Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Perusahaan OK, Kok Sahamnya Anjlok ???

Postingan ini saya tulis karena saya tergelitik ketika banyak yang bertanya pada saya melalui Facebook: "Kenapa saham AISA kok bisa turun terus?" Lalu saya lihat laporan keuangan, produk-produk AISA. Saya langsung bertopang dagu sambil mikir: "Iya, ya. Laporan keuangan not bad, produknya terkenal, kok bisa harga sahamnya nggak karu-karuan?"

Sebenarnya sejak lama saya sudah mengamati beberapa saham perusahaan yang produknya cukup dikenal masyarakat, tapi harga sahamnya anjlok terus. Cuma, saya baru berpikir untuk nulis di postingan ini sekarang setelah ada pertanyaan tadi. Salah satunya adalah: perusahaan Sido Muncul (SIDO), produknya yang terkenal jamu Sido Muncul. Siapa yang nggak tahu jamu Sido Muncul? Kalau nggak tahu berarti Anda bukan orang Indonesia...

Ada juga perusahaan perbankan yang saya amati. Dan saya rasa pasti Anda tahu semua bank ini, Yaitu Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), yang secara laporan keuangan tren labanya naik. Tapi harga sahamnya secara grafik, turun terus. 

Ok, sekarang coba lihat grafik saham SIDO (Januari 2011-Januari 2016)



Lihat harga saham SIDO. Secara tren, sejak tahun 2011, saham SIDO mengalami penurunan tren. Penurunan tren SIDO cukup drastis.

Lalu Anda lihat juga grafik saham AISA dibawah.


AISA mengalami penurunan harga saham yang cukup drastis sejak September 2014.. Walaupun tahun2 sebelumnya AISA mengalami kenaikan tren yang cukup tajam. Dan pada Juni 2014 harga sahamnya mencapai kisaran 2.500. Januari 2016 hanya di kisaran 1.000 saja. Lihat juga grafik saham BNGA dibawah (Januari 2011-Januari 2016).


BNGA bahkan mengalami penurunan tren sejak 2011, padahal kalau secara tren laba (2011-2013), labanya selalu naik. PT Bank Niaga (BNGA) juga tidak pernah ada berita2 buruk yang menyebabkan harga saham emiten mengalami kejatuhan.

Kalau saya ditanya kenapa sahamnya turun terus padahal nggak ada berita buruk, jujur saya sendiri TIDAK BISA MEMASTIKAN jawabannya. Tetapi, saya bisa memaparkan sedikit pencerahan dari lima sisi, alasan harga sahamnya turun terus padahal nggak ada berita buruk, laporan keuangan OK, produk terkenal.

Pertama, psikologi pasar itu sendiri. Ini yang membuat saya menjawab ketika ditanya kok harganya turun terus: Saya Tidak Bisa Memastikan. Di pasar modal seringkali Anda tidak bisa mengetahui dengan pasti apa maunya pelaku pasar. Anda merasa perusahaanya terkenal, tapi sahamnya anjlok. Anda merasa laporan keuangan bagus sahamnya turun terus. Ini memang sulit dinilai. Sangat sulit. 

Mungkin ada pertimbangan2 lain dari para pelaku pasar, misalnya: pelaku pasar justru melihat saham tersebut kurang menarik dan lebih ingin memindahkan aset2nya ke saham2 yang lebih likuid, atau ke saham2 blue chip atau ke saham2 yang naik turunnya lebih cepat, atau bahkan ke penny stock (saham gorengan). Kemudian, karena melihat beberapa investor sudah mulai menjual sahamnya (sahamnya turun terus), akhirnya banyak yang ikut2an jual. 

Atau bisa juga, walaupun perusahaan yang IPO gencar promosi, saham perusahaan tersebut dinilai kurang menarik dibandingkan saham2 perusahaan yang sudah well established di Bursa saham dan terbukti bisa memberikan cuan yang banyak, tidak peduli meskipun beda sektor. Sehingga, para pelaku pasar membeli saham2 tersebut (yang harganya anjlok), hanya di awal2 saja, anggap saja sebagai euforia karena ada perusahaan yang baru melanati di Bursa saham. Tapi, kemudian melepas sahamnya dan memindahkan asetnya ke saham yang lebih menarik.

Anda boleh2 saja bilang, perusahaan A OK karena produknya juga terkenal. Tapi ingat sekali lagi, masalah OK tidaknya perusahaan, itu sangat tergantung pelaku pasar juga. Jadi, sangat subjektif. Itulah yang membuat harga saham tertentu ada yang likuid, tapi ada yang turun terus. 

Kedua, faktor persaingan. Saham Tiga Pilar Sejahtera (AISA) contohnya. Perusahaan ini bergerak di sektor konsumer. Anda tahu, di sektor konsumer saingannya AISA siapa saja? Antara lain Indofood, Indofood CBP, Unilever, Mayora, Gudang Garam dan lain-lain. AISA saya rasa banyak sekali produknya, yang dilabeli dengan TpsFood, seperti permen Tamarin, Bihunku,Tar, Mie Kremez dan lain-lain. Saya rasa Anda pasti kenal sama produk2 tersebut. Laba AISA juga naik kalau secara tren, secara grafik..... Lho terus kok harga sahamnya turun terus? Ini bisa dimungkinkan karena adanya fator persaingan yang kuat.

Sebagus apapun ketersediaan produknya di pasaran, tapi kalau perusahaan tersebut kalah nama, bisa jadi pengaruh ke harga saham. Coba Anda lihat saham Indofood, Indofood CBP, dan Gudang Garam. Harga sahamnya selalu likuid. Ini karena masyarakat menganggap bahwa di sektornya perusahaan2 tersebut memang prospek. Perusahaan2 tersebut selalu bisa mendominasi di sektornya. 

