Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Saham Nyangkut: Hold atau Cut Loss?

Setelah beli saham, saham yang anda beli tidak kunjung naik, namun  turun dan turun terus. Anda tidak menjual saham tersebut, sehingga saham anda nyangkut. Semua trader pernah mengalami situasi saham nyangkut ini. 

Saya banyak menerima pertanyaan rekan-rekan yang masih ada 'tanggungan' saham nyangkut. Banyak trader yang harap-harap cemas, dan berharap harga sahamnya naik. 

Pak Heze saya nyangkut di AKRA di 7.000. Sebaiknya saya harus cut loss atau tunggu naik? Soalnya AKRA sekarang sudah turun sampai 4.700. 

Pak Heze gimana prospek saham ASRI. Saya nyangkut ASRI di 550. Apakah perlu cut loss? 

Pak saya punya saham BUMI dari harga Rp8.000. Sekarang BUMI harganya 270. Apakah bisa balik ke harga awal saya beli? 


Dalam situasi saham nyangkut sampai tahunan, trader seringkali bingung: Harus cut loss atau hold. Kebanyakan trader tidak berani cut loss saat sahamnya sudah turun terlalu dalam, karena kalau trader cut loss, kerugiannya akan sangat besar. 

Jadi kalau anda sudah takut cut loss karena saham anda rugi terlalu besar, ya sudah, anda hold saja sahamnya. Itu solusi satu-satunya. Anggap saja ini sebagai 'biaya belajar saham' anda. 

Tapi kalau anda tanya kapan saham saya bisa balik ke harga beli semula, jawaban saya: Saya tidak tahu. Jika anda tanya demikian, itu ibarat anda bertanya: "Apa yang akan terjadi keesokan hari?" Siapa yang bisa memastikan masa depan? Tidak ada. Kita bisa memprediksi harga saham, tetapi kita tidak bisa memastikannya. 

Artinya kalau anda tanya sebaiknya di cut loss atau hold, jawaban saya tergantung dari psikologis anda. Apakah anda siap rugi besar, tapi sisa uang yang ada tetap bisa anda tradingkan lagi? Tapi kalau anda tidak siap rugi besar, hold saja sahamnya, siapa tahu suatu saat nanti naik. 

Namun dalam trading, tentu sangat tidak bagus apabila portofolio anda diisi oleh saham2 yang nyangkut bertahun-tahun. Ini menunjukkan bahwa anda memahami bagaimana melakukan analisis saham yang tepat. 

Maka dari itu, dalam tading ada hal yang lebih penting daripada sekedar bicara soal hold atau cut loss, yaitu: Anda harus tahu kenapa saham anda nyangkut. 

Katakanlah saham BUMI anda nyangkut sejak tahun 2008, maka anda harus tracing kembali apa alasan anda bisa membeli saham tersebut?

Apakah anda membeli saham karena anda mengikuti analisa yang mengatakan harga wajar BUMI adalah 15.000, jadi anda membelinya di harga 8.000? Apakah karena anda membeli saham di harga pucuk? Apakah karena anda kurang melakukan analisa sebelum membeli? Ada macam-macam penyebab saham nyangkut. Hanya anda yang tahu kenapa saham anda nyangkut. 

Misalnya saham anda nyangkut karena anda mengikuti mentah2 saran analis, maka lain kali anda harus lebih cermat dalam memilih analis. Apakah berarti anda tidak boleh mengikuti saran analis lagi? Boleh, tetapi anda harus meneliti lebih jauh, apakah track record analis yang mau anda ikuti bagus? Apakah rekomendasinya sering benar? Dan jangan selalu menelan mentah-mentah rekomendasi analis. 

Kalau saham anda nyangkut karena anda kurang melakukan analisis, maka lain kali anda harus melakukan analisis yang lebih dalam sebelum anda memutuskan membeli saham.

Dengan mengetahui, mengevaluasi dan menganalisa pertanyaan "Kenapa membeli", di trading-trading berikutnya, at least anda dapat meminimalisir risiko saham nyangkut. Jadi saham nyangkut di portofolio anda tidak akan bertambah. 

Apakah anda sudah melakukannya? Tidak sedikit trader yang tidak melakukan evaluasi mengapa sahamnya nyangkut, sehingga kesalahan yang sama diulangi kembali. Dan inilah salah satu yang menyebabkan trader tidak bisa melakukan trading dengan baik, karena portonya diisi dengan saham2 yang turun dalam jangka waktu lama.  

Kedua, anda harus mau cut loss. Saat harga saham anda tidak bergerak sesuai harapan anda, saat anda sudah menyadari kalau saham anda akan jatuh, maka anda harus mau cut loss sesuai dengan harga yang anda tetapkan.

"Pak Heze, tapi saya tidak ingin cut loss. Saya termasuk trader yang anti cut loss". Kata anda. 

Boleh-boleh saja anda tidak cut loss, bahkan melakukan averaging down pun boleh anda lakukan. Tapi anda harus punya alasan yang tepat kenapa anda tidak cut loss. Pada saat apa trader sebaiknya tidak perlu cut loss? Saya membahas materi batasan toleransi cut loss dan strategi melakukan averaging down yang benar disini: Buku Saham. Dengan memahaminya, anda bisa tahu kapan anda harus cut loss, kapan anda harus hold saham. 

Sayangnya sebagian besar trader tidak mau cut loss bukan karena memiliki alasan yang kuat, tetapi karena TIDAK RELA CUT LOSS. Ini adalah alasan yang salah, dan hal ini yang menjadi penyebab saham nyangkut.

Jadi kesimpulannya untuk anda yang punya saham nyangkut, khususnya yang sudah nyangkut dalam jangka waktu lama, anda harus melakukan evaluasi kenapa saham anda nyangkut. Jangan pernah melupakan peran cut loss dalam trading anda. Baca juga: Akibat Jika Trader Tidak Mau Cut Loss.

Kalau saham anda sudah turun terlalu banyak dan kerugian anda terlalu gede, anda bisa hold sahanya anda jadikan ini sebagai pengalaman dan 'biaya belajar saham' anda, supaya kedepan anda bisa menjadi trader yang menghasilkan profit.  

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.