Blog edukasi saham, ekonomi makro, rekomendasi, analisis saham dan strategi trading.

IHSG 2015 vs IHSG Krismon 1998 (Pasar Ternyata Lebay)

El Heze
Pernahkah Anda bertanya-tanya:

"Kenapa ya laba perusahaan cuma turun 5% tapi harga sahamnya bisa anjlok sampai 10%?"

"IHSG kok turunnya ekstrem banget ya Pak?" Apa seburuk itu kondisi negara kita?"

Kalau Anda baca judul postingan saya diatas: "Pasar Ternyata Lebay", maka itulah jawabannya. Untuk memperkuat bukti yang saya katakan, mari kita bandingkan IHSG tahun 2015 vs IHSG saat Krisis Moneter 1998.

Pergerakan IHSG 2015 diwarnai dengan fluktuasi dan kejutan yang tak terduga. Tahun 2014, IHSG berhasil menembus rekor 5.200. Analis, pelaku pasar, broker saham langsung optimis IHSG bakal mencapai 6.000 sampai akhir tahun 2015. Sampai Bulan April 2015, IHSG sudah berhasil menembus 5.400. Tapi apa yang terjadi kemudian?

IHSG malah diwarnai dengan aksi profit taking yang luar biasa. Lihat penyebab dan tren penurunan IHSG 2015 di sini: Pasar saham Susah Ditebak. IHSG bahkan turun sampai 4.033 harga terendahnya pada tanggal 29 September 2015. Pada saat IHSG sedang strong downtrend, banyak analis, pelaku pasar yang khawatir kalau2 kondisi negara kita bakal mengulang krisis moneter 1998. Apalagi, Rupiah saat itu mencapai Rp14.000. Ketakutan pasar terlihat jelas dari pelaku pasar yang terus menjual sahamnya, sampai IHSG jatuh ke level 4.200. 

Ketakutan pelaku pasar ini, bahwa tahun 2015 akan mengulang 1998 tampak dari psikologis mereka yang tercermin dari tren IHSG. Lantas, apakah benar demikian adanya? Kalau saya pribadi, saya nggak latah dulu menanggapi semua ini. Kalau ingin berpendapat jangan ikut2-an, tapi lihatlah fakta dan data yang ada. 

Sebenarnya saya pribadi bertanya-tanya dalam hati: "apa sih yang menyebabkan pasar kok bisa cemas sampai seperti itu. Sampai menghubung-hubungkan IHSG 2015 dengan Krismon 1998?" Dan ternyata memang itu tidak terbukti... Kalau tidak percaya, kita lihat perbandingan data dan fakta yang ada (ekonomi Indonesia tahun 1998 Vs 2008 Vs 2015) dibawah ini.


Lihat, terutama perbandingan 1998 dan 2015. Kalau dibandingkan, sebenarnya tahun 2015 masih jauh, jauh dan jauh lebih baik ketimbang tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi 1998 sampai -13,10%, tahun 2015 masih 4,67%.

Inflasi tahun 1998 sampai masuk pada inflasi berat (82,4%), pada 2015 inflasi "hanya" 7,26%. Tahun 1998, rasio utang pemerintah sampai 100%, tahun 2015 24,70%. Nilai tukar rupiah tahun 1998 sampai 16.000 sedangkan pada 2015 "hanya" 14.000. Secara garis besar, tahun 2015 masih jauh lebih baik ketimbang 1998.

Jadi, ketakutan pelaku pasar dengan menjual saham secara besar2-an karena menyamakan 2015 dengan 1998 boleh saya katakan: pasar lebay. Karena dilihat dari data dan fakta yang ada, ternyata tahun 2015 masih jauh lebih baik.

"Jadi, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari semua ini?"

Pelajaran utama yang bisa Anda ambil adalah jangan latah dalam merespon berita2 yang ada di pasar modal terutama jika sifatnya masih opini. Sebelum menyimpulkan sesuatu, analisislah dengan data dan fakta yang ada, jangan sekedar ikut2-an. Tapi sekalipun jangan latah, kita sesungguhnya nggak bisa melawan trend. Ingat kata2 bijak dalam analisis teknikal: Never Fight With Trend (jangan pernah melawan tren). Sekalipun saya bilang: jangan latah, tapi apakah Anda bisa melawan tren pergerakan IHSG? 

Anda mungkin bertanya: "Kalau jangan latah, berati saat pasar lagi bearish 2015 kemarin, saya harus beli donk bukan jual?"

Tidak bukan seperti itu maksud saya. Maksud saya: supaya Anda jeli dalam melakukan analisis pasar. Bukan sekedar ikut2-an menjadi latah tanpa didasari fakta yang jelas. Tapi sekali lagi, kita memang tidak bisa melawan trend.

"Lalu saya harus bagaimana"?

Sekarang saya beri ilustrasi: posisiskan diri Anda di tahun 2015 saat pasar sedang strong downtrend, kemudian Anda masuk pasar dengan membeli saham. Maka, yang terjadi kemungkinan besar adalah Anda akan rugi karena harga saham akan turun terus. Jadi, mau tidak mau, Anda harus mengikuti tren yang ada. Kalau Anda melawan, Anda pasti kalah. Buktinya, saat pasar sedang strong downtrend, ada saja trader yang berani masuk pasar. Hasilnya, harga sahamnya malah turun terus dan rugi. Namun, sebagai trader Anda harus mampu menganalisis kapan saat masuk dan keluar pasar. 

Kalau Anda trading di pasar modal, maka Anda harus tau kapan waktunya BUY, SELL atau WAIT AND SEE. Pada saat kondisi pasar sedang kacau, keputusan yang tepat adalah wait and see. Anda baru masuk pasar setelah kondisi pasar mulai kondusif.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan. Komentar yang bersifat promosi, link aktif TIDAK AKAN DITAMPILKAN.