Mereka rajin membagi dividen, semua orang kenal produknya, mereka juga well established di pasar modal. Seperti saham GGRM, GGRM masuk blue chip. Ini membuktikan bahwa perusahaan2 tersebut memang sudah menjadi kepercayaan investor. 

AISA VS Unilever (UNVR)

UNVR sahamnya naik terus. AISA turun terus. Kenapa? Walaupun AISA tidak produksi sabun dan shampo seperti Unilever, tapi mereka masih berada dalam satu sektor yang sama. Dan Unilever lebih well established di pasar modal. Pelaku pasar (barangkali) lebih mengenal UNVR dibandingkan AISA. Sehingga, boleh dikatakan dari sisi persaingan kalah, walaupun produknya agak berbeda (karena tetap di satu sektor). 

Persaingan disini maksudnya: persaingan produk, bagus tidaknya laporan keuangan, maupun persaingan dari sisi menarik tidaknya saham tersebut untuk diperdagangkan. Ketika pelaku pasar ingin menanamkan dana di sektor konsumer misalnya. Pelaku pasar pada akhirnya juga akan memilah perusahaan mana yang enaknya dijadikan sebagai wadah investasi/ trading. Investor pada akhirnya melihat brand - nya dulu (dijelaskan di alasan keempat), melihat likuid tidaknya saham tersebut.

Ketiga, laporan keuangan. Alasan lainnya yang mendasari mungkin berkaitan dengan laporan keuangan. Grafik yang saya paparkan diatas, yaitu BNGA. Bagaimana laporan keuangannya? lihat grafik tren laba BNGA dibawah (dalam Miliar Rupiah).



Sejak tahun 2010-2014 tren laba BNGA selalu naik, kecuali 2014 laba memang turun drastis. Tapi harga sahamnya sudah turun sejak tahun 2011. Kalau secara major tren, terlihat jelas grafik yang saya paparkan diatas downtrend. 

Walaupun secara tren, laba BNGA naik, tapi coba Anda bandingkan labanya dengan saham2 perbankan blue chip seperti BBRI dan BBCA. Saya ambil satu sampel saja. Tahun 2013, laba BNGA mengalami peningkatan. Labanya sebesar 4.296 M. Tapi kalau dibandingkan dengan laba BBRI pada tahun yang sama, laba BBRI sebesar 79.327 M !!!. Bisa Anda lihat perbandingannya.  

Itu bisa menjadi penyebab saham perusahaan anjlok. Investor, tentu akan selektif memilih perusahaan yang labanya paling menjanjikan di sektornya. Dalam contoh diatas, adalah sektor perbankan. Kalau Anda perhatikan, BBRI secara tren, harga sahamnya cenderung naik.

Keempat, brand. Alasan keempat ada hubungannya dengan kedua. Brand yang sudah melekat di mata masyarakat akan selalu menjadi pilihan masyrakat. Sehingga, kalau investor mendengar nama brand tertentu, mereka pasti ingin langsung beli sahamnya. 

Bagaimana dengan brand2 yang lain yang juga bagus? Otomatis akan "dikesampingkan" investor. Itulah kenapa banyak perusahaan yang produknya terkenal, laporan keuangan juga nggak buruk, tetapi harga sahamnya turun terus. 

Kelima. Jumlah saham yang beredar. Hal ini juga bisa mempengaruhi tinggi rendahnya perdagangan saham. Perusahaan yang memiliki jumlah saham beredar cenderung kecil, biasanya para trader juga kurang minat untuk memperdagangkannya. Hal ini pada akhirnya berpengaruh pada nilai kapitalisasi pasarnya.

---------------------------------------------------------------------------------------

Nah, dibalik semua itu kalau Anda seorang fundamentalist hebat, maka belum tentu juga saham2 yang tidur, akan selamanya tidur. Seorang fundamentalis hebat, seperti Lo Kheng Hong atau Warren Buffet, bisa menganalisis saham2 yang tidur tapi potensial dalam jangka panjang. 

Kalau Anda tanya kembali: "Lalu apakah saham2 yang turun terus tidak diperdagangkan sama sekali dan tidak bisa naik lagi?" Belum tentu juga. SIDO contohnya. SIDO mengalami kenaikan harga saham sejak 16 Oktober 2015 sampai dengan 23 November 2015 secara tren. Kalau Anda jeli melihat momen tersebut, tentu Anda bisa dapat cuan dari hasil trading Anda. 

Tapi, banyak juga saham2 yang secara tren sudah turun terus. Contohnya saham AISA, yang tadi saya bahas. AISA pada perdagangan 19 Januari 2016 hampir kena auto reject kiri. Sahamnya anjlok 6% lebih. Disinilah, Anda harus jeli.

Nah, lalu apa pelajaran yang bisa diambil dari postingan ini? Tentunya, kalau Anda melihat saham2 macam ini, saran saya lebih baik jangan berinvestasi dahulu di perusahaan tersebut. Apalagi masalahnya kalau faktor persaingan, maka harga saham tersebut mungkin sulit bangkit lagi. Kalau perusahaan tersebut sudah lama melantai di pasar saham, tapi harga sahamnya turun terus, nggak naik-naik secara grafik bulanan, maka ya jangan investasi di perusahaan tersebut. 

Namun, saham2 yang turun terus walaupun nggak ada berita buruk, barangkali Anda masih bisa men-tradingkannya untuk jangka pendek. Tapi ingat, trading harus tergantung dari analisis teknikal, dan sisi likuid tidaknya saham tersebut. Karena tidak semua saham likuid.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.