM SEMEN = OVERSUPPLY

Saham-saham di sektor semen juga sedang mengalami masalah oversupply, selain sentimen IKN. Akan tetapi saham-saham di sektor semen masih memiliki balance sheet yang relatif sehat (terutama market leadernya SMGR dan INTP) dibandingkan saham-saham di sektor konstruksi. 

Sentimen-sentimen ini juga turut membuat saham-saham di sektor semen masih berada dalam fase downtrend.

SAHAM KONSTRUKSI DAN SEMEN, KAPAN WAKTUNYA BELI? 

Saham-saham konstruksi dan semen sudah di harga bottom. Namun karena belum banyak sentimen positif di sektor ini, serta market yang masih wait and see mengenai kepastian IKN setelah pergantian presiden, sebaiknya anda yang ingin membeli sekarang terapkan strategi akumulasi. 

Akumulasi artinya membeli saham secara bertahap. Jadi tidak langsung full modal. Katakanlah anda mengalokasikan modal Rp10 juta. Maka gunakan dulu 10-20%-nya. 

Saya pribadi, prefer untuk koleksi atau akumulasi di saham semen ketimbang sektor konstruksi, karena mempertimbangkan kinerja fundamental dan balance sheet yang lebih sehat. 

Saham-saham di sektor konstruksi walaupun sudah banyak yang turun, tetapi karena porsi utang atau Debt to Equity Ratio-nya rata-rata masih sangat besar, ditambah banyaknya kasus korupsi, manipulasi laporan keuangan pada perusahaan-perusahaan BUMN konstruksi, maka risiko pergerakan harga sahamnya akan lebih tinggi dibandingkan saham-saham di sektor semen. 

Di sektor semen, ada SMGR dan INTP yang menjadi market leadernya. Dari segi profitabilitas dan balance sheet, INTP masih lebih bagus dibandingkan SMGR, namun dari segi valuasi SMGR lebih murah (PBV SMGR = 0,94x dan PBV INTP = 1,8x).

Perusahaan-perusahaan di sektor semen sejak awal 2023 ini sudah mulai membukukan pemulihan kinerja, walaupun masih jauh dari kata booming. Namun sinyal pemulihan kinerja ini bisa menjadi katalis positif untuk investor. 

Jadi, untuk sektor semen dan konstruksi saat ini adalah sektor yang masih pergerakannya masih lagging (terlambat), namun untuk sektor semen potensi upside-nya masih lebih baik dibandingkan sektor konstruksi. 

Tetapi tetap perhatikan risiko-risiko yang sudah penulis paparkan tadi, sehingga untuk yang ingin masuk sekarang, memang sudah bisa CURI START, tetapi terapkan dengan metode akumulasi. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.