Website edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, investasi saham, analisis saham dan strategi trading.

Analisa Teknikal Saham: Lower High Lower Low

Ada banyak strategi analisis teknikal untuk melihat kecenderungan penurunan tren lanjutan harga saham. Salah satu analisis simpel yang bisa anda gunakan adalah dengan melihat support dan resisten pada suatu grafik dengan time frame tertentu.

Di pos ini, saya akan menjelaskan cara membaca analisis teknikal untuk memprediksi saham yang akan koreksi / turun, yaitu dengan analisis: Lower high lower low. Apakah itu? 

Lower high loer low mengacu pada titik-titik support resisten yang ada pada grafik. Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, lower high lower low ini artinya harga saham yang terus membentuk harga resisten yang semakin rendah, dan harga support yang juga semakin turun. Sebagai ilustrasinya, perhatikan tabel dibawah ini: 

Ilustrasi lower high lower low saham

Pada tabel diatas tampak bahwa harga saham semakin jauh meninggalkan titik support dan resisten yang mula-mula, yaitu support 5.000 dan resisten 6.000. Ini menunjukkan bahwa harga saham berada dalam fase downtrend. Bagaimana dengan penerapannya di grafik? 


Perhatikan lagi pergerakan saham diatas, terutama setelah mencapai titik puncaknya. Sudah?

Pada grafik diatas (tren 1 tahun), kita bisa melihat ciri-ciri lower high lower low ini biasanya akan diawali dengan tren saham yang naik. Kemudian setelah mencapai titik puncak resisten tertentu, saham mulai koreksi. 

Kemudian, harga saham sudah tidak memiliki tenaga untuk naik lebih tinggi dari titik resisten tertingginya pertama, serta tidak kuat untuk bertahan di supportnya yang paling tinggi, sehingga harga saham perlahan membentuk harga-harga yang lebih rendah. Itulah pola lower high lower low. 

Jadi inilah pentingnya anda menganalisis tren. Analisis tren harus anda lakukan paling tidak minimal 6 bulan - 1 tahun. Dengan melihat tren dengan time frame yang agak panjang, anda bisa melihat kecenderungan pola harga saham. Contohnya seperti grafik diatas, kalau anda menemukan pola lower high lower low, maka anda harus menghindari sahamnya. 

Sebagai intraday trader, anda mungkin masih bisa memanfaatkan profit dari adanya fluktuatif karena dalam tren turun ini tetap saja saham tersebut ada reboundnya. 

Tapi pola lower high lower low ini akan sangat berbahaya untuk seorang swing trader, apalagi trader jangka menengah (anda yang suka hold saham diatas 1 minggu), karena pola ini menunjukkan bahwa harga saham akan turun selanjutnya. 

Nah, itulah contoh analisa lower high lower low. Kalau nggak percaya, coba anda cek grafik2 saham yang awalnya uptrend, lalu membentuk lower high lower low 2-3 kali, biasanya harga saham akan cenderung turun setelahnya. 

Masih ada banyak pola untuk melihat kecenderungan penurunan tren saham, dan sebaliknya, pola2 untuk melihat / memprediksi harga saham yang akan naik. Anda bisa mempelajari analisis teknikal lengkap beserta praktiknya disini: Praktik Analisis Teknikal Saham.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.