Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Histori Pergerakan IHSG dan Teror Bom

El Heze
Pergerakan IHSG kita di pasar saham dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, baik faktor internal (dari dalam negeri) maupun faktor eksternal (pengaruh suku bunga AS, kondisi luar negeri dan lain2). Ada satu anomali saham yang memang tidak sering terjadi, tetapi hal ini sesungguhnya dapat mempengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. 

Apa itu? Sesuai judul pos ini: Ketika terjadi teror bom dan pengaruhnya pada IHSG. Setelah terjadi ledakan bom di 3 geraja Surabaya pada 13 Mei 2018, ledakan bom kembali terjadi di Polres Surabaya pada tanggal 14 Mei 2018 pada pukul 08:50.

Lalu, apakah teror bom ini benar2 berdampak negatif pada IHSG kita? Sebelum saya membahas lebih dalam, ada baiknya kita melihat histori pergerakan IHSG pasca terjadi teror bom. Perhatikan data dibawah ini:  


Sumber data: Katadata (klik gambar untuk memperbesar)

Berkaca pada histori, maka ketika terjadi teror bom, rata-rata IHSG akan bergerak turun dalam jangka temporer saja. Perhatikan ketika Kedubes Filipina terken bom, IHSG ikut turun -0,51%. Bom Bali I menurunkan IHSG hingga 10% sehari, dan ini adalah dampak yang paling signifikan yang terjadi sepanjang sejarah. 

Ketika Hotel JW Marriot di-bom pada 5 Agustus 2003, IHSG saat itu juga turun hingga mencapai -3,06% sehari. Namun ketika terjadi bom Bali II, IHSG tidak terlalu terpengaruh dan tetap naik terbatas sebesar 0,38%. 

Ketika terjadi pengeboman Sarinah pada tahun 2016, IHSG kita di sesi I sempat turun sampai -1,7%, tetapi di sesi II hingga penutupan Bursa, penurunan IHSG berkurang menjadi -0,53%. 

Dan musibah ledakan teror bom kali ini di Surabaya ternyata juga tidak jauh berbeda dengan historis IHSG sebelum2nya. Pada sesi I tadi, IHSG kita juga sempai turun terus dai -0,48% sampai -1,71%. Tapi perlahan penurunan IHSG kita mampu dikontrol, dan akhirnya IHSG kita tanggal 14 Mei 2018 mampu turun hanya -0,16%. 

"Jadi apa kesimpulannya Pak Heze?" Tanya anda

Kasus teror bom secara umum memiliki dampak negatif terhadap IHSG. Tapi dampak negatif ini hanya sesaat saja / temporer alias sentimen negatif. Tidak lama kemudian, IHSG selalu mampu berbalik rebound setelah mengalami koreksi besar pada awal sesi pasca terjadinya teror bom. 

Demikian juga pada ledakan bom Bali I, IHSG yang turun sampai 10% sehari, keesokan harinya IHSG mampu menguat lagi. 

Strategi trading saham: Karena web Saham Gain ini adalah web tentang sharing saham dan strategi, maka tentu saya tidak hanya akan bicara soal teori dan data, namun disini anda sebagai trader juga perlu mengetahui strategi trading apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. 

Strategi trading yang terbaik pasca terjadi teror bom adalah WAIT AND SEE. Kenapa kok wait and see? Karena biasanya harga saham pada jatuh di awal sesi, dan anda juga tidak akan tahu turunnya sampai berapa persen, meskipun sesi II sudah mulai 'membaik', tapi tetap masih banyak saham yang turun. 

Saat IHSG sudah mulai rebound, sentimen2 negatif sudah mulai reda, maka anda bisa mulai mengincar saham2 yang harganya sudah murah secara teknikal. Kedua, tentu saja kita tidak perlu panic selling atau terlalu cepat cut loss menanggapi situasi IHSG yang jatuh pasca teror bom, karena seperti saya katakan sebelumnya, sentimen negatif IHSG ini sifatnya hanya sesaat.

Sebagian dari anda mungkin bertanya: "memang apa dampak teror bom terhadap IHSG?" Memang nggak ada dampak langsung. Namun, hal ini sebenarnya lebih pada psikologis akan keyakinan pelaku pasar terhadap iklim investasi di Indonesia, sehingga dapat menjatuhkan IHSG. 

Saya pernah menuliskannya disini: Pengaruh Kuat Politik terhadap Harga Saham. Namun, hal ini sifatnya temporer. Jadi saat pelaku pasar menganggap harga sudah banyak yang murah akibat tekanan jual dan situasi sudah kondusif, so nggak ada alasan untuk tidak masuk market lagi.  

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.