Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Buy on Rumor, Sell on News

El Heze
Buy On Rumor, Sell On News adalah Jebakan untuk Para Trader yang Tidak Memiliki Dana Besar Seperti Bandar (El Heze, 2015).

Salah satu "analisis" yang sering digunakan oleh para trader adalah: Buy on Rumor, Sell on News (beli saham perusahaan pada saat perusahaan ada rumor, jual pada saat berita diumumkan).

"Lho, bukannya seharusnya kita beli saat berita baik diumumkan dan jual saat ada berita buruk Pak? Kalau rumor kan seharusnya kita wait and see, karena kita nggak tau kepastiannya?"

Benar. Secara teori seharusnya begitu. Tapi, apa yang ada di lapangan (pasar saham) bisa saja dan justru sering berbeda dengan teori yang sering Anda pikirkan.  Kenapa di pasar modal banyak pelaku pasar yang pada saat rumor justru membeli saham? Hal ini dikarenakan adanya "ulah" bandar  dan insider trading (orang dalam) yang memanfaatkan informasi privat, yang seharusnya informasi itu belum waktunya "ditanggapi dengan serius" karena masih menjadi rumor.

Jadi, ketika ada rumor beredar, para bandar dan insider trading mulai berbonding-bondong membeli saham dalam jumlah besar dengan tujuan mengangkat harga saham yang pada saat itu ada rumor. Otomatis, para trader yang "latah" ketika melihat harga saham yang naik akan ikut2an pasang order buy. 

Kalau Anda bertanya: "Pak, apakah ada trader yang latah seperti itu yang sukanya ikut2an?"

Banyak sekali. Saya pun bahkan pernah mengalami seperti itu. Perlu Anda ketahui, di pasar modal ada sifat Greed (tamak). Ketika melihat harga saham naik, yang ada dalam pikiran orang2 yang punya sidat greed adalah beli, beli dan beli. Terus kalau harga sahamnya naik terus nggak mau take profit karena berharap harga saham naik lagi. Tapi kalau tidak beli harganya naik terus dan saya ketinggalan kereta alias sudah nggak dapat barang karena harga sudah ketinggian. Sifat greed ini banyak sekali dialami oleh trader, terutama ketika trader melihat harga saham yang cukup "murah" dan tiba2 harganya mulai melonjak naik, trader tangannya mulai gatal untuk ikut pasang order buy supaya bisa menikmati kenaikan harga saham, apalagi Anda melihat bahwa saham tersebut ada rumor yang sedang beredar.    
Karena berita masih jadi rumor, para trader yang "latah" tadi berharap ketika rumor sudah jadi berita, harga saham akan diangkat lebih tinggi lagi, sehingga disitulah momen untuk mereka menjual sahamnya.

Tapi apa yang terjadi? Pada saat berita diumumkan, para bandar langsung menjual sahamnya, sehingga harganya langsung amblas. Mereka berani menjual karena pada saat ada rumor harga sudah melambung tinggi, sehingga pada saat rumor sudah jadi berita, mereka langsung menjual sahamnya. 

Lantas, bagaimana dengan nasib para trader yang sudah terlanjur membeli saham tersebut dan belum menjual kembali tapi harganya udah terlanjur turun banyak?Ya otomatis sahamnya nyangkut. Lalu, kenapa bandar maupun insider trading punya kemampuan untuk menjatuhkan harga saham tertentu? Karena mereka memiliki "kuasa" berupa porsi dana yang sangat besar di suatu saham.

******************************************************

Sebagai contoh, saham BWPT (BW Plantation). Sekitar tanggal 21-22 Mei 2015 BWPT sempat ada rumor bahwa Cargill yang merupakan perusahaan perkebunan multinasional akan mengakuisisi BWPT. Lihat pergerakan harga saham BWPT dibawah ini.



Perhatikan, tanggal 25 Mei harganya langsung melonjak drastis. Harga dibuka di 303 ditutup di 345 dan harga tertinggi mencapai 353. Lihat, candle warna biru terlihat snagat panjang dibandingkan candle hari2 sebelumnya. Itu hanya dalam satu hari saja. Harga saham BWPT biasanya nggak naik sekencang itu. Kenaikan BWPT terus berlanjut sampai 12 Juni 2015 (ditutup di harga 450, tertinggi 494). Tapi apa yang terjadi kemudian? Tanggal 15 Juni saat berita yang sebenarnya diumumkan, harga saham langsung anjlok drastis. Dibuka di harga 454 ditutup di 391. Terus berlanjut sampai 17 Juni 2015 ditutup di 371. Setidaknya sampai 24 Agustus 2015 harga sahamnya anjlok terus sampai 240. 

Itulah contoh: BUY ON RUMOR SELL ON NEWS. Bagaimana, sudah dapat gambaran?  

Rekan2 saya di facebook beberapa kali menanyakan ke saya, terutama di saham BWPT: "Pak, saham BWPT saya "nyangkut" enaknya sell atau bagaimana?" Lalu saya tanya lagi: "kenapa beli BWPT? Alasannya: karena harganya sedang naik. Jika alasannya membeli karena harga sedang naik. Membeli karena harganya naik saja itu masih sangat sangat kurang sebagai dasar analisis dalam membeli saham.

Oleh karena itu, dalam hipotesis pasar efisien, pasar modal Indonesia masih belum bisa dikatakan efisien bentuk kuat, namun lebih condong ke efisien bentuk setengah kuat, karena dalam pasar modal kita, informasi yang tersedia masih tidak merata. Dalam artian, masih banyak para bandar yang menguasai informasi2 tertentu untuk mendapatkan abnormal return dengan cara goreng-menggoreng saham.

"Lalu apa yang harus saya lakukan"

Kalau saya pribadi, saya tidak menyarankan untuk membeli saham hanya karena ikut2an (buy on rumor), karena sebenarnya itu bukanla analisis tapi lebih mengarah ke gambling. Karena kita hanya mengikuti "arah angin" yang ada di pasar saja tanpa memahami kondisi yang sebenarnya. Oleh karena itu, jika Anda trader dan bersemangat membeli saham, jangan lupakan analisis teknikal.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.