Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Aksi Marking the Close di Bursa Saham: Peluang Koleksi Saham

Di pasar saham, pernahkah anda mendengar istilah marking the close? Istilah marking the close memang selalu menjadi bahan pembicaraan karena aksi ini dianggap oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai tindakan yang berdampak buruk terhadap IHSG dan saham itu sendiri. 

Yang jadi pertanyaan selanjutnya: Apa yang disebut dengan marking the close?

Marking the close merupakan aksi pelaku pasar (yang memiliki modal dan persentase saham yang besar, bisa beberapa orang dan sekuritas) untuk menurunkan harga saham secara drastis pada tepat pada saat jam2 penutupan Bursa saham. Baca juga: Jam Trading di Bursa Saham Indonesia. Apa tujuannya?

Tentu saja ketika pelaku pasar menurunkan harga saham, mereka berharap bisa KOLEKSI lagi di harga bawah pada hari berikutnya, sehingga mereka bisa dengan mudah memancing trader lain dan kemudian bisa menaikkan harga sahamnya secara signifikan.  

Saham AISA pernah menjadi target dari aksi marking the close oleh beberapa sekuritas. Menjelang penutupan jam bursa, AISA tiba2 mengalami penurunan drastis hingga terkena auto reject bawah. Baca juga: Arti dan Ilustrasi Auto Reject Saham. Apa yang terjadi keesokan harinya? 

AISA langsung naik drastis pada awal jam perdagangan. Marking the close tidak hanya terjadi satu atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Dan memang pada umumnya, setelah harga saham turun, keesokan harinya langsung naik drastis (walaupun tidak selalu).

Sehingga penurunan harga saham akibat marking the close, sebenarnya merupakan kesempatan bagi trader untuk koleksi saham di harga bawah, karena sesuai prinsip analisis teknikal, semakin turun dan murah harga saham, maka harga saham semakin berpeluang rebound cepat (terutama kalau emiten tersebut bukan saham2 gorengan).     

Saya sempat menemukan satu saham lagi yang menjadi "korban" marking the close, yaitu saham PWON. Ada yang aneh dengan pergerakan saham PWON pada penutupan perdagangan saham tanggal 10 April 2017. Selama sesi 2 berlangsung, saham PWON masih bertahan di 585-595 dan harga tertinggi 605. Tiba-tiba saat penutupan, harga sahamnya jatuh ke 540! Perhatikan grafik PWON dibawah ini. 


Perhatikan candle terakhir berwarna merah (harga turun) dan puanjangggg sekali.. Inilah salah satu contoh aksi marking the close. Melihat penurunan PWON yang cukup drastis, sebenarnya saham2 yang "dipermainkan" di sesi akhir ini memiliki peluang rebound yang besar. 

Tidak percaya? Keesokan harinya, PWON mampu naik sampai kembali ke harga 585 pada satu jam pertama jam bursa. Artinya, dalam 1 jam, PWON mampu naik sebanyak 7%. Jadi, kalau anda menemukan saham2 likuid (lapis satu atau dua) yang tiba2 anjlok drastis di sesi penutupan, itulah kesempatan anda untuk watchlist saham tersebut. 

Sekali lagi, tujuan pelaku pasar melakukan marking the close tujuannya sangat jelas: Supaya bisa koleksi dalam jumlah besar di harga bawah, dan membawa harga saham naik keatas dengan cepat. So, just follow the trend. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.