Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Bisakah Investasi Saham Hanya dengan Analisis Fundamental?

Beberapa waktu lalu, saya dapat pertanyaan cukup menarik dari pembaca web Saham Gain ini. Inti pertanyaannya: "Pak Heze bisakah kita investasi saham full pakai analisa fundamental, tanpa lihat grafiknya sama sekali? Soalnya saya nggak punya banyak waktu untuk melihat grafik, jadi rencananya saya mau investasi penuh pakai pendekatan fundamental."


Jawabannya: Bisa. Kalau anda ingin melakukan investasi saham hanya full dengan analisis fundamental, tanpa melihat analisa teknikalnya sama sekali, ada baiknya anda fokus memilih saham dengan kriteria fundamental sebagai berikut: 

1. Fokus pada beberapa komponen penting di laporan keuangan 

Dalam analisa fundamental, ada beberapa komponen penting di laporan keuangan yang paling berguna buat investor yaitu, DER, ROE, company size, EPS.

Pertama, Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan perbandingan utang dengan ekuitas alias komposisi struktur modal. Pelajari juga: Analisis Fundamental: Debt to Equity Ratio (DER). 

Perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang DER-nya wajar (tidak terlalu tinggi) atau DER rendah (Dibawah 1 kali). DER dikatakan wajar, apabila DER perusahaan di kisaran 1-1,5 kali. Atau anda bisa membandingkannya dengan perusahaan di sektor sejenis. 

Karena perusahaan dengan utang besar, risiko keuangan dan beban bunganya juga tinggi. Perusahaan yang memiliki DER terlalu besar, sahamnya lebih sensitif terhadap sentimen market. 

Sebaliknya, perusahaan2 dengan DER rendah seperti SIDO MYOR, umumnya pergerakan harga sahamnya lebih stabil dalam jangka panjang, sehingga anda tidak perlu terlalu memperhatikan analisa teknikalnya.

Namun untuk perusahaan di sektor tertentu seperti perbankan, besar kecilnya DER tidak bisa menjadi patokan pasti, karena perbankan pasti punya DER besar. Hal ini karena perusahaan simpanan nasabah (tabungan, deposito) pasti akan dimasukkan sebagai kewajiban oleh perusahaan.  

Kedua, Return On Equity (ROE). ROE adalah perbandingan laba bersih dengan ekuitas total. Baca juga: Analisis Fundamental Saham - Return On Equity (ROE). 

ROE berguna untuk melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan seluruh modalnya untuk mencetak laba bersih (profitabilitas). Perusahaan yang ROE-nya tinggi, sahamnya jauh lebih diminati investor daripada perusahaan dengan ROE kecil. 

ROE yang tinggi umumnya adalah ROE di kisaran 15% atau diatas itu (Anda bisa lihat perbandingan tren ROE selama 3-5 tahun terakhir). Karena ROE besar berarti perusahaan bisa memaksimalkan profit, sekaligus bisa memberikan potensi imbal hasil pemegang saham yang lebih besar.  

Ketiga, Company Size. Ada baiknya anda juga membandingkan ukuran perusahaan (company size) di satu sektor industri. Anda bisa melihat jumlah aset, ekuitas, laba bersih, kapitalisasi pasarnya. 

Perusahaan dengan company size yang besar tren harga sahamnya dalam jangka pangka panjang akan lebih bagus ketimbang perusahaan dengan company size kecil, atau perusahaan2 yang baru berkembang (growth).

Keempat, Earning per Share (EPS). EPS adalah laba bersih / jumlah saham beredar yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih per saham. Baca juga: Makna dan Fungsi Earning Per Share (EPS). 

Perusahaan dengan EPS yang lebih besar dibandingkan rata-rata sektor industrinya, pergerakan harga sahamnya dalam jangka panjang juga lebih bagus. Hal ini karena EPS selain mengindikasikan kemampuan profitabilitas, juga menunjukkan besar kecilnya kemampuan perusahaan membagikan dividen. 

Perusahaan-perusahaan dengan EPS besar seperti BBCA BBRI TLKM tren harga sahamnya dalam jangka panjang lebih baik dan stabil, di mana setelah saham2 turun, harganya bisa naik lagi.

Sehingga dengan ukuran-ukuran fundamental tersebut, anda bisa lebih "mengabaikan" analisis teknikal dan lebih fokus pada analisa laporan keuangannya. 

