Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Belajar dari Kasus Asuransi Jiwasraya

El Heze
Kasus asuransi Jiwasraya sempat membuat pasar saham bergejolak. Kita semua tahu bahwa Jiwasraya (perusahaan asuransi) bekerja sama dengan 13 Manajer Investasi (MI) yang Jiwasraya untuk menerbitkan reksadana yang mayoritas portofolionya adalah saham-saham gorengan.



Di mana kasus Jiwasraya ini bahkan sempat membuat volume transaksi di market menjadi sepi transaksi, karena pelaku pasar sempat pesimis dengan kondisi pasar saham di Indonesia, mengingat banyaknya saham-saham yang tidak sehat di Bursa. 

Berikut bisa anda baca sedikit opini singkat (Suara Pembaca) yang pernah saya tuliskan di Koran Bisnis Indonesia tentang kasus Jiwasraya

Koran Bisnis Indonesia - Kasus Jiwasraya

Sebenarnya kasus Jiwasraya bukan pertama kalinya terjadi di pasar saham Indonesia. Kasus yang serupa pernah terjadi yaitu kasus Asabri, di mana Asabri kerap kali menginvestasikan modal di saham-saham gorengan. 

Dan Jiwasraya bernasib sama dengan Asabri: Mengalami kerugian besar karena bertaruh pada saham-saham gorengan yang kinerja fundamentalnya jelek, dan sahamnya juga tidak likuid (teknikal). 

Kita semua baik trader jangka pendek maupun investor saham jangka panjang harus belajar dari kasus Jiwasraya ini. 

Jika perusahaan sekelas Jiwasraya yang punya modal besar dan pastinya memiliki pengalaman investasi / mengelola modal yang cukup mumpuni saja bisa rugi besar di saham-saham gorengan... 

Apalagi investor atau trader perorangan yang modalnya masih relatif kecil dan pengalaman trading yang minim. Kerugian-kerugian yang dialami Jiwasraya ini juga bisa menjadi evaluasi untuk trader, bahwa dalam trading anda harus mengambil keputusan yang didasarkan atas ANALISA dan RASIONALITAS TRADING.  

Di pasar saham, tidak sedikit para trader saham yang mengalami kasus yang sama dengan Jiwasraya: Kerap kali membeli saham-saham gorengan supaya bisa menghasilkan return yang lebih maksimal. 

Namun justru saham-saham gorengan membuat trader tidak bisa mengembangkan portofolionya dengan maksimal. Jadi untuk kasus-kasus trader ataupun perusahaan2 yang terjebak di saham gorengan seperti Jiwasraya ini, kita bisa mengambil beberapa poin penting:  

1. Saham gorengan tidak cocok disimpan jangka panjang 

Saham-saham gorengan hanya cocok untuk ditradingkan jangka pendek, menitan sampai harian. Saham gorengan tidak disarankan untuk disimpan dalam jangka waktu lebih panjang, karena saham-saham gorengan memiliki volatilitas harga yang tinggi. 

Saham gorengan bisa naik cepat dalam 1-2 hari, namun harganya bisa jatuh dalam waktu cepat juga. Jadi, saham gorengan adalah saham yang risikonya tidak sebanding dengan potensi return yang anda peroleh. Oleh karena itu, jangan hold saham-saham gorengan terlalu lama. 

2. Perlu ada trading plan yang lebih disiplin 

Jika anda ingin mencoba trading di saham gorengan, anda harus punya trading plan yang sangat disiplin. Kalau saham anda naik, segera take profit. Jangan berharap saham anda naik terus, karena tingkat ketidakpastian saham-saham gorengan sangat besar. 

Sebaliknya, jika target anda tidak sesuai harapan, anda harus segera cut loss. Jangan terus hold. Ingatlah bahwa saham gorengan sangat berpotensi menjadi saham tidur (tidak diperdagangkan lagi). Kalau saham anda turun banyak dan tidak kembali ke harga awal, maka anda tidak akan bisa jual sahamnya di pasar reguler.

Ini yang juga dialami oleh Jiwasraya, di mana banyak saham gorengan yang disimpan Jiwasraya, harganya akhirnya jadi saham tidur, karena saham2 gorengan fundamentalnya kurang bagus dan likuiditas (peminatnya) rendah. 

3. Saham gorengan sebaiknya dibeli dengan modal kecil 

Jika anda ingin trading di saham gorengan, belilah dengan modal sekecil mungkin. Saran saya, gunakan maksimal 10% dari total modal untuk alokasi di saham2 gorengan. Hindari gunakan modal besar untuk trading di saham gorengan.  

4. Harga saham kembali ke faktor fundamentalnya

Kenapa banyak saham gorengan yang balik ke harga gocap, dan tidak ditradingkan lagi? Padahal mungkin 1-3 lalu harganya masih ada volatilitas.. 

Hal ini karena prinsip: Harga saham kembali pada faktor fundamental. Saham-saham yang kinerjanya kurang bagus, sahamnya tidak likuid, cepat atau lama akan menyesuaikan pada faktor fundamental harga wajarnya. 

Walaupun dalam jangka pendek sahamnya bisa naik drastis, tetapi kalau kenaikan tersebut tidak mencerminkan fundamental perusahaan, cepat atau lama harganya pasti akan balik lagi.

5. Perhatikan komposisi portofolio saham 

Selalu prioritaskan saham-saham yang bagus untuk dibeli. Pelajari juga: Cara Simpel & Efektif Screening Saham Bagus. 

Jiwasraya memiliki porsi saham gorengan yang hampir 90% dari total portofolio sahamnya. Itulah mengapa Jiwasraya pada akhirnya mengalami kerugian besar, karena selain bertaruh, manajemen juga tidak memiliki proteksi modal.

Kalau dalam trading anda memiliki 90% lebih saham-saham yang bagus, dan sisanya saham gorengan dengan modal kecil, maka saham-saham bagus itu sesungguhnya bisa menjadi proteksi modal anda.

Jadi jangan sampai portofolio anda diisi oleh saham2 gorengan yang pergerakannya tidak jelas. Terutama buat trader saham pemula yang sering rugi / potensial loss akibat beli saham gorengan dan waran, evaluasilah trading anda. 

Kasus Jiwasraya yang rugi di saham-saham gorengan ini mengingatkan kita semua bahwa dalam trading ataupun investasi, kita harus prioritaskan saham2 yang bagus (secara teknikal ataupun fundamental). 

Saham-saham bagus ini yang harus diprioritaskan dan memiliki porsi paling besar di portofolio saham anda.  Dengan pemilihan saham yang sehat, risiko trading anda juga lebih kecil sehingga kerugian dapat ditekan. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.