Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Membeli Saham yang Sudah Tinggi

Ada satu jenis saham yang sering sekali menjadi pusat perhatian trader: Saham yang harganya sedang naik tinggi. Jadi, trader akan cenderung memperhatikan saham yang naiknya sangat tinggi, bukan hanya sekedar naik 1-2%.. 

Trader menyukai jenis saham seperti ini karena berpotensi memberikan return yang lebih besar bagi trader.  Anggapan ini memang benar. Namun, bagaimana kalau saham tersebut sudah terlanjur naik tinggi? Apakah masih layak untuk dibeli?

Bukankah itu berbahaya kalau anda nekad masuk? Sepengalaman saya, saham yang naiknya sangat cepat, 2-3 hari, sahamnya berpotensi koreksi dengan cepat juga. Saya yakin, sebagian dari anda mungkin menyadari hal ini. Anda mungkin berpikir: 

"Iya ya, benar juga.. Saham yang naiknya tinggi dan cepat ada potensi koreksi dalam waktu dekat. Berarti, jangan beli saham yang sudah naik terlalu tinggi, dan yang naiknya terlalu cepat ya?"

Kenyataannya, banyak trader yang sulit sekali mengontrol diri untuk tidak membeli saham yang sudah naik tinggi. Saham yang naik tinggi secara cepat umumnya selalu jadi hot topic.

Nah, kalau saham yang jadi trending ramai diperbincangkan, siapa sih yang tidak tertarik untuk melirik sahamnya, atau setidaknya melakukan analisa terhadap saham tersebut? 

Hal ini tidak sedikit membuat trader akhirnya tergoda untuk membeli saham tersebut. Padahal sahamnya sudah mulai ada tanda2 koreksi. Sebagai contoh, saat saya menulis watchlist PGAS pada halaman Rekomendasi Saham, keesokan harinya PGAS naik. 

Namun kenaikan PGAS ini nggak tanggung2, naik langsung auto reject atas dan keesokan hari di sesi I masih naik sekitar 11%. Dan tentunya, penulis sendiri tidak menduga kalau PGAS ini bakal kena auto reject atas, karena penulis menganalisis berdasarkan teknikal. Baca juga: Arti dan Istilah Auto Reject Saham. 

Anda pasti bisa menebak, kalau PGAS ini menjadi saham hot topic pada saat itu. Dan penulis langsung kebanjiran email tentang saham PGAS, bahkan banyak trader yang masih mau membeli PGAS atau langsung nekad beli PGAS saat sahamnya sudah naik tinggi.. 

Dan tidak lama kemudian setelah PGAS naik 11% sampai ke 2.860, PGAS langsung terjun bebas sampai 2.200. Lalu bagaimana dengan trader yang terlanjur  nekad beli di 2.700, 2.800? Tentu sahamnya akan nyangkut, kecuali kalau trader langsung melakukan cut loss. 

Memang ada banyak godaan untuk masuk di saham yang sudah naik, apalagi kalau saham itu jadi hot topic. Tapi alangkah baiknya kalau anda harus bisa mengontrol psikologis anda. 

Saham yang sudah naik tinggi dengan cepat, sangat tidak bagus untuk dikejar (baca: dibeli) apalagi jika saham tersebut sudah menunjukkan penurunan tekanan beli

Karena berarti anda membeli saham di harga yang sudah sangat mahal, padahal saham tersebut nggak lama lagi akan turun. Ingat, bahwa tidak selamanya trader membeli saham, pasti ada saatnya saham akan koreksi. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.