Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Cara Menghitung Non Performing Loan (NPL) pada Laporan Keuangan Bank

Analisis fundamental umum yang selama ini kita kenal adalah rasio-rasio keuangan seperti ROA, EPS, PER, PBV, DER, ROE, dan lain-lain. Analisis2 tersebut berlaku untuk seluruh sektor perusahaan. Namun anda yang suka menganalisis perusahaan2 perbankan seperti BBCA, BMRI, BNGA, BBRI, BBNI dan lain2, ada ukuran2 fundamental lain yang juga penting untuk anda perhatikan.   

Khusus untuk sektor perbankan, kita mengenal beberapa rasio keuangan penting, salah satunya adalah Non Performing Loan (NPL). Atau Bahasa Indonesianya rasio kredit bermasalah. Apa itu NPL? Kenapa investor perlu mengetahui rasio ini? 

Non Performing Loan (NPL) adalah perbandingan kredit yang tidak dapat dikembalikan oleh debitur alias kredit macet, dengan total kredit yang disalurkan bank ke masyarakat.

Darimana kita bisa tahu kredit macet suatu bank? Sebelum kita masuk ke contoh perhitungan dan interpretasi, berdasarkan tingkat kolektibilitasnya (kelancaran penagihan krredit), tingkat kredit perbankan bisa dibedakan menjadi 5: 

1. Lancar.
2. Dalam perhatian khusus.
3. Kurang lancar.
4. Diragukan.
5. Macet. 

Lancar artinya kredit tidak ada masalah dan bisa ditagih seluruhnya. Dalam perhatian khusus, artinya kredit mulai bermasalah. Pada kategori macet inilah artinya kredit sudah sama sekali tidak bisa ditagih atau tidak bisa dipastikan kapan kredit akan dilunasi. 

Dalam laporan keuangan perbankan, NPL dibagi menjadi 2, yaitu NPL gross dan NPL net. NPL gross membandingkan kredit kategori kurang lancar, diragukan dan macet (dijumlah semua) dengan total kredit. Sedangkan NPL net membandingkan kredit macet dengan total kredit. Berikut rumus NPL: 



Interpretasi: Semakin tinggi NPL, maka semakin besar kredit macet perbankan (semakin jelek kualitas bank tersebut). NPL yang semakin tinggi menunjukkan bahwa Bank tidak mampu mencari calon debitur yang berkualitas. 

NPL tinggi bisa menyebabkan kerugian bagi perbankan karena yang namanya kredit macet sudah tidak bisa dikembalikan, sehingga perusahaan akan mencatatnya sebagai kerugian. Semakin besar NPL, akan berpengaruh buruk pada kinerja keuangan perbankan. NPL yang bagus adalah NPL yang menurun. 

NPL bisa naik dan turun tergantung kemampuan perbankan itu sendiri dalam mencari debitur yang berkualitas, atau kondisi perekonomian. Ketika suatu negara mengalami krisis moneter seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998, NPL bank bisa melonjak secara drastis. 

Karena saat krismon, banyak sekali nasabah yang mengalami kondisi keuangan yang buruk, sehingga berdampak pada peningkatan kredit macet. 

Cara Menghitung Non Perfoming Loan (NPL)

Sebelum kita menghitung NPL, anda harus tahu nilai NPL di laporan keuangan. Disini kita akan menggunakan contoh laporan keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). NPL bisa anda dapatkan nilai dari Laporan Posisi Keuangan (Laporan Neraca) pada Aset pada akun Kredit yang Diberikan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan laporan keuangan BBRI dibawah: 

Klik gambar untuk memperbesar

Berikut adalah nilai Kredit yang Diberikan pada laporan keuangan BBRI sebesar 718.982.668. Kemudian anda harus mencari penjabaran nilai berdasarkan tingkat kolektibilitasnya (lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, macet). 

Caranya, perhatikan catatan atas laporan keuangan (CALK) perusahaan (lingkaran biru). Anda bisa mencari nomor-nomor tersebut di CALK untuk menemukan penjabaran nilai kredit yang diberikan. Berikut adalah penjabarannya di CALK (catatan no 12). 

Klik gambar untuk memperbesar

NPL Gross


NPL gross BBRI terlihat mengalami sedikit kenaikan dari 1,10% menjadi 1,14%. Namun demikian, dari nilai ini kita bisa melihat bahwa NPL gross BBRI cukup stabil. Dengan kata lain, dapat dikatakan BBRI dapat mengontrol NPL-nya sehingga tidak mengalami kenaikan yang berdampak pada kinerja keuangannya. 

NPL Net


NPL net BBRI selama 2 tahun berada pada nilai yang tetap 0,75%. Sama dengan NPL gross, BBRI dapat dikatakan mampu mengontrol NPL, sehingga NPL masih stabil dan tidak berdampak pada kenaikan yang terlalu besar. 

Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, anda harus membandingkan NPL BBRI dengan rata-rata NPL sejenis di industri perbankan. Apabila ternyata katakanlah NPL gross rata2 perbankan hanya 0,5% sedangkan NPL gross BBRI 1,14%, maka anda tidak bisa mengatakan NPL BBRI bagus. Sebaliknya, jika NPL BBRI berada jauh dibawah NPL rata-rata industri sejenis, maka NPL BBRI dapat dikatakan sehat. 

NPL adalah salah satu ukuran fundamental perbankan. Anda harus melihat ukuran2 rasio perbankan lainnya untuk melihat kualitas Bank. Di pos-pos selanjutnya, saya akan membahas analisis fundamental lainnya untuk menilai kinerja perbankan. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.