Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Pengertian & Rumus Long Term Debt to Equity Ratio

Dalam analisis fundamental, menganalisa kesehatan struktur utang sangat diperlukan. Karena utang perusahaan yang sehat juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan. 


Jadi kita perlu melakukan analisa struktur modal, yaitu membandingkan komposisi utang dengan ekuitas. Salah satu rasio yang bisa digunakan adalah Debt to Equity Ratio. Kita sudah pernah bahas disini: Debt To Equity Ratio yang Bagus

Utang (kewajiban) di laporan keuangan perusahaan bisa dibedakan menjadi dua, yaitu utang jangka pendek (dibawah 1 tahun) dan utang jangka panjang (diatas 1 tahun). 

Kemampuan perusahaan untuk menutup atau melunasi kewajiban jangka pendeknya (likuiditas) berguna untuk melihat kemampuan likuiditas jangka pendek. 

Namun sebagai investor, jangan lupa untuk menganalisa solvabilitas perusahaan, yaitu melihat kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka panjangnya. 

Karena kewajiban jangka panjang yang terlalu besar akan berbahaya untuk perusahaan. Kewajiban jangka panjang yang tidak dikontrol ibarat bom waktu. 

Jika kewajiban jangka panjang terlalu besar, dan perusahaan tidak mampu melunasi saat jatuh tempo, hal ini akan berbahaya untuk kelangsungan bisnis perusahaan (risiko pailit / gagal bayar utang).

Salah satu rasio untuk menganalisa struktur utang jangka panjang perusahaan adalah Long Term Debt to Equity Ratio. Selanjutnya kita singkat dengan LTDER. Berikut rumusnya:

Long Term Debt to Equity Ratio

Cara membaca  Long Term Debt to Equity Ratio:

Semakin kecil LTDER, maka solvabilitas perusahaan semakin bagus, karena itu artinya perusahaan memiliki utang jangka panjang yang relatif lebih kecil dalam pendanaannya, sehingga meminimalkan risiko gagal bayar utang jangka panjang. 

Untuk melihat sehat tidaknya LTDER anda bisa melihat dari dua hal. Pertama, rasio LTDER berada dibawah 0,5 kali atau dibawah 50%. Itu artinya, pendaaan dari utang jangka panjang lebih kecil dibandingkan ekuitas. 

Kedua, membandingkan dengan sektor industri sejenis. Jika LTDER perusahaan berada dibawah rata-tara sektor industrinya, dapat dikatakan solvabilitas perusahaan relatif bagus dibandingkan perusahaan di sektor industrinya. 

Sekarang kita akan langsung masuk pada contoh cara menghitung Long Term Debt to Equity Ratio. Kita gunakan contoh laporan keuangan PT Indofood Tbk (INDF). Berikut nilai rasio LTEDR INDF selama dua tahun: 

Contoh Long Term Debt to Equity Ratio

Pada LTDER INDF diatas, bisa kita lihat nilainya selama 2 tahun stabil, yaitu LTDER-nya sebesar 0,17 kali atau 17%. Artinya, utang jangka panjang INDF hanya sebesar 17% dari ekuitas totalnya. 

Secara analisa fundamental, kita sudah bisa melihat bahwa LTDER INDF berada pada rasio yang aman, karena nilai utang jangka panjangnya masih jauh lebih rendah dibandingkan ekuitas total. 

Artinya, INDF memiliki manajemen utang yang baik. Dengan utang jangka panjang yang lebih terkontrol, INDF dapat meminimalkan risiko gagal bayar jangka panjang, yang berdampak pada pailit. 

Catatan: Untuk mencari utang jangka panjang, anda bisa lihat pada laporan posisi keuangan (neraca), pada bagian liabilitas / kewajiban jangka panjang. Sedangkan nilai ekuitas, bisa anda ambil total ekuitas di laporan posisi keuangan atau laporan perubahan ekuitas di saldo akhir.

Lalu, apa contoh perusahaan yang LTDER-nya tidak aman? 

Jika ada perusahaan yang punya nilai utang jangka panjang sama atau bahkan lebih besar daripada nilai ekuitasnya, maka struktur utang perusahaan harus anda waspadai. Apalagi kalau anda memasukkan total utang (jangka pendek dan jangka panjang), maka utang perusahaan akan jauh lebih besar lagi. 

Waspadai juga jika perusahaan memiliki ekuitas total negatif, karena ekuitas negatif menunjukkan bahwa perusahaan selama beberapa tahun tidak dapat menghasilkan profit, sehingga berpengaruh pada ekuitasnya. 

Ketika perusahaan tidak menghasilkan profit (rugi bersih), maka perusahaan tidak memiliki kecukupan modal untuk melunasi utang-utangnya, sehingga utang jangka panjang berpotensi menjadi 'bom waktu' bagi perusahaan. Baca juga: Analisis Fundamental: Ekuitas Negatif.  

Ada beberapa contoh perusahaan yang ekuitasnya negatif, seperti PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). Anda bisa perhatikan rasio LTDER AISA berikut: 


Nilai utang jangka panjang AISA dua kali lebih besar dibandingkan utang jangka pendeknya. Namun ekuitas total AISA negatif. Contoh lainnya, anda bisa perhatikan saham PT Express Group Tbk (TAXI) yang ekuitasnya negatif: 


Dengan utang jangka panjang sekitar Rp219.800.559.000, namun ekuitas totalnya minus, hal ini juga berbahaya bagi perusahaan. TAXI beberapa kali juga sempat menghadapi masalah terancam gagal bayar / pailit, karena struktur utangnya yang relatif besar, namun tidak diimbangi dengan ekuitas yang sehat. 

Itulah pengertian dan  Rumus Long Term Debt to Equity Ratio serta contoh cara menginterpretasikan LTDER dalam analisa fundamental. 

Dalam analisa struktur utang, anda bisa tambahkan juga analisa2 seperti Debt to Equity Ratio (DER), Rasio Utang Jangka Panjang/ Fixed Asset. Semoga pos ini bisa menambah pengetahuan dan cara-cara melakukan analisa fundamental pada laporan keuangan perusahaan.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.