Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

Dua Pelajaran Berharga tentang Harga Saham

Setiap kali anda trading, menentukan posisi beli dan jual, anda pasti selalu melihat fluktuatif harga saham. Ketika mengamati fluktuatif harga saham, ada dua hal penting yang harus anda pahami, dan bahkan anda praktikkan.

Dua pelajaran berharga ini sangatlah simpel, tapi kedua hal ini akan sangat menentukan keputusan anda dalam trading saham. Dan dua hal ini juga akan menentukan psikologis anda dalam trading saham. Berikut kedua hal yang perlu anda ketahui tentang harga saham:

1. Tidak ada harga saham yang naik terus

Anda pasti paham kalau harga saham tidak akan naik terus, namun kenyataannya, banyak sekali trader yang melupakan fakta ini. Trader sering mengejar saham2 yang sudah naik, dan lupa kalau saat itu ada banyak saham yang sedang diskon. 

Perlu anda ketahui, saham di sektor apapun pasti tidak akan naik kencang terus. Akan ada waktunya untuk koreksi, dan stagnan. Ada waktunya saham2 di sektor tertentu stagnan, ada waktunya saham2 di sektor lain akan booming. 

Sebagai contoh, tahun 2014 saham properti dan konstruksi naik tinggi-tingginya dan saham batu bara lesu. Tahun 2016, saham-saham properti justru bergerak stagnan dan saham2 batu bara yang sudah undervalued mulai 'unjuk gigi'. 

Jadi kalau anda menemukan saham yang sudah naik tinggi, atau saham2 yang sudah overvalued, maka lebih baik tidak perlu mengejar saham2 tersebut dan carilah saham2 yang masih murah

2. Harga saham yang tidak selamanya turun terus

Harga saham yang turun juga tidak akan selamanya turun terus. Harga saham yang turun pasti akan kembali diborong oleh trader karena saham tersebut ibarat barang diskon. 

Apalagi kalau saham tersebut adalah saham yang perusahannya bagus, sahamnya likuid. Maka, itu sebenarnya adalah peluang anda untuk membeliny di harga bottom. 

Sebagai contoh, tahun 2017 saham ASII yang sempat turun sampai ke level 7.600 setelah sebelumnya mencapai harga 8.800, pada akhirnya ASII bisa balik lagi sampai ke 8.300. 

Tapi untuk poin kedua ini, ada sedikit pengecualian. Hal ini berlaku apabila anda membeli saham perusahaan yang 'jelas', dan sektor usahanya juga jelas, ada prospeknya. 

Kalau anda beli saham perusahaan yang nggak jelas, maka mungkin harga sahamnya akan cenderung turun terus dan di satu titik tertentu harganya mungkin akan sideways dan nggak balik naik lagi. 

Contohnya, masih ingat saham SIAP? SIAP yang harga sahamnya anjlok dari 400-an ke 180 setelah terkena kasus, harganya ternyata terus turun sampai gocap alias Rp50 dan sampai saat ini tidak ditradingkan lagi. Jadi, kalau anda mau beli saham diskonan, mending beli saham yang pasti-pasti saja (baik secara teknikal, likuiditas maupun prospek usahanya).

Nah, dua prinsip ini harus anda praktikkan saat anda melakukan analisis saham. Kedua prinsip ini akan mengarahkan anda, agar anda tidak mudah terjebak membeli saham yang kelihatannya menarik, padahal saham tersebut tidak sebagus yang anda bayangkan. Dan mengarahkan pada anda untuk mencari saham-saham yang potensial. 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.