Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Breakout Saham: True Breakout dan False Breakout

Ada banyak sekali metode untuk melakukan analisis teknikal harga saham. Salah satunya menggunakan analisis breakout (breakout support atau breakout resisten). Contoh breakout: Jika harga saham menembus level resisten 1.000 (dan harga saham sekarang masih 970), maka harga berpotensi naik lagi ke resisten selanjutnya (misalnya ke 1.050, 1.100 dan sebagainya).  

Tentang breakout ini, tidak banyak tulisan yang membahasnya. Maka dari itu di pos ini saya akan  membahas sedikit banyak pengalaman saya tentang analisis teknikal menggunakan sistem breakout. 

Breakout dibagi menjadi 2: True breakout dan false breakout (breakout palsu). Untuk memudahkannya perhatikan ilustrasi gambar dibawah ini: 




Anda bisa lihat pada true breakout, ketika harga saham breakout / menembus dari level resisten tertentu (setelah ditarik garis resisten pada garis horizontal), maka harga saham akan mengalami kenaikan, demikian sebaliknya, jika harga saham breakout dari support tertentu, harga saham akan berpotensi jatuh lebih dalam. 

Nah, yang jadi masalah analisis breakout ini sering mengecoh trader, sehingga yang terjadi bukan true breakout tetapi false breakout.

Misalnya, trader beranggapan bahwa ketika harga saham breakout dari resisten 1.000, maka itu adalah saatnya buy karena setelah breakout, harga saham menurut trader akan naik. 

Ternyata, ketika harga saham breakout dari 1.000, harga saham hanya naik 1-2 poin, setelah itu langsung koreksi, sehingga trader yang sudah terlanjur beli di harga 1.010-1.015, sahamnya akan nyangkut karena langsung turun, katakanlah ke harga 980. 

Atau kejadian lainnya, trader berpikir bahwa harga saham akan koreksi setelah jatuh dari support tertentu, ternyata setelah harga saham jatuh dari support tertentu, harga saham langsung rebound, dan trader sudah terlanjur menjual sahamnya rugi (cut-loss).

Dan kenyataannya, analisis saham menggunakan analisis breakout ini juga sering mengecoh trader, meskipun anda sudah menggunakan tetek-bengek analisis macam2 termasuk melibatkan analisis volume. Jadi, saya akui bahwa analisis breakout ini memang tidak mudah dilakukan, karena cara menentukan level breakout itu sangat variatif. 

Maka dari itu, saran saya kalau anda mau menggunakan analisis breakout untuk keputusan beli dan jual saham, ada baiknya anda melihat grafik dengan time frame yang agak panjang, MINIMAL 6 bulan.

Intinya, saham yang memiliki support dan resisten kuat dan sering tersentuh, pengujiannya akan lebih akurat ketimbang support-resisten yang hanya tersentuh sekali-dua kali saja. Cara melihat support-resisten yang sering tersentuh, salah satunya adalah dengan melihat time frame yang lebih panjang. 

Tapi kalau anda masih sering tertipu dengan analisis breakout, atau masih ragu-ragu, ada baiknya anda tidak mencoba analisis ini, karena kemungkinan analisis tersebut kurang cocok untuk anda. Atau bisa jadi anda yang salah dalam menentukan titik support-resisten.

Tentunya, anda masih bisa mencoba berbagai macam analisis teknikal. Analisis teknikal "breakout" ini bukanlah satu-satunya analisis teknikal walaupun sering digunakan oleh kebanyakan trader.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.