2. Pilihlah saham yang konsisten membagi dividen 

Perusahaan yang konsisten membagikan dividen dengan ROE dan EPS besar, biasanya harga sahamnya juga tidak banyak mengalami fluktuatif. Beberapa contohnya bisa anda lihat saham: BBCA, SIDO, MYOR, ADMF dan lain-lain. 

Yap, perusahaan-perusahaan tersebut selalu rutin membagikan dividen dengan nominal relatif besar dan stabil, serta didukung kinerja fundamental yang cukup mapan. 

Dengan memilih perusahaan yang konsisten bagi dividen, anda tidak harus terlalu fokus melihat analisa teknikal, karena mau harga sahamnya naik atau turun, anda akan tetap dapat passive income dari dividen setiap tahun. 


3. Pilih perusahaan yang kinerjanya mapan 

Perusahaan dengan kinerja mapan, dan memiliki kriteria-kriteria seleksi seperti yang kita bahas di poin pertama, adalah perusahaan yang bisa anda fokuskan investasi jangka panjang, dengan lebih melihat analisa fundamental. 

Tapi kalau anda investasi pada perusahaan yang sahamnya naik hanya karena lagi booming atau ada sentimen positif. Atau anda investasi pada perusahaan yang baru growth, kemungkinan besar fluktuatif harga sahamnya akan jauh lebih tinggi. 

Sehingga perusahaan yang kinerjanya belum mapan di Bursa, anda mungkin harus lebih sering cross check analisa teknikalnya juga. 

4. Analisa tambahan: Valuasi saham 

Untuk tambahan analisa, anda bisa melakukan analisa valuasi saham jika ingin 100% fokus di analissi fundamental. Beberapa valuasi saham sederhana yang bisa anda gunakan adalah rasio PER dan PBV. Pelajari juga: Valuasi Saham: Price Earning Ratio & Price to Book Value. 

Valuasi saham berguna untuk melihat mahal murahnya saham berdasarkan fundamental. Kalau di analisa teknikal, anda bisa mengetahui saham mahal atau murah melalui analisis grafiknya. 

Tapi kalau anda tidak menggunakan analisa teknikal, anda tidak akan bisa mengetahui apakah saham sudah murah atau masih mahal, kecuali anda menggunakan analisa valuasi saham.

Jadi analisa valuasi saham bisa menjadi pelengkap analisis fundamental, khususnya buat anda yang memang 100% tidak menggunakan analisis teknikal sama sekali.   

ANALISIS TEKNIKAL UNTUK INVESTOR SAHAM 

Itulah beberapa tips investasi saham hanya dengan analisis fundamental tanpa memperhatikan analisa grafik saham sekali. Pelajari juga praktik2 dan full strategi analisis fundamental disini: Ebook Analisis Fundamental Saham Pemula - Expert. 

Tapi memang ada baiknya, setidaknya anda melakukan sedikit analisis teknikal dalam investasi. Banyak investor pemula yang terinsiprasi dari Lo Kheng Hong yang selalu menggunakan analisa fundamental penuh ketika akan investasi.  

Investor kawakan di Indonesia seperti Lo Kheng Hong mungkin saja melakukan investasi saham full dengan analisa fundamental. Tapi masalahnya anda bukanlah Lo Kheng Hong (LKH). LKH selain memiliki duit jumbo, beliau juga memiliki banyak koneksi dengan emiten2 di Indonesia. Secara pengetahuan fundamental, tentu saja beliau lebih mumpuni daripada kita. 

Kalau anda investor saham, bukankah lebih nyaman kalau anda juga mengetahui pergerakan harga sahamnya. Toh, analisa teknikal untuk investor itu hanya sebagai pelengkap. Anda tidak butuh waktu lama untuk cross check analisa teknikal sebelun investasi. 

Untuk investor, analisa teknikal berguna untuk melihat likuid tidaknya saham, supaya anda bisa menerapkan strategi diversifikasi risiko. Karena kalau semua modal anda masukkan untuk investasi di saham yang tidak likuid, risikonya besar juga. 

Selain itu, analisa teknikal juga berguna untuk melihat tren dan momentum, terutama buat yang mau nabung saham. Di pos ini kita sudah pernah membahasnya: Perlukah Analisis Teknikal untuk Investor Saham? 

Jadi investasi saham ideal menurut pengalaman saya pribadi, adalah dengan mengkombinasikan analisa fundamental sebagai analisa utama, dan analisa teknikal sebagai analisa pelengkap.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.