Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Strategi Membeli Saham Auto Reject

[ Catatan: Saya pribadi tidak menyarankan Anda membeli saham2 yang terkena auto reject, karena fluktuatifnya tinggi dan melatih jantung Anda. Harga saham kena AR kiri bisa naik, namun bisa turun lebih dalam lagi / kena suspen. Kalau Anda membeli harga saham yang kena AR kanan, dan naik cepat sekali di awal sesi I, bisa jadi Anda nggak dapat barang, kalau Anda kejar di harga tinggi, bisa jadi harga sahamnya udah mentok, atau bahkan koreksi. Karena saham AR fluktuatifnya cepat dan biasanya digunakan untuk trading pendek, maka kalau Anda ingin beli saham AR, risiko dan keuntungan Anda tanggung sendiri. ]

Sebelum masuk ke bahsan utama pos ini, jika Anda belum memahami istilah auto reject (AR), silahkan baca pos: Arti dan Ilustrasi Auto Reject Saham. Di pos sebelumnya sudah saya dengan detail tentang auto reject. Setelah Anda membaca dan mendalami tulisan saya, tiba2 Anda punya pertanyaan bagus:

"Bung Heze, bisakah saya dapat cuan dengan membeli saham2 yang kena auto reject?"

Sebelum Anda tahu jawabannya ya atau tidak, Anda harus memahami kecenderungan pergerakan harga saham keesokan hari setelah terkena auto reject. Dan yang terpenting, Anda harus memperhatikan paragraf pertama tulisan saya: Catatan.

Perlu Anda ketahui, ketika saham terkena auto reject atas / auto reject kanan, pergerakan harga keesokan harinya biasanya akan cenderung menguat signifikan hingga 6-7%. Tetapi kenaikan ini berlangsung dalam waktu yang sangat cepat, bahkan dalam hitungan menit sejak pasar saham pertama dibuka (jam 09:00). Setelah kenaikan 6-7%, harga saham perlahan akan mengalami penurunan perlahan tapi pasti. 

Perhatikan, kata pemicu pada kalimat diatas adalah "biasanya". Artinya, apa yang saya tulis diatas bukanlah rumus yang absolut. Ingatlah, tidak ada rumus pasti di pasar modal. Saham2 yang terkena auto reject atas, pada umumnya akan mengalami kenaikan harga signifikan pada awal sesi perdagangan keesokan hari, namun tidak selalu 100% terjadi hal yang sama pada saham2 auto reject atas. 

Jadi kesimpulannya, kalau Anda ingin membeli saham auto reject atas, saya menyarankan Anda trading untuk scalping (trading untuk hitungan menit) saja. Dengan catatan, saham tersebut memang menunjukkan kenaikan pada sesi awal yang cukup signifikan, artinya saham tersebut akan diangkat kencang untuk beberapa menit kedepan. Akan tetapi, jika saham tidak likuid, antrian bid dan offer sedikit, saya sarankan untuk menghindari saham tersebut. 

Saya beri satu contoh saham yang pernah terkena auto reject atas, yaitu: PT PP Properti Tbk (PPRO). Pada 13 April 2016, saya amati saham ini sampai sesi I kenaikan harganya masih normal2 saja. Tiba2 sore harinya harga saham PPRO sudah kena auto reject kanan. Karena saya kaget sekali bercampur rasa senang karena saya pegang saham PPRO dalam jumlah lot yang lumayan banyak, saya langsung cari informasi tentang emiten PPRO, dan ternyata kenaikan harga saham PPRO sampai terkena auto reject kanan dikarenakan kenaikan laba signifikan emiten PPRO.  Harga closing PPRO saat itu mencapai 290. 

Keesokan hari, selama 15 menit pertama jam bursa berlangsung, harga saham PPRO langsung melonjak sampai harga high 320. Setelah itu, harga PPRO anjlok sampai 276. 

Lalu bagaimana dengan saham2 yang kena auto reject bawah / auto reject kanan? Saham2 yang kena auto reject bawah inilah yang sebenarnya tidak saya sarankan untuk Anda beli.


Saham2 yang kena auto reject bawah pada hari pertama, perdagangan hari berikutnya biasanya rentan terkena auto reject kiri lagi, atau tidak kena auto reject tapi mengalami penurunan harga saham drastis, atau bahkan tidak diperdagangkan pada keesokan harinya (biasanya saham2 gorengan). Saham2 yang kena auto reject bawah, pada umumnya dikarenakan ada berita buruk yang menyebabkan sentimen negatif yang besar, sehingga terjadi aksi jual besar2an yang menyebabkan harga saham turun drastis.  

Tapi kan, kalau saham kena auto reject kiri terus artinya harga saham tersebut sudah rendah, kenapa nggak dibeli aja kalau harga udah rendah banget? Protes Anda. 

Benar kata Anda. Saham yang kena auto reject bawah, apalagi sampai beberapa hari kalau Anda lihat di grafik, harga saham tersebut akan tampak sangat kelihatan anjlok menembus support2nya. Namun, kalau Anda cermati lagi kata2 saya diatas: "Saham2 yang kena auto reject bawah pada hari pertama, perdagangan hari berikutnya biasanya rentan terkena auto reject kiri lagi, atau tidak kena auto reject tapi mengalami penurunan harga saham drastis, atau bahkan tidak diperdagangkan pada keesokan harinya", maka saham2 yang kena auto reject bawah sangat berisiko untuk Anda beli msekipun harganya sudah rendah.

Sebagai contoh saham TAXI. Pada Bulan Desember 2015, saham TAXI terkena auto reject kiri, karena ada bad news. Auto reject ini ternyata berlangsung sampai 4 hari berturut-turut. Coba Anda bayangkan, jika Anda membeli saham TAXI pada saat hari kedua autoreject, saham Anda pasti nyantol, karena pada hari ketiga dan hari keempat masih kena auto reject lagi.

Berarti nggak bisa dapat cuan dari saham yang kena auto reject bawah donk?

Tidak juga. Kembali lagi ke contoh saham TAXI. Setelah 4 hari terkena auto reject kiri, keesokan hari pada tanggal 17 Desember 2015, TAXI tiba2 naik sampai 34%. Artinya, kalau seandainya saja Anda membeli saham TAXI pada saat TAXI naik 8%-an, kemudian hari itu juga Anda jual, maka Anda bisa untung 15% lebih kan?

Jadi, kalau Anda ingin membeli saham yang terkena auto reject kiri, saran saya adalah saham tersebut masih likuid (dari sisi bid-offer), dan saham tersebut di awal sesi sudah memberikan tanda2 kenaikan harga saham (bisa ditandai dengan kenaikan harga saham yang cukup cepat di awal sesi).

Saya kira itu saya yang bisa saya sampaikan mengenai auto reject di pos ini. Semoga bermanfaat untuk Anda.  

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.